TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Warung Joglo Mbah Gelung di Bumenjelapan, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, tak pernah sepi pengunjung.
Bukan tanpa alasan, satu porsi makanan di warung ini hanya dibanderol Rp 10.000.
Dalam satu porsi, pembeli sudah mendapatkan nasi, sate sapi, gulai, serta minum teh manis atau teh tawar yang bisa diambil sepuasnya.
“Harganya satu porsi Rp 10.000. Nasi sate, gulai, minum teh sepuasnya gratis. Mau teh manis atau teh tawar ngambil sepuasnya gratis,” kata Mbah Gelung saat ditemui, Selasa (3/2/2026).
Saat ditanya alasan menjual dengan harga murah, Mbah Gelung mengaku tak punya pertimbangan bisnis khusus. Ia hanya ingin berbagi.
“Saya nggak punya alasan, saling berbagi. Artinya kita jualan itu ora kudu akeh (tidak harus selalu banyak). Sing penting berkah,” ujarnya.
Usaha Warung Joglo Mbah Gelung eksis sejak Januari 2025. Artinya, usaha kuliner tersebut sudah berjalan sekitar satu tahun dengan harga yang sama sejak pertama dibuka.
“Saya buka Januari 2025, jadi sudah satu tahun ini,” ucapnya.
Menurut Mbah Gelung, tujuan membuka warung ini bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi agar masyarakat bisa makan enak dengan harga terjangkau.
“Alasan saya atau tujuan saya tadi saling berbagi. Artinya kita makan itu tidak harus mahal-mahal ya. Dengan menu sate gulai cuma 10 ribu ini, artinya saling berbagi kepada masyarakat sekitar dan teman-teman yang datang,” tuturnya.
Karena harganya yang murah, membuat banyak pengunjung terus berdatangan. Pada hari biasa, warung ini bisa menjual ratusan porsi.
“Kalau hari biasa sepi, sesepi-sepinya itu 200 sampai 250. Kecuali Sabtu-Minggu ya. Kalau Sabtu-Minggu atau liburan itu bisa 400 sampai 500 porsi,” jelasnya.
Dia mengatakan, menu di warung ini menggunakan daging sapi pilihan. Untuk sate, Mbah Gelung mengaku hanya menggunakan bagian daging yang bagus dan empuk.
“Sapi yang kita sate kan pakai daging yang bagus ya, tenderloin atau khas dalam sapi itu. Walaupun sapi gede itu dalam satu ekor sapi itu minimal 6 kilogram,” katanya.
Dalam kondisi ramai, kebutuhan daging di Warung Joglo Mbah Gelung bisa melonjak. Saat akhir pekan, warungnya bisa menghabiskan hingga 36 kilogram daging sapi, belum termasuk daging yang digunakan untuk gulai.
“Gulainya itu bisa sampai sekali masak itu lima sampai sepuluh kilo,” tambahnya.
Mbah Gelung melanjutkan, sebagian besar pembeli berasal dari wilayah Magelang. Sementara pengunjung luar daerah biasanya mengetahui warung Mbah Gelung dari media sosial.
“Rata-rata pembeli itu 99 persen adalah masyarakat Magelang. Walaupun ada dari Wonosobo, dari luar kota itu hanya ingin karena viral ya, dan rata-rata pasti nggak kecewa. Sepuluh ribu kok merasa kecewa,” ujarnya.
Ide Bisnis
Mbah Gelung mengaku latar belakang keluarganya memang dekat dengan dunia kuliner dan seni. Sebelumnya ia berkecimpung di dunia seni di Jakarta.
“Saya memang keluarga kuliner di samping seni. Jadi sebelumnya nyeni di Jakarta. Rumah di Tangerang,” ungkapnya.
Ia bercerita, awal mula membuka warung di Borobudur bermula dari hasil pekerjaan iklan.
“Tahun 2017 awal itu saya dapat suatu iklan di Jogja, iklan jamu. Dengan hasil iklan itu saya belikan beberapa tanah di sini,” katanya.
Ide membuka warung muncul dari keinginan sang istri. Namun, Mbah Gelung kemudian mengarahkan pada menu sate dan gulai, mengikuti tradisi keluarganya di Jawa Timur.
Karenanya, menu sate gulai yang disajikan pun memiliki ciri khas Jawa Timur, dengan kuah gulai yang relatif lebih encer dibandingkan dengan gulai khas Jawa Tengah.
“Kalau keluarga saya sampai sekarang itu jualnya nasi sate gulai di Jawa Timur. Dari pakde saya, bapak saya, adik saya, mbok saya, ponakan saya sampai sekarang. Kenapa kita tidak kembali ke jualan itu?” tuturnya.
Modal awal membuka warung pun terbilang kecil.
“Pertama buka itu saya malah modal 75 ribu, cuma beli daging seperempat kilo,” katanya.
Warung tersebut mulai dikenal luas setelah unggahan di media sosial menjadi viral.
“Ketika kita bikin itu kalau nggak salah laku 20 porsi. Lalu kita shooting (update status), hari gini kok masih ada harga Rp 10.000. Saya bikin status, langsung viral. Langsung menanjak,” ujar Mbah Gelung.
Sejak saat itu, warung sering penuh, terutama saat liburan.
Salah seorang pengunjung, Sultanika Candra (26), mengaku baru pertama kali datang ke Warung Joglo Mbah Gelung setelah mengetahui informasi dari media sosial.
Warga Brongsongan, Kecamatan Borobudur, itu datang bersama anak dan istrinya untuk mencoba langsung menu nasi sate dan gulai yang dijual Rp 10.000 per porsi.
“Rasanya enak, satenya juga empuk. Dengan harga segitu termasuk murah banget,” katanya. (tro)
• Sejarah Panjang Berakhir, Pohon Randu Alas Berusia 250 Tahun di Magelang Akhirnya Ditebang