Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota

TRIBUNFLORES.COM, BETUN - Hingga kini, korban yang diduga tenggelam di Pantai Cemara Abudenok, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (1/2/2026), masih belum ditemukan. 

Deru ombak yang tak henti menghantam pesisir pantai seolah menjadi saksi bisu dari penantian panjang dan penuh harap keluarga korban yang setia bertahan di lokasi pencarian.

Keluarga besar korban berharap agar anak mereka, Jorganio Faot alias Dito (15), dapat segera ditemukan dalam keadaan apa pun, sehingga dapat dibawa pulang ke Biudukfoho, Desa Niti, Kecamatan Rinhat, kampung halaman mereka. 

Harapan itu terus dipanjatkan di tengah upaya pencarian yang masih berlangsung intensif oleh berbagai pihak.

Baca juga: Anak SMP Diduga Tenggelam di Pantai Cemara Abudenok Malaka Belum Ditemukan

Masuk Hari ke Tiga

Meski sudah memasuki hari ketiga, upaya pencarian tidak pernah berhenti. 

Tim Basarnas, Kepolisian Resor Malaka, Polsek Malaka Barat, serta para nelayan setempat terus menyisir laut dan area pesisir Pantai Cemara Abudenok. Pencarian dilakukan menggunakan perahu karet milik Basarnas dan perahu tradisional nelayan, menyusuri titik-titik yang diduga menjadi lokasi korban terakhir terlihat.

Paman korban, Severinus Nahak, saat ditemui POS-KUPANG.COM di Pantai Cemara Abudenok, mewakili keluarga besar korban, menyampaikan harapan yang tulus dan penuh kegetiran.

“Kami keluarga besar dari Biudukfoho sangat berharap agar kami bisa membawa pulang anak kami, dalam keadaan apa pun,” ujarnya dengan suara bergetar.

Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pencarian.

“Kami berterima kasih kepada Kepolisian Resor Malaka, Polsek Malaka Barat, tim Basarnas, para nelayan, BPBD Kabupaten Malaka, pengelola pariwisata Pantai Cemara Abudenok, serta semua pihak yang sudah turut membantu mencari anak kami,” katanya.

Menurut Severinus, keluarga korban sejak hari kejadian memilih tetap tinggal di sekitar Pantai Cemara Abudenok dan belum kembali ke kampung halaman. 

“Kami masih tetap di sini dan akan terus menunggu sampai anak kami ditemukan. Setelah itu barulah kami bisa pulang,” tuturnya.

Ia kemudian menceritakan kronologi singkat berdasarkan informasi yang diterima keluarga. 

Pada Minggu siang, rombongan anak-anak tersebut awalnya datang untuk berekreasi dan bersenang-senang. Setelah makan siang dan bersiap untuk pulang, sebagian anak-anak meminta izin untuk mandi di laut. Korban disebut menjadi orang pertama yang turun ke pantai, disusul oleh adiknya dari belakang. Namun, tak lama kemudian, peristiwa naas itu terjadi.

Severinus juga mengungkapkan bahwa informasi pertama diterimanya dari keluarga yang berjualan di kawasan Pantai Cemara Abudenok. Karena ia berasal dari Biudukfoho dan menetap di wilayah Besikama, warga segera menghubunginya untuk menyampaikan kabar duka tersebut.

Sementara itu, Mama angkat korban, Etelia Bani, turut menyampaikan kesaksiannya dengan penuh emosi. 

Ia mengaku menerima kabar tenggelamnya korban dari teman-teman korban yang menelepon menggunakan ponsel milik korban.

“Saat itu kami sedang di kebun. Mereka telepon bilang, Mama, Dito tenggelam di laut," kenangnya mengunakan bahasa yang dawan yang telah dikonveris oleh POS-KUPANG.COM menggunakan bahasa Indonesia.

Mendengar kabar tersebut, Etelia mengaku panik dan tak kuasa menahan emosi. 

“Saya bilang pokoknya anak kami harus didapatkan kembali. Kami langsung pulang dari kebun dan bergegas ke sini. Di jalan kami terus berharap anak kami bisa ditemukan,” ujarnya sambil menahan tangis.

Hingga saat ini, keluarga korban tetap berharap agar pencarian terus dilanjutkan hingga korban ditemukan, apa pun keadaannya. 

Mereka juga mengungkapkan telah melakukan berbagai ritual adat, melibatkan para tetua adat setempat, sebagai bentuk ikhtiar batin agar korban dapat segera ditemukan.

Pantauan POS-KUPANG.COM di lokasi menunjukkan Pantai Cemara Abudenok masih ramai oleh masyarakat yang datang untuk menunggu sekaligus ikut membantu pencarian. 

Tampak personel Polres Malaka, Polsek Malaka Barat, BPBD Kabupaten Malaka, Tim Basarnas Kupang, serta para nelayan setempat terus bergantian melakukan penyisiran laut.

Di area pantai juga telah didirikan sebuah tenda berwarna merah marun bertuliskan 'Kemensos Selalu Ada' yang difungsikan sebagai tempat berteduh dan pusat koordinasi selama proses pencarian berlangsung.

Pemandangan paling mengiris hati terlihat di bibir pantai, ketika ibu kandung korban bersama adik korban berlutut dan terus menangis sambil meneriakkan nama Dito, sambil memandang laut dengan mata sembab. 

Tangisan mereka membuat suasana semakin haru, bahkan sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi tampak ikut meneteskan air mata.

Prosesi ritual adat pun dilakukan di kawasan pesisir pantai oleh para tokoh adat setempat bersama keluarga besar korban, sebagai bentuk doa dan harapan agar pencarian segera membuahkan hasil.

Baca Lebih Lanjut
Anak SMP Diduga Tenggelam di Pantai Cemara Abudenok Malaka Belum Ditemukan
Polsek Malaka Barat Benarkan Dugaan Anak Tenggelam di Pantai Cemara Abudenok
Polres Malaka Beberkan Kronologi , Anak SMP Diduga Tenggelam di Pantai Cemara Abudenok
Dinas Pariwisata Malaka Hadirkan Wahana ATV, Pantai Cemara Abudenok Kian Menarik
BERITA POPULER- Angin Kencang Melanda Sikka, Remaja 15 Tahun Tenggelam, Longsor di Napan TTU 
3 Siswa SD Tenggelam di Pantai Waibuku, Sumba Barat Daya NTT, 1 Belum Ditemukan
Korban tenggelam di Kali Cengkareng belum ditemukan hingga hari kelima
Antaranews
Waktu Pencarian Tersisa Dua Hari, Pemuda Tenggelam di Kali Cengkareng Drain Belum Ditemukan
Air Kali Tinggi, Hari Ketiga Pencarian Pemuda Tenggelam di Cengkareng Drain Belum Ditemukan
Basarnas hentikan pencarian korban kapal tenggelam di perairan Halsel
Antaranews