SURYAMALANG.COM - Istilah “ngebalon Whip Pink” viral di media sosial usai kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah.
Banyak warganet mengira Whip Pink adalah obat terlarang, padahal berasal dari tabung gas dapur berisi nitrous oxide.
Gas ini lazim digunakan untuk membuat whipped cream, namun bisa berbahaya jika disalahgunakan.
Meski tampak biasa, efeknya bisa fatal jika dihirup tanpa pengawasan medis.
Dari sini, rasa penasaran publik pun bergeser: apa sebenarnya ngebalon Whip Pink, bagaimana efeknya bagi tubuh, dan mengapa praktik ini bisa berujung fatal?
Bahkan mirisnya lagi Lula Lahfah dituding sering menghirup whip pink.
Banyak yang terkejut ketika mengetahui bahwa benda yang diduga berbahaya itu ternyata bukan obat terlarang, bukan pula pil diet, melainkan tabung gas yang selama ini akrab di dapur, alat pembuat whipped cream.
“Pagi ini saya dapat banyak DM yang menanyakan soal ini. Awalnya saya kira obat diet atau semacamnya. Tapi setelah dicek, ternyata ini tabung untuk bikin whipped cream,” ujar dr. Dion Haryadi, PN1, CHC, AIFO-K, dalam penjelasannya di Instagram.
Tabung tersebut berisi nitrous oxide atau N2O, gas yang memang digunakan secara legal di dunia medis dan kuliner. Di dapur, gas ini berfungsi membuat krim mengembang dan menghasilkan busa yang lembut.
Di dunia medis, N2O dikenal sebagai anestesi ringan dan pereda nyeri. Namun, persoalan muncul ketika gas ini digunakan di luar fungsi aslinya.
“Tabung whipped cream ini sering disalahgunakan karena kandungan NO di dalamnya. Nitrous oxide punya efek sedatif ringan, bisa bikin tenang, sensasi melayang, dan sedikit euforia secara akut. Itu sebabnya sering disebut laughing gas atau gas tawa,” jelas dr. Dion.
Efek yang cepat dan singkat inilah yang kerap menipu. Banyak orang menganggapnya aman karena digunakan untuk makanan dan bahkan dipakai di rumah sakit.
Padahal, konteks penggunaannya sangat berbeda. Menghirup nitrous oxide secara langsung tanpa oksigen pendamping membuat tubuh kekurangan oksigen dalam waktu singkat.
Dampaknya tidak main-main. Mulai dari gangguan saraf seperti kesemutan, gangguan keseimbangan, hingga kerusakan persyarafan. Dalam kondisi tertentu, penyalahgunaan N2O juga dapat memicu gangguan mood, pingsan, dan hipoksia, kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen.
Yang sering luput dipahami publik adalah fakta bahwa nitrous oxide di dunia medis tidak pernah digunakan sembarangan.
“Saat dipakai sebagai anestesi, N2O selalu dicampur dengan oksigen, dosisnya diatur ketat, dan pasien dimonitor langsung oleh dokter,” tegas dr. Dion. Tanpa pengawasan dan tanpa oksigen tambahan, risiko gas ini meningkat drastis.
Popularitas “Whip Pink” di media sosial, dengan kemasan mencolok dan narasi seolah tak berbahaya, seakan menutupi risiko medis yang nyata. Sensasi melayang beberapa detik bisa dibayar dengan kerusakan saraf permanen, bahkan nyawa.
Whip Pink sendiri merujuk pada produk nitrous oxide (N2O) yang dipasarkan dengan visual mencolok. Dari tampilan media sosialnya, produk ini hadir dengan warna pink dominan, estetika playful, hingga konten yang terasa dekat dengan gaya hidup urban dan hiburan.
Bahkan di situs penjualannya, produk ini diklasifikasikan secara spesifik berdasarkan wilayah seperti Jakarta dan Bali, dua kota yang kerap diasosiasikan dengan pusat gaya hidup, hiburan, dan pesta.
Kronologi Lula Lahfah ditemukan meninggal dunia di apartemen kawasan Jakarta Selatan pada Jumat (23/1/2026).
Jasad Lula ditemukan petugas keamanan pukul 18.44 WIB.
Lula ditemukan tak bernyawa dalam kondisi telentang di tempat tidur berselimut putih.
Kamarnya pun terkunci dari dalam.
Kematian Lula pertama kali disadari ART, Asiah.
Dia merasa curiga karena Lula tidak memberi respon apapun saat berada di kamar.
Pasalnya Lula juga dalam kondisi tidak sehat.
Atas kekhawatiran itulah Asiah meminta pertolongan pada empat orang manajemen apartemen untuk membuka kamar.
Ketika dibuka, Lula ditemukan dengan kondisi mulut terbuka dan warna kebiruan.
"Tidak ada tanda penganiayaan," katanya.
Dekat posisi Lula, ditemukan pula sejumlah obat-obatan.
