TRIBUNNEWS.COM - Ledok Sambi Ecopark yang terletak di Jalan Kaliurang No. 2, Kecamatan Pakem, Sleman, D.I. Yogyakarta adalah destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan karena banyaknya pilihan kegiatan yang ditawarkan.

Manajer Pengembangan Bisnis, Adrian Adhya Hermanu (29), mengatakan bahwa Ledok Sambi memiliki lima unit bisnis, yaitu outbound, restoran, sewa tempat (lapangan dan aula), camping, dan wahana games (permainan).

Menurut Adrian, pasar yang tersedia sangat luas sehingga perlu dijangkau oleh Ledok Sambi dengan beragam unit bisnis tersebut.

"Dari perspektif kami, karena kita tahu pada zaman itu market kita luas. Jadi secara market, itu kita tidak bisa kalau cuma punya satu produk doang untuk mengarah semua market. Itu gak bisa," ujarnya kepada Tribunnews.com, Senin (26/1/2026).

Adrian mencontohkan restoran milik Ledok Sambi memiliki harga yang termasuk murah.

"Restoran kami kalau di daerah pariwisata harganya termasuk menengah ke bawah, murah. Memang kalau dibandingkan dengan angkringan, ya memang pasti lebih murah angkringan."

"Tapi kalau dibandingkan dengan restoran-restoran lainnya, apalagi di tempat wisata kita itu jauh lebih murah," ungkapnya.

Sementara itu, terkait harga outbound di Ledok Sambi justru lebih mahal dibandingkan sejumlah tempat lain.

Di Ledok Sambi, yang paling murah ialah outbound anak dengan harga Rp150 ribu per kepala dengan minimal peserta 20 orang.

"Di mana outbound provider lain banyak yang jualan 50 ribu-70 ribu per anak," tuturnya.

Kisaran harga menengah ke atas juga diterapkan Ledok Sambi untuk camping karena dipatok mulai dari 200 ribu hektare 900 ribu.

Baca juga: Wisata Jembatan Kaca di Karanganyar Berdayakan Warga Desa, Manfaatkan Potensi Keindahan Kebun Teh

Di sisi lain, Ledok Sambi bisa memiliki banyak unit bisnis karena memiliki lahan yang luas, sekitar 4 hektare. 

Kemudian, secara manajemen semua unit bisnis itu bisa dijalankan oleh Ledok Sambi.

"Mulai dari outbound, camping, dan segalanya itu semuanya memang bisnis yang masuk dalam kompetensi kami. Kita juga tahu market-nya sangat luas, ketika market-nya sangat luas, gak bisa itu hanya satu unit bisnis saja."

"Ketika satu unit bisnis dipaksa mengarah ke semua market, biasanya enggak cocok. Tetap saja nanti jatuhnya hanya satu market yang bisa menerima," terangnya.

Adrian menyatakan bahwa Ledok Sambi diibaratkan seperti melting pot atau kuali peleburan.

"Jadi satu wadah buat masak gitu, itu semua bumbu, semua bahan bisa masuk ke situ," tuturnya.

Ledok Sambi diharapkan bisa menjadi lokasi wisata yang berisi orang dari berbagai kalangan. 

"Sebenarnya sih tujuannya supaya seperti itu. Jadi bisa benar-benar diterima semua orang dan semua orang itu dapat sesuatu yang jadi tujuan mereka ke sana," paparnya.

Terkait harga tiket wahana permainan, camping, outbound, hingga sewa tempat dapat dilihat di laman ledoksambi.com dan Instagram @ledoksambiecopark.

LEDOK SAMBI - Ledok Sambi Ecopark, sebuah destinasi wisata yang terletak di Jalan Kaliurang No. 2, Kecamatan Pakem, Sleman, D.I. Yogyakarta, Selasa (27/1/2026). Ledok cocok dikunjungi untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, sahabat, komunitas, dan rekan kerja.
LEDOK SAMBI - Ledok Sambi Ecopark, sebuah destinasi wisata yang terletak di Jalan Kaliurang No. 2, Kecamatan Pakem, Sleman, D.I. Yogyakarta, Selasa (27/1/2026). Ledok cocok dikunjungi untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, sahabat, komunitas, dan rekan kerja. (Tribunnews.com/Muhamad Deni Setiawan)

Cerita Fasilitator

Terpisah, salah satu tim fasilitator menceritakan pengalamannya bekerja di Ledok Sambi di sela-sela outbound yang dilakukan oleh Tribunnews.com pada Selasa (27/1/2026).

Yosi Sugito (32) mengatakan bahwa dirinya mulai bekerja sebagai fasilitator di Ledok Sambi sejak tahun 2019.

Selama kurang lebih tujuh tahun bekerja sebagai fasilitator, Yosi mengungkapkan tantangan yang dihadapinya selama ini.

Misalnya, jika pada hari pelaksanaan outbound cuaca sedang tidak mendukung, entah terlalu terik atau hujan deras, dirinya harus memutar otak apakah acara masih bisa dilanjutkan dengan opsi lain atau acaranya diundur.

"Tapi itu satu banding seratus ya. Kita hanya penyesuaian aja ya, terhadap alam," ujar Yosi kepada Tribunnews.com, Selasa.

Sementara itu, menurutnya hal menyenangkan selama menjadi fasilitator adalah bisa bertemu banyak orang dari berbagai kalangan.

"Kita bisa sama-sama belajar, kita memfasilitasi rekan-rekan untuk beraktivitas menyelesaikan tantangan. Pun kami juga ikut belajar dari cara-cara teman-teman menyelesaikan (permainan)."

"Kadang-kadang malah di luar ekspektasi kami, kadang bisa lebih cepat ataupun dia bisa recovery dari kesalahannya menjadi sesuatu yang lebih baik," ungkapnya.

Dari situ, Yosi mengaku bisa belajar mengimplementasikan sesuatu yang dilakukan peserta terhadap permainan yang disajikan.

(Tribunnews.com/Deni)

Baca Lebih Lanjut
Sejarah Ledok Sambi Ecopark, Destinasi Wisata yang Asri di Jogja
Kampoeng Radja Tawarkan Wahana Terlengkap, Destinasi Keluarga Favorit di Kota Jambi
Wisata Ngargoyoso Waterfall di Karanganyar, Air Terjun yang Dekat Kota Solo, Ada Area Camping
Pilihan Paket Internet Hemat dari Kartu Halo, 50 GB Mulai Rp100 Ribu
Wisatata Ancol, Magnet Wisata Sore Hari di Jantung Kota Sarolangun
4 Rekomendasi Liburan di Malinau: Dari Wisata Keluarga hingga Petualangan Hidden Gem
Sensasi Seafood Tumpah di Kawasan Wisata Pangandaran, Makan Tanpa Piring
Beragam Wahana Air Atlantis Ancol sebagai Daya Tarik Rekreasi Keluarga di Jakarta
Antaranews
Seru! Cuma 15 Ribu, Bisa Rasakan Sensasi Terapi Ikan dan Berenang di Kolam Alami Kebon Camara Hejo
Wisata NTT, Liburan ke Flores dan Nikmati Sunrise dari Ketinggian dan Temukan Sensasi yang Beda