TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Kabar duka datang dari dunia musik Kalimantan Barat, Vokalis band Cofternoon, Edwin Setiadi Raharja yang dikenal dengan nama panggung Wing, dikabarkan meninggal dunia pada 2 Februari 2026 dan telah dimakamkan di Malang, Selasa 3 Februari 2026.
Kepergian Wing meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta rekan-rekan bermusik. Ucapan belasungkawa pun mengalir deras, termasuk dari para personel Cofternoon, Galih, Ajir, dan Rio Kacank.
Galih mengenang Wing sebagai pribadi yang sangat setia kawan dan selalu mengedepankan kebaikan dalam setiap langkahnya.
“Kalau secara pribadi, kebaikan dia itu nggak bisa kita lupakan. Setiap langkahnya memang selalu untuk kawan-kawan. Kalau ada teman sakit atau meninggal, Wing itu selalu jadi orang pertama yang bergerak, galang dana, atau bikin pergerakan,” ujar Galih.
Galih mengaku telah mengenal Wing sejak 2009. Menurutnya, Wing adalah sosok yang paling bisa diandalkan saat teman-temannya berada dalam kesulitan.
“Dalam pertemanan, Wing itu paling setia kawan. Kalau lagi ada apa-apa, dia yang paling depan. Secara personal, aku juga paling dekat sama dia, terutama di ranah kekaryaan,” tambahnya.
Baca juga: Daud Yordan Sebut Transparansi Kunci Pembinaan Atlet di Kota Pontianak
Hal senada disampaikan Ajir. Ia menyebut kedekatannya dengan Wing terbangun kuat sejak terbentuknya Cofternoon. Ajir mengungkapkan bahwa band tersebut lahir dari ajakan Wing, yang membawa sejumlah lagu ciptaannya.
“Dia ngajak kami bikin band, bilang punya lagu ini-itu. Karena dia sebaik itu sama kami, kami nggak bisa bilang tidak. Ego dia itu ada, tapi ego yang bagus. Maka kami support,” kata Ajir.
Ajir bahkan menilai Wing sebagai penulis lagu yang sangat cerdas dan mendalam. Ia menyebut kualitas Wing layak disejajarkan dengan musisi nasional.
“Kalau nulis lagu, diksi dan maknanya dalam sekali. Aku berani sandingkan dia se-level Fiersa Besari. Bahkan secara pribadi aku berani pegang Wing, karena memang dia itu cerdas. Latar belakang teater dan proses menulisnya panjang, jadi nulis lagu itu sudah jadi makanannya,” ungkap Ajir.
Menurut Ajir dan Galih, hampir seluruh lagu Cofternoon merupakan tulisan Wing. Meski beberapa ide digarap bersama, Wing selalu menjadi sosok yang menyempurnakan lirik.
Salah satu karya paling ikonik Cofternoon adalah “Disudut Pontianak”, yang diciptakan hanya dalam waktu dua hari demi mengejar momentum Hari Jadi Kota Pontianak. Ide lagu tersebut juga datang dari Wing.
Video klip lagu itu bahkan dirilis tepat di hari ulang tahun Pontianak, dengan proses syuting yang dilakukan pagi harinya.
“Itu lagu tersingkat yang pernah kami buat. Wing memang nggak mau melewatkan momen. Alhamdulillah lagu itu benar-benar diapresiasi masyarakat Pontianak,” kata Ajir.
Selain “Disudut Pontianak”, lagu “Amira” dan “Sepanjang Hari” juga menjadi karya yang paling banyak didengar. Ajir menyebut “Amira” sangat merepresentasikan Wing karena berangkat dari naskah teater dan kisah hidupnya sendiri.
Cofternoon sendiri terbentuk pada 2012 dan merilis album pertama pada 2016 dengan formasi paling utuh yakni Wing sebagai vokal, Galih penggesek biola, Rio pada bass, Aji gitar, dan Paton di cajon. Band ini sebelumnya juga telah kehilangan salah satu personelnya, Haris Mutiar atau Bang Bo.
Setelah kepergian Bang Bo, hadir Rio Kacank yang bergabung dengan grup band pop asal Pontianak, Coffternoon, sebagai pemain bassist.
Ajir menegaskan bahwa Cofternoon tidak pernah bubar, melainkan hanya vakum sejak penampilan terakhir mereka sebelum pandemi Covid-19.
“Cofternoon itu nggak pernah bubar. Cuma vakum. Dan buat kami, wajah Cofternoon itu Wing. Nggak ada vokalis lain yang bisa menggantikan dia,” tegas Ajir.
Ia menambahkan, kepergian Wing membuat separuh kekuatan Cofternoon terasa hilang. Meski begitu, mereka berharap karya-karya Cofternoon akan terus hidup dan didengarkan masyarakat.
“Harapan kami sekarang, lagu-lagu Cofternoon tetap didengar sampai kapan pun. Di situlah kita sama-sama mengenang Wing, mengenang karya-karyanya,” ucap Ajir.
Ajir juga menyebut bahwa jika suatu saat lagu Cofternoon dibawakan kembali, itu semata-mata untuk mengenang sosok Wing dan Bang Bo.
“Biar Cofternoon abadi di hati pendengar. Mungkin menemani masa remaja mereka, masa pacaran mereka. Itu sudah cukup buat kami,” pungkasnya. (*)
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!