BANJARMASINPOST.CO.ID - Pilu dirasakan satu keluarga setelah Sukri (46) warga Desa Bangga, Kelurahan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) meninggal dunia.

Diduga, Sukri tewas akibat dililit ular piton saat berada di kebun, Kamis (29/1/2026).

Disebutkan, Korban disebut hendak dijemput oleh sang istri setelah Magrib ketika peristiwa naas itu terjadi.

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Rabu (28/1/2026) malam dan sempat disiarkan langsung melalui akun Facebook milik Wiwin Wahidin.

Peristiwa tragis tersebut terjadi saat korban berada di kebun dan rencananya hendak dijemput usai waktu Magrib. 

Namun hingga waktu yang ditentukan, korban tidak kunjung kembali.

Baca juga: Syok Ular Piton 8 Meter Melilit Anaknya, Ayah Tebas sang Predator Itu Membabi Buta, Ini Nasib Korban

Pihak keluarga bersama warga kemudian melakukan pencarian dan menemukan korban dalam kondisi tidak bernyawa, sehingga menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.

Dia tewas setelah diterkam ular piton sepanjang 5 meter saat beristirahat di kebunnya. 

Sebagian tubuh korban sudah ditelan saat ditemukan keluarganya.

Korban pergi ke kebun sendirian. Korban kemungkinan sedang istirahat sore dan mau makan. 

Tiba-tiba diserang ular dan diterkam di bagian kepala.

Menurut keterangan keluarga, saat ditemukan ular tersebut sedang menelan korban. 

Saat itu mulut ular sudah sampai leher korban.

Ayah korban yang tiba di lokasi kemudian menebas tubuh ular tersebut. 

Korban yang sudah tidak bernyawa dievakuasi secara manual oleh warga dengan mengikat tubuh korban menggunakan pakaian.

Waspada Saat Berkebun

Ketua Evolux IDN Indonesia, Youssel Edbert Daniel Panggabean, mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kebun.

Ia menjelaskan, dugaan keterlibatan ular piton dalam kejadian tersebut cukup masuk akal jika melihat karakteristik ular piton di wilayah Sulawesi. 

Menurutnya, ular piton di dataran Sulawesi dan kepulauan utama dikenal memiliki ukuran tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan daerah lain.

“Ular piton di Sulawesi bisa berukuran sangat besar. Dalam kondisi tertentu, manusia dapat menjadi mangsa, terutama jika berada di habitat alaminya,” jelasnya.

Youssel menegaskan bahwa area kebun pada dasarnya merupakan bagian dari habitat satwa liar.

Oleh karena itu, potensi perjumpaan antara manusia dan ular tidak dapat sepenuhnya dihindari, meskipun kewaspadaan telah dilakukan.

“Habitat satwa yang kemudian dimanfaatkan sebagai kebun membuat risiko itu selalu ada. Di mana pun berada, kejadian serupa bisa terjadi,” katanya, mengungkapkan kebun sebelumnya adalah Habitat satwa.

Ia mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat berkebun, khususnya di area yang banyak terdapat tumpukan daun kering, semak-semak, serta lokasi yang jarang dilalui manusia karena berpotensi menjadi tempat persembunyian ular.

Selain itu, Youssel juga menjelaskan bahwa banyaknya hewan herbivora atau pengerat di suatu wilayah dapat menjadi indikator keberadaan predator di rantai makanan, termasuk ular.

“Jika di suatu wilayah banyak hewan pengerat, maka predator di atasnya pasti ada. Ular biasanya menjadi lebih agresif saat lapar atau ketika berada dalam kondisi terdesak,” tambahnya.

Cara Menghadapi Ular Piton

Kasus ular piton masuk ke rumah warga sudah menjadi pemandangan yang biasa manakala musim penghujan tiba.

Kendati demikian, keberadaan ular piton tetap harus diwaspadai. Meski tidak berbisa, ular piton membahayakan dan mematikan manusia.

Koordinator Jaga Satwa Indonesia (JSI) yang berkantor pusat di Kota Madiun, Yonny Purwandana menyatakan hewan melata yang memiliki nama latin Malayopython Reticulatus dapat membunuh manusia dengan lilitannya.

“Ular piton itu tidak berbisa tetapi berbahaya dan mematikan. Membahayakannya dari cara ular piton melilit,” kata Yonny, Selasa (29/4/2025).

Menurut Yonny, ular piton termasuk ular besar tetapi mematikan.

Biasanya ular piton dapat mematikan dengan cara melilit leher manusia.

“Ular piton itu kalau sudah membelit leher maka tidak sampai 5 menit orang sudah mati. Karena belitan ular di leher menghentikan pasokan oksigen ke otak manusia sehingga membuat orang meninggal,” jelas Yonny.

Habitat Ular Piton

Habitat ular yang memiliki nama panggilan seperti sanca dan sowo dapat ditemukan pinggir sungai, tempat lembab hingga semak-semak.

Namun kalau misalkan ular piton dapat masuk rumah lantaran sebelum dibangun biasanya awal mulanya dulu hutan atau persawahan.

Dengan demikian, kasus ular masuk rumah bukan menjadi hal yang mengagetkan lagi.

“Kalau sampai masuk rumah berarti sebelum dibangun rumah, dulunya sawah atau bekas hutan,” jelas Yonny.

Menurut Yonny, ular piton dapat berkembang paling panjang rata-rata 5 meter pada umur empat hingga lima tahun.

Besarnya ular tergantung sumber makanannya. Kalau sumber makanannya terjamin maka ularnya cepat besar.

Ia mengatakan pernah ditemukan ular piton di pulau Kalimantan dengan panjang 9 meter.

Ular itu dapat panjang hingga 9 meter karena hidup di area yang luas.

