Laporan Wartawan TribunMadura.com, Ahmad Faisol
TRIBUNMADURA.COM, BANGKALAN - Prioritas pendirian unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bangkalan, Madura, mulai bergeser untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat, bukan mengejar keuntungan semata.
Sebagaimana semangat SPPG Desa Arok, Kecamatan Burneh, Bangkalan, yang diresmikan meski hanya memproduksi sebanyak 1.500 porsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (30/1/2026).
Berdirinya SPPG Arok dengan tagline "Sehat dan Sejahtera" itu berada di bawah Yayasan Laili Izzatul Faiqoh, melengkapi puluhan unit dapur MBG yang telah beroperasi merata di 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Bangkalan.
Seluruh karyawan dan relawan merupakan warga sekitar.
Pemilik SPPG Arok, Subaidi mengungkapkan, pihaknya sengaja tidak merekrut warga dari luar desa sebagai karyawan atau relawan dapur MBG.
Hal itu bertujuan untuk memperluas lapangan keja dengan harapan mampu meningkatkan derajat ekonomi masyarakat setempat.
"Agar membantu perekonomian masyarakat Desa Arok, meski kami hanya memproduksi sebanyak 1.500 porsi untuk penerima manfaat. Biarlah nanti sambil berjalan, terpenting bisa membantu pendapatan masyarakat," ungkap Subaidi.
Dalam kesempatan tersebut, hadir unsur lengkap Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika), kepala desa setempat, perwakilan Dinas Kesehatan, Puskemas Burneh, tokoh ulama KH Mukaffi Cholil, hingga Dirut RSUD Syamrabu Bangkalan, dr Farhat Suryaningrat.
Baca juga: Demi Cegah Makanan Basi, SPPG Sumenep Wajibkan Dapur MBG Memasak setelah Pukul 00.00 WIB
"Total 30 relawan SPPG ini semuanya warga Desa Arok. Kami juga memprioritaskan produk lokal seperti kacang panjang yang menjadi produk unggulan masyarakat Desa Arok, termasuk beras. Minimal kami bisa mengakomodir sesuai SOP BGN (Badan Gizi Nasional)," pungkas Subaidi.
Seiring semakin bertambahnya jumlah unit SPPG di Kabupaten Bangkalan, diperlukan peningkatan pengawasan secara berkelanjutan berkaitan kualitas MBG.
Dengan harapan terjaminnya keamanan makanan, terjaganya pemenuhan gizi masyarakat, serta memastikan standar kebersihan dalam penyajian setiap menu MBG.
Data yang dihimpun TribunMadura.com dari Satgas MBG Pemkab Bangkalan, total jumlah SPPG di Kabupaten Bangkalan yang sudah running atau memiliki kepala dapur sebanyak 80 unit.
Baca juga: Hati Petugas SPPG di Bangkalan Meleleh, Banjir Surat Cinta Request Menu dari Siswa soal MBG
Sejumlah 60 unit SPPG di antaranya telah beroperasi di 18 kecamatan.
Dari jumlah tersebut, terdata baru 28 unit SPPG yang sudah mempunyai Surat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sementara sisanya masih berproses.
Kondisi itu memantik respons dari Dirut RSUD Syamrabu Bangkalan, dr Farhat Suryaningrat.
Ia mengusulkan, para tenaga kesehatan (nakes) di lingkungan puskesmas maupun rumah sakit bisa menjadi bagian dari penerima manfaat MBG.
"Ketika nakes mendapatkan MBG, maka bisa mengontrol kualitas pemenuhan gizi MBG yang diberikan kepada penerima manfaat. Sehingga kualitas MBG bisa terkontrol, di situlah perlunya pengawasan secara berkelanjutan melalui nakes selaku penerima manfaat," ungkap dr Farhat.
Baca juga: Kisah Anak Kuli Bangunan Jadi Siswa Sekolah Rakyat Jember, Senang namun Harus Menahan Rindu Keluarga
Meski bukan ahli gizi, namun dr Farhat turut mengikuti perkembangan urusan penyajian menu MBG.
Pada beberapa titik SPPG disebutnya sudah mampu menyuguhkan ketercukupan gizi dengan baik, namun di sejumlah titik masih ditemui permasalahan yang perlu diperbaiki.
"Di sinilah maksud saya, kenapa para nakes bisa masuk sebagai penerima manfaat. Sehingga memudahkan pengawasan kualitas pemenuhan gizi pada menu MBG," pungkasnya.