Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Deanza Falevi
TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Di sela padatnya aktivitas sebagai pelajar SMA, Patih Thauri Al Gafiki (16) memilih jalur yang tak biasa.
Remaja kelas XI SMA Negeri 1 Purwakarta ini bukan menghabiskan waktu sepulang sekolahnya di cafe atau tempat nongkrong, melainkan di dalam sebuah green house yang dipenuhi buah melon hidroponik siap panen.
Senin (2/2/2026) sore itu, Patih tampak telaten memeriksa satu per satu melon yang menggantung rapi di dalam green house milik keluarganya di Kampung Krajan, Desa Parakan Lima, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Mengenakan kaus sederhana, pelajar berusia belasan tahun ini sesekali tersenyum sambil menjelaskan proses bertani yang tengah ia geluti.
Pilihan Patih menjadi petani Gen Z ini berawal dari dukungan penuh sang ayah yang membangunkan green house khusus untuk budidaya melon hidroponik.
Dari situlah minat Patih tumbuh, apalagi ia menilai bertani merupakan pekerjaan mulia yang sangat dibutuhkan di tengah ancaman krisis pangan.
"Awalnya ayah membuatkan green house ini karena mengikuti program ketahanan pangan Pak Bupati Om Zein. Dari situ saya jadi tertarik. Ketahanan pangan di Indonesia kan mulai krisis, jadi saya ingin ikut ambil bagian," ujar Patih kepasa Tribunjabar.id, Senin (2/2/2026).
Sudah tiga bulan terakhir, Patih serius menekuni budidaya melon hidroponik. Prosesnya pun tak singkat. Mulai dari penanaman bibit hingga panen membutuhkan waktu sekitar 73 hari.
Di green house tersebut, Patih menanam tiga varietas melon unggulan, yakni sweet hami, lavender, dan promax yang dikenal memiliki rasa super manis.
"Yang di belakang saya ini promax, varietas paling bagus dan paling manis," katanya sambil menunjuk buah melon miliknya.
Dari total awal 358 pohon melon yang ditanam, hanya sekitar 250 pohon yang bertahan hingga menghasilkan buah berkualitas. Faktor cuaca, terutama intensitas curah hujan tinggi, menjadi tantangan tersendiri bagi Patih di penanaman perdana ini.
Meski demikian, hasil panen tersebut justru menarik perhatian publik. Sejak video aktivitas Patih sebagai petani milenial viral di media sosial, green house yang ia kelola mulai ramai didatangi pengunjung.
Tak sedikit yang datang jauh-jauh hanya untuk membeli melon langsung dari kebunnya. Salah satunya Mira Habibah. Ia mengaku penasaran setelah berulang kali melihat video Patih berseliweran di TikTok.
"Saya awalnya lihat di TikTok, sering muncul terus. Jadi penasaran. Saya sengaja datang ke sini supaya bisa beli langsung. Ternyata jenis melonnya ada tiga, dan bisa petik sendiri," kata Mira.
Selain sensasi memetik langsung dari pohon, harga yang ditawarkan Patih pun terbilang terjangkau. Buah melon hidroponik di green house Abah, sebutan untuk kebun keluarga Patih, dibanderol Rp35 ribu per kilogram.
Menariknya, dunia pertanian bukan satu-satunya bidang yang digeluti Patih. Pelajar SMA ini juga beternak domba Garut dan memelihara berbagai jenis ikan di kolam milik orang tuanya. Saat ini, Patih memiliki 13 ekor domba Garut.