"Ditemukan obat-obatan sama surat rawat jalan RSPI," katanya.
Penemuan itu segera dilaporkan kepada pihak berwenang untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.
Berdasarkan surat kematian yang diterbitkan, Lula dinyatakan meninggal dunia pada pukul 19.20 WIB.
Saat ini, Satreskrim Polres Jakarta Selatan masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna menelusuri lebih jauh kronologi serta penyebab pasti kematian korban.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto turut memberikan penjelasan terkait beredarnya informasi kondisi tubuh Lula saat ditemukan, termasuk kabar adanya perubahan warna pada mulut dan lebam di beberapa bagian tubuh.
“Lebam itu kan bisa saja dari lebam mayat. Untuk memastikan akibat kematian harus lakukan otopsi,” kata Budi saat dihubungi terpisah, Jumat malam.
Pernyataan ini menegaskan bahwa penyebab kematian belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan medis lanjutan melalui proses otopsi.
Kini dalam hitungan jam, lini masa dipenuhi tanda tanya, spekulasi, dan asumsi yang berkembang liar tanpa kendali.
Nama Lula Lahfah menjadi salah satu topik paling banyak dibicarakan.
Sayangnya, rasa penasaran publik justru berbelok ke arah yang kelam.
Bukan tanpa sabab, pacar Reza Arap itu diisukan meninggal karena overdosis.
Hal itu terbukti karena kata kunci seperti "Lula Lahfah overdosis" hingga singkatan OD ramai dicari dan diperbincangkan.
Di tengah hiruk pikuk tersebut, satu pertanyaan terus bergema di ruang digital: "Lula meninggal karena apa"?
Setelah spekulasi beredar tanpa kendali, dokumen medis resmi akhirnya muncul ke publik dan menjadi jawaban atas simpang siur yang beredar.
Surat Keterangan Kematian bernomor 023/I/2026/SKK/MMC yang diterbitkan oleh Mardhiyah Medical Clinic menegaskan penyebab wafatnya Lula Lahfah.
Dalam dokumen tersebut, disebutkan bahwa Lula meninggal dunia akibat henti jantung (henti jantung henti nafas).
Fakta medis ini sekaligus menutup ruang bagi berbagai rumor yang sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial.
Surat tersebut ditandatangani langsung oleh dr. Rizki Nirwandhi Putra dan mencatat bahwa Lula dinyatakan meninggal dunia pada pukul 19.20 WIB.
Dengan demikian, isu yang mengaitkan kepergian Lula dengan penyalahgunaan obat-obatan, termasuk narasi "Lula Lahfah OD" dan "Lula Lahfah overdosis", dipastikan tidak berdasar.
Lula mengakui bahwa dirinya sudah sakit sejak lama bahkan sejak 2020 lalu.
"Tadi tiba-tiba susah banget buat nafas terus dada nyeri banget sampe ke RS, ngeri jantung gitu tapi pas diperiksa bersyukur banget ternyata gue asam lambung, tetep sih nyiksa sakitnya, tapi setidaknya jantung gue sehat sentosa," tulis Lula 8 Februari 2020 di akun Twitter (X) @lullipop dikutip Sabtu, 24/1/2026).
Tak cuma itu beberapa waktu lalu, Lula juga sempat mengeluhkan bahwa kondisi badannya kembali tidak sehat.
"Awalnya meriang dan sebadan-badan ngilu, sendi ngilu, dipegang aja ngilu, terus demam tinggi ternyata, terus perut aku keram banget, nafas aja sakit, akhirnya pas ke RS di cek aku infeksi bakteri," ucap Lula di instagram pribadinya @lulalahfah.
"Terus pas ditelusuri bakterinya dari urin, jadi aku ISK (Infeksi Saluran Kemih), aku emang punya riwayat ISK karena dulu suka nahan buang air kecil, nah aku bingung aku kok nggak ada gejala sama sekali ternyata karena aku kurang minum air putih makanya perut jadi keram" lanjut Lula.
Ia pun menceritakan selama ini memang kurang minum, sekalipun itu sehabis makan.
"Aku tu entah kenapa selalu lupa untuk minum, aku takut kalo minum air banyak takut pengen pipis disaat yang tidak tepat, contoh dijalan aku tiba-tiba kebelet tapi ternyata malah bikin ISK,"
"Perutku masih sakit banget jadinya tadi di CT scan, semoga aja hasilnya aman aman aja yaa, aamiin," tutup Lula.
Tak cuma sampai disitu, Lula bahkan lagi-lagi mengakui bahwa dirinya sedang sakit.
"Overthinking sampe GERD lalu makin overtinking karena takut meninggal," tulis Lula di akun Twitter dikutip Tribunbengkulu, Sabtu (24/1/2026).
(SURYAMALANG.COM/TRIBUNBENGKULU.COM/KOMPAS.COM/TRIBUNNEWS.COM)