TRIBUNTRENDS.COM - Di balik dinginnya potongan es kue yang ia jajakan, tersimpan kehangatan mimpi seorang ayah untuk kelima buah hatinya. 

Namun, bagi Suderajat (50), aspal panas Kemayoran yang sudah ia akrabi selama tiga dekade kini terasa membeku. 

Bukan karena cuaca, melainkan karena luka trauma yang menghujam batinnya.

Pria paruh baya asal Bojonggede, Bogor ini harus menelan pil pahit kehidupan. 

Niat tulus mencari sesuap nasi justru berbuah fitnah keji. 

Ia dituduh oleh oknum berseragam aparat bahwa dagangannya terbuat dari spons sebuah tuduhan tak berdasar yang sempat disertai aksi kekerasan fisik.

Baca juga: Nasib Pilu Suderajat Penjual Es Gabus Viral, Tak Hanya Dicekoki Tapi Juga Dilempar Es Sampai Memar

Fitnah yang Mematikan Langkah

Meski hasil pengujian laboratorium telah membuktikan bahwa es kue miliknya layak konsumsi dan aman, bayang-bayang ketakutan telanjur menyelimuti benak Jajat. 

Sosok yang dulu gigih mengejar kereta subuh menuju Jakarta ini, kini hanya terdiam di rumah.

"Udah 30 tahunan. Tiap subuh berangkat, baliknya jam 5 sore naik KRL," kenang Jajat dengan tatapan kosong.

Kini, gerobak es kuelah yang merindukan tuannya. Trauma mendalam membuat Jajat enggan kembali ke jalanan, tempat di mana ia biasanya mampu membawa pulang Rp200.000 hingga Rp300.000 demi dapur yang tetap mengepul.

Baca juga: Akhir Pilu Si Pedagang Es Gabus: Suderajat Terima Motor dan Amplop Modal, Polisi Akui Salah Tuduh

Mimpi Anak-Anak yang Terpaksa Padam

Kisah Suderajat bukan sekadar tentang fitnah, tapi juga potret perjuangan pendidikan yang terhenti. 

Dari lima anaknya, empat di antaranya harus menyerah pada keadaan sebelum sempat menggenggam ijazah SMA.

Ekonomi yang kian mencekik membuat bangku sekolah menjadi kemewahan yang sulit dijangkau. 

Zaitun (18), anak ketiga Jajat, menjadi salah satu saksi bisu betapa kerasnya hidup. 

Ia harus berhenti tepat setelah lulus SMP karena ketiadaan biaya.

"Aku putus sekolah, tamat SMP ga lanjut SMA, karena biaya... Pengen banget (lanjut sekolah)," ungkap Zaitun dengan nada penuh harap.

Saat ini, tumpuan harapan keluarga tinggal berada di pundak si bungsu yang baru duduk di kelas 1 SD. 

Di tengah ketidakpastian ini, keluarga Suderajat hanya bisa berharap ada keadilan dan secercah cahaya untuk masa depan anak-anak mereka.

(TribunTrends.com/TribunBogor.com)

Baca Lebih Lanjut
Suderajat Penjual Es Kue Pilih Ganti Profesi, Trauma Setelah Difitnah dan Dianiaya Oknum Aparat
Kapok Difitnah dan Dianiaya, Penjual Es Kue Asal Bogor Pilih Ganti Profesi dan Berjualan di Rumah
Putus Sekolah Sejak Kelas 4, Idris Kembali Mengeja Huruf di Sekolah Rakyat Tana Toraja
NYAWA Balita 2 Tahun Tak Tertolong, Jasadnya Ditemukan Mengambang di Kolam Sebuah Vila di Jembrana!
Anak Usia 9 Tahun Lari Ketakutan Usai Dilecehkan Kakek 50 Tahun di Polman, Ibu Korban Lapor Polisi
Dulu Dapat Rp80 Ribu Sehari, Michael Mantan Manusia Silver Kini Jadi Model Profesional, Ibu Menangis
Ahmadi Pria Parangi Istri dan Anaknya di Polman Ditetapkan Tersangka Ancaman Penjara 5 Tahun
Dhena Devanka Bantah Jadi Pelakor Dina Olivia, Tegaskan Tak Kenal Anton Subowo: Ngaco
Jembatan di Kandis Ogan Ilir Putus, Warga Harus Pakai Tongkang Untuk Beraktivitas
Cerita Kulyadi Nelayan Natuna Kehilangan Pompong, Karam Usai Hantam Karang di Perairan Sekatung