SURYA.co.id – Nama YouTuber Willie Salim kembali jadi bahan perbincangan panas di jagat media sosial.
Kreator yang selama ini dikenal lewat konten giveway, bagi-bagi uang, dan aksi sosial mendadak disorot bukan karena kebaikannya, melainkan tudingan bahwa konten-kontennya hanyalah settingan belaka.
Isu ini mencuat setelah seorang pria bernama Risky, yang mengaku pernah terlibat langsung sebagai talent, membongkar proses di balik layar konten giveaway Willie Salim.
Tuduhan tersebut membuat publik bertanya-tanya, apakah konten yang selama ini menghibur itu murni aksi sosial, atau sekadar rekayasa demi klik dan views?
Kini, Willie Salim akhirnya buka suara dan memberikan klarifikasi terbuka.
Menanggapi tudingan konten settingan, Willie Salim tidak sepenuhnya menampik bahwa ada proses pengaturan dalam pembuatan konten.
Namun, ia menekankan bahwa pengaturan tersebut bukan untuk menipu publik, melainkan bagian dari estetika dan teknik bercerita.
"Aku jarang menanggapi isu, tapi karena ini sudah jadi konsumsi publik, aku merasa perlu meluruskan beberapa hal dengan kepala dingin," ujar Willie Salim melalui unggahan di Instagram @willie_27, dikutip SURYA.co.id, Minggu (25/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa dunia konten digital memiliki format tersendiri agar cerita dapat tersampaikan dengan baik.
"Di dunia konten, ada yang namanya storytelling, dramatization, dan re-enactment. Itu adalah format hiburan untuk menyampaikan cerita, bukan niat untuk menipu atau merugikan siapa pun."
Menurut Willie, pengaturan sudut kamera, alur kejadian, hingga pengulangan adegan adalah hal lazim dalam produksi konten.
Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut berbeda dengan tidak menepati janji kepada orang yang terlibat.
"Satu prinsip yang aku pegang: aku tidak pernah berniat membohongi soal hadiah atau merugikan orang. Kalau dalam perjalanan ada perbedaan antara yang disampaikan di konten dan yang terjadi di lapangan, itu jadi bahan evaluasi buat aku."
Willie juga menyebut bahwa konten yang kini ramai dipersoalkan merupakan video lama.
"Konten yang banyak dibahas merupakan konten di tahun 2023, dan itu bagian dari proses belajar aku," tegasnya.
Kontroversi Willie Salim membuka kembali perdebatan lama soal batas antara realita dan rekayasa di media sosial.
Tidak semua konten berada di kutub dokumenter murni atau fiksi total.
Banyak kreator bergerak di wilayah abu-abu, menggabungkan kejadian nyata dengan pengemasan cerita agar lebih menarik.
Dalam konteks ini, konten borong toko atau giveaway kerap disusun dengan alur dramatik, pertemuan “tak sengaja”, dialog yang terkesan spontan, hingga momen emosional yang sudah diarahkan.
Bagi kreator, ini disebut storytelling.
Namun bagi sebagian penonton, hal ini bisa terasa sebagai penipuan jika ekspektasi mereka adalah keaslian penuh.
Nama Willie Salim semakin disorot setelah Risky muncul sebagai bintang tamu di kanal YouTube Denny Sumargo.
Risky mengaku mengenal asisten Willie dan ditawari untuk terlibat dalam konten.
Ia kemudian muncul dalam salah satu video Willie Salim dengan alur mencari pohon pisang, berperan sebagai pengemudi ojek online yang sedang menunggu pesanan.
"Menurut saya settingan karena awalnya kita perjanjian dulu sama dia. (Perjanjian) saya sama pihak orang yang kerja di Willie," kata Risky, dikutip SURYA.co.id dari tayangan youtube Denny Sumargo.
Risky menjelaskan bagaimana adegan tersebut disusun.
"Caranya duduk di motor diam, Kak Willie nyamperin. Seolah lu lagi narik disamperin sama Willie. Seolah-olah ketemu mendadak."
Dalam video, Willie disebut menawarkan uang Rp 2 juta.
"Awalnya bilang, 'Mas cariin saya pisang sama pohonnya kalau bisa saya kasih 2 juta'," jelas Risky.
Uang tersebut memang diterima Risky di depan kamera.
"Dikasih ke saya duitnya, saya terima. Pas salaman saya disuruh bilang jangan lupa follow IG Willie Salim."
Namun setelah proses pengambilan gambar selesai, uang itu diminta kembali.
"Duitnya kita kasih dia lagi. Diambil timnya."
Sebagai gantinya, Risky mengaku menerima bayaran Rp 500 ribu dari tim Willie Salim.
"Kok gopek, ya udah. Saya pikir dua juta beneran tapi alhamdulillah senang."
Pengakuan ini memicu reaksi beragam dari warganet.
Sebagian merasa kecewa dan menganggap konten Willie Salim sebagai bentuk penipuan publik.
Namun, tak sedikit pula yang membela dengan alasan konten media sosial memang ditujukan sebagai hiburan.
Ada yang membandingkannya dengan film atau sinetron, penonton tahu ada skenario, tapi tetap menikmati ceritanya.
Di sisi lain, ada pula yang menilai bahwa label “aksi sosial” menuntut standar kejujuran yang lebih tinggi dibanding sekadar konten hiburan.
Willie sendiri mengaku terbuka terhadap kritik, namun mengingatkan adanya batas.
"Aku terbuka terhadap kritik. Tapi ada satu batas yang menurut aku tidak boleh dilewati: ketika kritik berubah menjadi doxxing, penyebaran data pribadi, atau tindakan nyata mendatangi rumah seseorang hingga membuat orang merasa terancam dan tidak aman di ruang hidupnya sendiri. Itu bukan lagi kritik, itu sudah membahayakan orang lain."
Di tengah kontroversi ini, Willie Salim menegaskan fokusnya tetap pada karya dan dampak positif.
"Beberapa tahun terakhir fokus aku berkarya adalah menghibur sekaligus memberi dampak positif, lewat konten sosial, bantuan, dan hal-hal yang bermanfaat."
Ia pun memilih untuk melanjutkan karyanya.
"Aku memilih fokus berkarya dan melanjutkan hal-hal yang bermanfaat."
Sementara untuk isu sensitif, ia menegaskan akan menempuh jalur profesional.
"Untuk hal-hal yang bersifat sensitif, aku mengikuti proses yang berlaku secara profesional."
Kontroversi Willie Salim akhirnya mengarah pada satu pertanyaan besar bagi penonton media sosial, apakah kita menonton untuk mencari kebenaran mutlak, atau sekadar mencari kesenangan?