SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Derby Sumsel Pegadaian Championship 2025/26 menjadi laga paling berat dalam karier Muyassir alias Acil Kuba. Kiper U21 Sriwijaya FC itu menjalani debut sebagai starter di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Sabtu (24/1/2026), namun harus menerima kenyataan pahit, kebobolan empat gol, cedera kaki, hingga hujatan suporter sendiri.
Kepercayaan besar diberikan pelatih kepala Sriwijaya FC, Budi Sudarsono kepada kiper kelahiran Langsa, Aceh, 14 September 2005 tersebut. Namun laga prestisius melawan Sumsel United berubah menjadi mimpi buruk bagi Acil Kuba yang hanya mampu bertahan selama 68 menit sebelum ditarik keluar karena cedera.
Empat gol Sumsel United bersarang ke gawang Sriwijaya FC lewat Rachmad Hidayat (menit ke-10, 61) serta Juninho Cabral (menit ke-22, 29). Sepanjang laga, Acil Kuba tak hanya berjibaku dengan serangan lawan, tetapi juga harus menahan tekanan mental akibat cacian suporter yang kecewa.
Penderitaan kiper setinggi 180 cm itu berakhir di menit ke-68. Ia terjatuh menahan nyeri dan harus dibopong keluar lapangan oleh rekan setim dan tim medis. Posisi Acil Kuba kemudian digantikan kiper senior Rangga Pratama. Namun hingga laga usai, Sriwijaya FC kembali kebobolan satu gol tambahan lewat Juninho Cabral pada menit ke-90+1. Skor telak 5-0 menutup derby untuk kemenangan Sumsel United.
Meski debutnya berakhir pahit, Acil Kuba tetap mensyukuri kesempatan yang ia dapatkan.
“Alhamdulillah bisa tampil debut di tim Sriwijaya FC musim ini meski dalam kondisi begini,” ujarnya kepada Sripoku.com sambil menahan rasa sakit di kakinya.
Dengan nada lirih, Acil Kuba juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Palembang dan suporter Sriwijaya FC.
“Saya belum puas dengan debut saya. Saya minta maaf kepada semua suporter dan masyarakat Palembang. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, mungkin takdirnya berkata lain,” katanya.
Lebih jauh, Acil Kuba mengungkap realita pahit yang tengah dialami para pemain Sriwijaya FC. Ia mengaku harus memikul beban berat bersama Rangga Pratama karena tim sudah lama tidak memiliki pelatih kiper.
“Jujur kami tidak punya pelatih kiper. Sudah lama. Latihan seadanya, kadang latihan mandiri. Bahkan latihan pun tidak rutin. Itu yang mungkin jadi kendala pemain,” ungkapnya.
Padahal, secara pengalaman, Acil Kuba bukan nama sembarangan. Ia pernah tampil di berbagai ajang usia muda seperti Soeratin Regional dan Nasional 2022, Popda Aceh, Liga Sentra Indonesia 2023, hingga Elite Pro Academy Liga 1 U20 PSBS Biak 2024/25. Prestasinya pun mentereng, di antaranya Juara 2 Piala Soeratin Aceh U17 2021 dan Juara 1 Liga Sentra Indonesia Cirebon 2023.
Di awal musim Pegadaian Championship 2025/26, Sriwijaya FC sebenarnya memiliki empat kiper. Namun satu per satu pergi. Geri Mandagi belum kembali ke tim karena masalah tiket dan gaji, sementara Muhamad Zaenuri Azhar (Ajay) memilih mengundurkan diri. Kondisi ini membuat beban kiper yang tersisa kian berat.
Acil Kuba pun berharap suporter bisa lebih memahami kondisi tim.
“Pemain sudah capek dengan realita kehidupan tim seperti ini. Kami cuma butuh support dan respek,” ujarnya.
Kekalahan telak dari Sumsel United semakin menegaskan keterpurukan Sriwijaya FC. Klub yang pernah meraih double winner itu kini nyaris dipastikan terdegradasi ke Liga 3, namun tetap harus menyelesaikan kompetisi tanpa latihan memadai dan tanpa pematangan strategi.
Akibatnya, para pemain kerap tumbang di lapangan karena kram dan kalah fisik dari lawan yang jauh lebih siap. Derby Sumsel kali ini bukan sekadar soal skor, tetapi potret getir perjuangan Sriwijaya FC yang sedang bertahan di tengah krisis.
Baca juga: Sriwijaya FC Belum Persiapkan Laga Selanjutnya, Usai Dibantai Sumsel United 5-0
Sriwijaya FC yang kini masih terpuruk di dasar klasemen grup 1 wilayah barat Pegadaian Championship 2025/26 dengan mengantongi 2 poin.
Elang Andalas akan menjalani laga pamungkas putaran kedua bertandang menghadapi Adhyaksa FC Banten di Banten International Stadium, Serang, Kamis (29/1/2026) pukul 19:00 WIB.