TRIBUNKALTENG.COM, PANGKALAN BUN - Arus Sungai Arut mengalir tenang pada Sabtu (31/1/2026). Di balik permukaannya, tersimpan kehidupan liar yang jarang tersentuh manusia. 

Salah satunya adalah buaya sapit atau sinyulong, satwa dilindungi yang kini menjadi objek penelitian pergerakan dan perilaku hidupnya.

Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut berlangsung di wilayah Sungai Arut, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), dengan melibatkan peneliti buaya dari Jambi serta pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Ini saya sedang di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, mas. Di daerah Sungai Arut untuk kegiatan penelitian. Buaya ditangkap, dipasangi alat pemancar, lalu dilepas kembali ke habitatnya,” ujar Muriansyah, Sabtu (31/1/2026).

Penelitian ini secara khusus menyasar buaya sapit atau sinyulong, yang diketahui masih mendiami kawasan sungai dan area bernilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV). 

Muriansyah menjelaskan, pihaknya diminta oleh perusahaan yang memiliki area HCV untuk membantu pengumpulan data pergerakan satwa tersebut.

“Kami diminta pihak perusahaan untuk mengumpulkan data pergerakan buaya di areal HCV. Dengan alat pemancar yang dipasang, pergerakan buaya bisa terpantau, sehingga perilaku dan pola kehidupannya bisa diketahui,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini, tim menargetkan pemasangan alat pemancar pada tiga ekor buaya, sesuai jumlah perangkat yang tersedia. Namun, proses penangkapan di lapangan ternyata tidak mudah.

“Rencananya tiga ekor, karena alat pemancarnya ada tiga. Tapi penangkapan buaya ternyata cukup sulit,” katanya.

Kesulitan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Selain gangguan satwa liar seperti biawak yang memakan umpan, aktivitas manusia di sekitar sungai juga cukup tinggi.

“Ada gangguan manusia, seperti aktivitas illegal mining, setrum ikan, dan lalu lintas sungai yang cukup padat,” ungkap Muriansyah.

Tim peneliti menggunakan model perangkap kayu terbaru hasil rancangan pihak dari Jambi. Perangkap ini dinilai ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan yang tersedia di lokasi.

“Ini model perangkap terbaru, bikinan pihak dari Jambi. Kelebihannya, bahan bisa didapat langsung di lokasi karena menggunakan kayu,” jelasnya.

Namun, metode ini juga memiliki risiko tersendiri jika diterapkan di sungai besar seperti Sungai Mentaya.

Baca juga: Anak Buaya Tersangkut Kail Pemancing di Basirih Hilir, BKSDA Pos Sampit Ingatkan Warga Lebih Waspada

Baca juga: Camat Pulau Hanaut Minta Warganya Waspada, Rencanakan Bentuk Tim Tanggulangi Konflik Buaya

“Kalau diaplikasikan di Sungai Mentaya, cukup berbahaya. Karena pembuatannya mengharuskan petugas terjun langsung ke air,” katanya.

Meski penuh tantangan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh tentang habitat, pergerakan, dan perilaku buaya sinyulong, sekaligus menjadi dasar pengelolaan konflik satwa dan manusia di wilayah sungai Kalimantan Tengah.

Di aliran Sungai Arut, upaya ilmiah itu terus berjalan sunyi, hati-hati, dan penuh kehati-hatian, demi menjaga keseimbangan antara alam liar dan aktivitas manusia. 

Baca Lebih Lanjut
Makan Kerupuk, Buaya Sungai Mancung Berisiko Ketergantungan dan Lebih Ganas
Film Buaya Riska Kapan Tayang? Ini Bocoran Jadwal Rilis dan Fakta Menariknya
Kisah Pak Ambo dan Buaya Riska Difilmkan, Angkat Mitologi 'Saudara Kembar' Tradisi Bugis
Ingat Buaya yang Doyan Makan Kerupuk di Desa Mancung Bangka Barat? Kades Ungkap Asal Muasalnya
Nasib Buaya Viral Makan Kerupuk di Bangka, Kades Ungkap Asal-usulnya, Dilempar Ayam Malah Tidak Mau
Penemuan Mayat Pria Tenggelam di Sungai Batanghari, Warga Pijoan Kabupaten Muaro Jambi Dibuat Geger
Olahraga Ternyata Bisa Bantu Kelola Depresi, Begini Temuan Peneliti
Detik
Menjelajah Keindahan Alam Jambi, Dari Danau Sipin hingga Telago Jando
Minum 2 Cangkir Cokelat Panas Bagus untuk Stem Cell, Ini Kata Peneliti
Detik
Ratusan rumah terendam banjir setinggi satu meter di Rawa Buaya Jakbar
Antaranews