TRIBUNTRAVEL.COM - Alas Krendowahono dikenal sebagai salah satu hutan sakral di Tanah Jawa yang lekat dengan kisah mistis, sejarah, dan tradisi spiritual yang masih dijaga hingga kini.
Lokasi tersebut dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Kanjeng Ratu Bathari Durga serta menyimpan berbagai situs penting seperti punden, sumur pasucen, hingga yang berkaitan dengan sejarah Pangeran Diponegoro.
Perjalanan ke Alas Krendowahono bukan sekadar wisata, melainkan pengalaman budaya dan spiritual yang sarat makna.
Tak hanya mencari sensasi angker, mengunjungi Alas Krendowahono bak memahami bagaimana tradisi, sejarah, dan spiritualitas Jawa dirawat hingga sekarang.
Baca juga: 5 Tempat Makan Enak dan Murah di Bandung Buat Dinikmati Sepulang Kerja
Sebuah pengalaman budaya yang mengajarkan penghormatan pada leluhur dan harmoni dengan alam pun bakal tersaji.
Tertarik untuk mengunjungi Alas Krendowahono?
Yuk simak itinerary yang telah TribunTravel rangkum berikut.
Itinerary Wisata Religi ke Alas Krendowahono
Lokasi: Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Baca juga: Itinerary Ngabuburit ke Masjid Saminah Sihyadi Bujet Cuma Rp 15 Ribuan
06.30 - 07.30 : Persiapan dan Singgah ke Pasar Kembang
Perjalanan dimulai sejak pagi hari dengan singgah terlebih dahulu ke pasar kembang.
Pasar ini menjadi tempat membeli sarana yang dianjurkan sebelum memasuki kawasan Alas Krendowahono, seperti kembang setaman, dupa, dan perlengkapan sederhana lain sebagai bentuk penghormatan adat.
Aktivitas:
Estimasi biaya:
Baca juga: 6 Warung Sunda di Jakarta untuk Makan Siang dengan Teman Kantor
07.30 - 09.00 : Perjalanan Menuju Alas Krendowahono
Rute menuju Alas Krendowahono jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Jalan yang dilalui didominasi kawasan pedesaan, hutan jati, dan ladang warga.
Bahkan, tidak semua warga sekitar mengetahui lokasi alas ini, menandakan betapa terpencil sekaligus sakralnya kawasan tersebut.
Estimasi biaya transportasi:
Baca juga: Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Masih Tersedia, Cek Jadwal dan Cara Belinya
09.00 - 09.30 : Sowan dan Izin kepada Juru Kunci
Setibanya di lokasi, pengunjung wajib sowan dan meminta izin kepada juru kunci, dalam hal ini Pak Supri.
Proses tersebut menjadi etika utama sebelum menjelajahi kawasan punden dan situs-situs sakral lainnya.
Aktivitas:
Estimasi biaya:
09.30 - 11.00 : Menyusuri Punden Betari Durga dan Situs Kepala Kerbau
Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri punden yang dipercaya sebagai petilasan Betari Durga.
Di area ini terdapat titik penanaman kepala dan kaki kerbau, tradisi yang telah dilakukan sejak zaman dahulu sebagai simbol persembahan demi keselamatan dan ketentraman alam, khususnya wilayah Keraton Surakarta dan Tanah Jawa secara umum.
Pengunjung diajak memahami filosofi kepala kerbau yang dahulu juga berfungsi sebagai siasat mengelabui penjajah saat kawasan ini digunakan sebagai tempat pertemuan rahasia tokoh-tokoh penting.
Aktivitas:
11.00 - 12.00 : Sumur Pasucen: Ritual Pembersihan Diri
Di Alas Krendowahono terdapat dua sumur pasucen yang sejak dahulu digunakan untuk penyucian diri.
Air sumur dipercaya tidak pernah kering dan digunakan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.
Beberapa pengunjung datang dengan tujuan spiritual tertentu, mulai dari memohon ketenangan, kesehatan, hingga jodoh.
Aktivitas:
Estimasi biaya:
12.00 - 13.00 : Istirahat dan Makan Siang
Setelah ritual, waktu digunakan untuk beristirahat sejenak.
Tidak ada warung di dalam alas, sehingga disarankan membawa bekal dari luar.
Estimasi biaya:
13.00 - 14.30 : Mengunjungi Sendang (sumur) Sihna dan Batu Gilang
Sendang Sihna dan Batu Gilang merupakan situs penting yang diyakini sebagai tempat pertemuan Pangeran Diponegoro dengan Pakubuwono VI.
Pengunjung diwajibkan mengucap salam sebelum mendekat, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan energi tempat tersebut.
Di sini, pengunjung biasanya berdoa, tahlilan, atau sekadar merenung, karena inti dari kunjungan adalah mendoakan para leluhur, bukan meminta hal yang berlebihan.
14.30 - 15.00 : Penutup dan Pamitan
Sebelum meninggalkan Alas Krendowahono, pengunjung kembali berpamitan kepada juru kunci.
Perjalanan ditutup dengan refleksi atas nilai budaya dan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: 6 Warung Sunda di Jakarta untuk Makan Siang dengan Teman Kantor
Estimasi Total Biaya Perjalanan
| Sarana adat & pasar kembang | Rp 30.000 |
| Transportasi | Rp 50.000 - Rp 70.000 |
| Sedekah & sukarela juru kunci | Rp 40.000 - Rp 100.000 |
| Konsumsi | Rp 20.000 - Rp 30.000 |
| Total estimasi | Rp 140.000 - Rp 230.000 |
Disclaimer: harga di atas dapat berubah sewaktu-waktu.
Baca juga: Itinerary Ngabuburit ke Masjid Saminah Sihyadi Bujet Cuma Rp 15 Ribuan
(TribunTravel.com/mym)