“Seperti di Kalimantan hutan luas sehingga ular dapat gerak leluasa. Kalau di sini hanya 4 meter karena ruang geraknya sempit yang banyak hidup di gorong-gorong,” kata Yonny.

Ular piton yang dilindungi di Indonesia terdapat empat jenis. Tiga jenis hanya ditemukan di pulau Papua dan satu jenis di Ponorogo.

Waspadai Saat Musim Hujan

Pelaporan ular piton masuk rumah atau kandang biasanya terjadi saat musim penghujan.

Bahkan dari 300-an kasus yang ditangani JSI paling dominan ditangani adalah ular piton.

“Paling banyak ditemukan pas musim hujan. Karena tempat persembunyian tergenang air makanya ular piton pindah,” kata Yonny.

Tak hanya itu, saat musim penghujan, ular piton mengalami masa kawin dengan menghasilkan 30 sampai 50 butir.

“Setahun dapat produksi minimal satu kali. Biasanya musim penghujan musim kawin dan menetas,” ungkap Yonny.

Menyerang Manusia

Ular piton biasa menyerang manusia karena terprovokasi.

Terlebih ular piton memiliki sensor gerak.

Untuk itu bila diganggu dengan gerakan atau sentuhan maka otomatis ular piton akan menyerang obyek di depannya.

“Kalau dibiarkan saat lewat, ular piton tidak akan menggigit. Kalau kita diam dan tenang tidak akan tergigit karena ular piton menggunakan sensor gerak,” tutur Yonny.

Menurutnya, ular piton akan memakan ternak milik warga karena lapar.

Apalagi kebanyakan warga membuat kandang ternak rata-rata di pinggir sungai dan sawah dengan alasan lebih memudahkan akses air dan jauh dari bau.

Padahal tepian sungai itu kebanyakan menjadi habitatnya ular dan biawak.

Bantu Petani Basmi Tikus

Sejatinya Ular piton juga bisa membantu petani memakan tikus.

Kalau di sawah lapar, ular akan mencari lubang tikus.

Bisa menemukan sepuluh anakan tikus maka akan dimakan semuanya.

“Kalau 10 anak tikus tidak ada yang makan maka akan berkembang menjadi ratusan tikus. Hanya saja banyak petani yang belum bisa membedakan mana ular berbisa dan mana ular biasa yang menguntungkan,” kata Yonny.

Secara teori, ular piton dapat memakan hewan yang besarnya 10 kali lipat dari besar kepalanya.

Makanya bila ular piton sudah besar dapat memakan kambing karena mulutnya bisa membesar hingga 10 kali lipat.

Cara Aman Bila Ketemu Ular Piton

Bila ketemu ular piton di area yang luas, langkah agar tidak diserang disarankan agar mengambil posisi diam.

Apalagi ular piton memiliki tipe bukan hewan pengejar.

“Kalau ketemu piton diam saja. Santai karena tidak ular itu bukan tipe pengejar. Kalau sengaja mengganggu dengan menendang atau mencolek pakai kayu maka ular itu akan menyerang. Kalau kita diam, maka akan lewat,” ujar Yonny.

Namun bila ingin menangkap ular piton bisa dilakukan tetapi harus tahu tekniknya.

Salah satu caranya dipegang kepalanya dulu maka sudah aman.

Setelah ditangkap kepalanya, ada teknik supaya tidak dibelit maka dipegang kepala dan ekornya.

“Setelah terbentuk huruf U ditahan pakai kaki kemudian meminta bantuan orang untuk ambil karun,” kata Yonny.

Yonny menyarankan ular piton yang dapat ditangkap sendiri memiliki ukuran paling panjang satu setengah meter.

Kalau di atas 2 meter maka wajib minimal dua orang menangkapnya.

Digigit Bisa Bengkak dan Bernanah

Menurut Yonny, gigatan ular piton dapat membawa penyakit.

Pasalnya ular piton acapkali memakan bangkai yang membawa bakteri.

Dengan demikian saat menggigit manusia bakteri yang berada di gigi ular masuk ke kulit manusia sehingga menimbulkan bengkak bernanah.

“Penyakitnya seperti bakteri karena ular makan bangkai. Sehingga di giginya menyisakan bakteri. Nanti kalau tergigit walau tidak berbisa dapat menimbulkan bengkak hingga mengeluarkan cairan nanah,” jelas Yonny.

(Banjarmasinpost.co.id/Tribunnews.com)

 

Baca Lebih Lanjut
Lagi Istirahat di Kebun, Pria di Sulteng Ditelan Ular Piton 5 Meter
Detik
Petani di Sigi Sulteng Tewas Dimangsa Ular Piton Saat di Kebun
Warga Kolono Konawe Selatan Tangkap Ular Piton Raksasa, Diduga Habis Telan Seekor Sapi
Warga Geger Temukan Ular Piton, Perutnya Besar Diduga Baru Telan Sapi
Sempat Buat Panik, Ular Piton 4 Meter Dievakuasi di Kandang Ayam Warga Grogol Kediri
Ular Piton 3 Meter Dievakuasi saat Mangsa Ayam di Dalam Kandang
Ular Piton 4 Meter Bikin Warga Kediri Panik, Petugas Langsung Evakuasi dari Kandang Ayam
2 Ular Piton Nyaman 'Bersekolah', Damkar Bangkalan Harus Menjebol Plafon Ruang Guru Untuk Evakuasi
Geger Rumah Warga Belitung Darat Banjarmasin Disusupi Ular Piton, Masuk dengan Menjebol Atap
Warga Sigi Tewas Diduga Diterkam Ular, Ketua Evolux IDN Ingatkan Waspada Saat Berkebun