TRIBUNJOGJA.COM - Kulon Progo tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga kekayaan kuliner tradisional yang jarang dijumpai di daerah lain.
Beragam makanan khas lahir dari kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan bahan alam sekitar, menciptakan cita rasa unik yang lekat dengan identitas daerah.
Baca juga: 3 Jajanan Tradisional Khas Kulon Progo yang Cocok untuk Sarapan
Berikut adalah 4 makanan khas Kulon Progo yang jarang dijumpai di kota lain:
Geblek merupakan salah satu makanan khas Kulon Progo yang mudah dikenali dari bentuknya yang menyerupai angka delapan.
Jajanan tradisional ini telah lama menjadi bagian dari identitas kuliner daerah tersebut dan kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Keunikan bentuk dan teksturnya menjadikan geblek memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kulon Progo.
Makanan tradisional khas Kulon Progo ini dibuat dari bahan utama singkong yang diolah bersama tepung tapioka hingga menghasilkan adonan kenyal.
Adonan tersebut kemudian dibentuk menyerupai angka delapan sebelum digoreng hingga matang.
Proses pengolahan yang sederhana namun khas ini menghasilkan geblek dengan cita rasa gurih dan tekstur renyah di bagian luar, serta kenyal di bagian dalam.
Geblek banyak dijumpai di warung-warung pinggir jalan di wilayah Kulon Progo, terutama pada pagi hingga siang hari.
Selain itu, jajanan tradisional ini juga dijual di pasar-pasar tradisional dan kerap dijadikan camilan oleh warga lokal.
Keberadaan geblek sebagai kuliner khas daerah turut memperkaya ragam wisata kuliner Kulon Progo yang terus diminati hingga saat ini.
Tempe benguk merupakan makanan tradisional khas Kulon Progo yang digemari oleh berbagai kalangan masyarakat.
Kuliner ini berbahan dasar tempe koro yang diolah dengan resep turun-temurun sehingga menghasilkan cita rasa khas.
Keberadaan tempe benguk menjadi bagian penting dari kekayaan kuliner tradisional Kulon Progo yang masih bertahan hingga kini.
Di wilayah Kulon Progo, tempe benguk dikenal memiliki perpaduan rasa manis dan gurih yang berasal dari penggunaan santan dalam proses memasaknya.
Tempe koro dimasak hingga bumbu meresap sempurna, menciptakan aroma dan rasa yang kuat.
Cita rasa tersebut menjadikan tempe benguk mudah dikenali dan berbeda dari olahan tempe pada umumnya.
Tempe benguk kerap disajikan bersama geblek, jajanan tradisional khas Kulon Progo yang bercita rasa asin dan bertekstur kenyal.
Perpaduan keduanya menciptakan keseimbangan rasa yang khas dan menjadi favorit masyarakat lokal.
Tempe benguk dapat dengan mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional maupun warung pinggir jalan, terutama di lokasi yang juga menjual geblek, sehingga keduanya sering hadir sebagai satu kesatuan kuliner.
Growol merupakan salah satu makanan khas Kulon Progo yang pada masa lalu dijadikan sebagai pengganti nasi oleh masyarakat setempat.
Kuliner tradisional ini lahir dari kearifan lokal dalam memanfaatkan singkong sebagai sumber pangan utama.
Hingga kini, growol tetap dikenal sebagai makanan tradisional yang merepresentasikan pola konsumsi masyarakat Kulon Progo di masa lampau.
Makanan berbahan dasar singkong ini memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi sehingga mampu memberikan rasa kenyang lebih lama.
Growol dikenal dengan cita rasa gurih serta aroma khas yang muncul dari proses pengolahannya.
Karakter rasa tersebut menjadikan growol berbeda dari olahan singkong lainnya dan tetap diminati oleh masyarakat.
Growol umumnya disajikan bersama lauk pendamping seperti tempe, tahu, atau ikan asin untuk menambah cita rasa.
Makanan tradisional khas Kulon Progo ini biasanya dapat ditemukan di pasar pagi dan sering dijadikan menu sarapan oleh warga lokal.
Keberadaan growol sebagai pilihan sarapan tradisional turut memperkaya ragam kuliner daerah yang masih lestari hingga saat ini.
Dawet sambel menjadi salah satu makanan ikonik khas Kulon Progo yang menarik perhatian karena konsepnya terdengar unik.
Berbeda dari dawet pada umumnya, kuliner tradisional ini menghadirkan perpaduan rasa yang tidak biasa sehingga kerap menimbulkan rasa penasaran.
Keunikan tersebut menjadikan dawet sambel sebagai bagian dari kekayaan kuliner Kulon Progo yang memiliki karakter kuat.
Pada umumnya, dawet disajikan dengan gula merah cair, kuah santan, dan es batu yang memberikan sensasi manis dan segar.
Di Kulon Progo, dawet justru dipadukan dengan sambal sebagai topping utama.
Kombinasi ini menciptakan cita rasa yang berbeda dari dawet yang biasa dikenal masyarakat luas.
Meski terdengar tidak umum, dawet sambel cukup digemari oleh masyarakat lokal karena perpaduan rasa pedas, manis, gurih, dan asin yang menyatu.
Sensasi rasa tersebut menghadirkan pengalaman kuliner baru yang menggugah selera.
Dawet sambel biasanya dapat ditemukan di pasar pagi Kulon Progo dan sering menjadi pilihan warga sebagai hidangan tradisional yang enak dan murah.
Undur-undur laut merupakan salah satu makanan khas yang dapat ditemui di kawasan Pantai Glagah, Kulon Progo.
Kuliner ini menjadi bagian dari daya tarik wisata pantai karena memanfaatkan hasil laut setempat yang diolah secara tradisional.
Keberadaan undur-undur laut goreng menambah ragam kuliner khas pesisir Kulon Progo yang diminati pengunjung.
Undur-undur laut umumnya dimasak dengan cara digoreng hingga garing.
Tekstur renyah yang dihasilkan membuat makanan ini cocok dinikmati sebagai camilan maupun dijadikan lauk pendamping nasi.
Cita rasanya yang gurih memberikan sensasi tersendiri dan kerap membuat penikmatnya ingin terus menyantapnya.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pantai Glagah, undur-undur laut goreng sering dipilih sebagai oleh-oleh khas daerah.
Makanan ini mudah ditemukan di sekitar kawasan pantai dan dijual dalam berbagai kemasan.
Popularitasnya sebagai buah tangan turut memperkuat identitas kuliner Pantai Glagah sebagai destinasi wisata di Kulon Progo.
Baca juga: 5 Rekomendasi Cafe di Kulon Progo yang Cocok untuk Nugas dan Kerja Remote
Keberagaman makanan khas Kulon Progo menunjukkan kekayaan budaya kuliner yang masih lestari.
Kuliner-kuliner ini tidak hanya menjadi santapan warga lokal, tetapi juga daya tarik wisata yang memperkuat identitas daerah. (MG Daffa Aisha Ramadhani)