TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pernahkah Tribuners melihat tulisan LOMBOK GANDARIA berlatar merah yang dipajang di papan iklan bebeberapa rumah makan atau kafe di Solo Raya?

Atau ketika makan di sebuah warung makan menemukan botol kecap Lombok Gandari yang bergambar cabai dan didominasi warna merah?

Lombok Gandaria adalah salah satu merek kecap legendaris di Solo Raya.

Baca juga: Sejarah Kue Mangkok, Kuliner Khas Imlek yang Sarat Filosofis, Pendamping Kue Keranjang di Solo

Seperti diketahui, Jawa Tengah memiliki banyak merek kecap dengan karakter dan pasar masing-masing.

Setiap merek kecap punya cerita, ciri khas, serta konsumen setianya sendiri.

Namun, ada satu merek kecap yang sangat populer dan nyaris menjadi “kecap wajib” di kawasan Solo Raya, yakni Kecap Lombok Gandaria.

Lombok Gandaria, Kecap yang Melekat di Solo Raya

Bagi warga Solo Raya, Kecap Lombok Gandaria bukanlah nama asing.

Botol kecap ini hampir selalu mejeng di meja makan warung-warung setempat.

Mulai dari warung sate kambing dan tengkleng legendaris di Kota Solo, warung soto ayam, hingga tenda bakmi, mereka menggunakan kecap Lombok Gandaria.

Bahkan, Lombok Gandaria menjadi sponsor utama berbagai acara kuliner, termasuk festival makanan non-halal yang sempat viral di Solo beberapa waktu lalu.

Baca juga: Sejarah Sayur Bening Bayam, Kuliner Sederhana Solo yang Sudah Dikenal Sejak Abad ke-14

Merek Melekat di Solo

Salah satu alasan utama mengapa kecap Lombok Gandaria begitu kuat di Solo Raya adalah karena ia merupakan produk asli daerah.

Kecap ini diproduksi di Karanganyar, Jawa Tengah, dan berdiri sejak tahun 1973.

Sebagai putra daerah, Lombok Gandaria tentu menjaga pasar utamanya di Solo Raya.

Tak heran jika kecap ini begitu mengakar dan menjadi kebanggaan lokal.

Cita Rasa Manis Khas Tanah Mataram

Soal rasa, kecap Lombok Gandaria memiliki tekstur yang cenderung kental dan pekat.

Cita rasanya manis dan lembut, seolah merepresentasikan selera khas Tanah Mataram yang memang akrab dengan rasa manis.

Secara rasa, kecap ini sering dibandingkan dengan merek besar seperti Bango.

Fleksibel digunakan untuk berbagai jenis masakan, kecap Lombok Gandaria cocok sebagai teman setia hampir semua hidangan Nusantara.

Baca juga: Sejarah Risoles, Kuliner Eropa yang Kini jadi Jajanan Populer di Solo

Proses Momori yang Menjadi Kunci Keunikan

Keistimewaan lain dari kecap Lombok Gandaria terletak pada proses pembuatannya yang menggunakan metode momori.

Proses ini melibatkan fermentasi kedua setelah fermentasi awal dari kedelai, garam, dan air.

Fermentasi lanjutan ini berfungsi memperbaiki rasa dan aroma dengan bantuan mikroorganisme tertentu yang mengubah zat dalam campuran kecap.

Tak heran jika kecap Lombok Gandaria memiliki karakter rasa yang khas dan mantap.

Alternatif Oleh-oleh Khas Solo

Kecap Lombok Gandaria tersedia dalam berbagai kemasan, mulai dari botol plastik 100 ml hingga 300 ml, botol kaca 600 ml, sachet 27 ml, pouch 600 ml, hingga jeriken 6 kg.

Fleksibilitas kemasan ini membuatnya mudah dijangkau berbagai kalangan.

Selain untuk konsumsi sehari-hari, kecap Lombok Gandaria juga layak dijadikan oleh-oleh khas Solo.

Sejarah Kecap Lombok Gandaria

PT Lombok Gandaria merupakan perusahaan industri makanan yang berdiri sejak 1973 di Surakarta, Jawa Tengah.

Produk utamanya adalah kecap manis, disertai produk lain seperti kecap asin, saus tomat, saus sambal, dan cuka makan.

Perusahaan ini menerapkan standar mutu Good Manufacturing Practice (GMP), sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015, serta memiliki sertifikat halal sebagai bagian dari komitmen Sistem Jaminan Halal. PT Lombok Gandaria juga telah berhasil menembus pasar internasional.

Selain fokus pada kualitas, PT Lombok Gandaria mengklaim diri sebagai perusahaan yang mengedepankan inovasi berbasis teknologi ramah lingkungan, efisiensi energi, perlindungan lingkungan, serta penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja.

Alamat PT Lombak Gandaria (Logan Food), pabrik Kecap Lombok Gandaria ini ada di Jalan Raya Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah.

Jaraknya 7,1 kilometer dari Pusat Kota Solo, atau bisa ditempuh kurang lebih 17 menit kendaraan pribadi.

(*)

Baca Lebih Lanjut
Sejarah Risoles, Kuliner Eropa yang Kini jadi Jajanan Populer di Solo
4 Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Pasar Gede Solo : Hunting Foto hingga Nikmati Kuliner Legendaris
Sejarah Kue Lapis Legit, Kuliner Belanda yang Kini jadi Hidangan Khas Imlek di Solo
5 Rekomendasi Tempat Makan Legendaris di Klaten Jateng, Cocok Buat Kulineran Akhir Pekan
Rekomendasi Wisata Air Terjun Estetik & Segar di Karanganyar Jateng, Punya Tiga Cabang Aliran Air
Wajib Coba! Lenjongan Solo, Sajian Singkong yang Jadi Ikon Kuliner Kota Bengawan dari Waktu ke Waktu
Makna Prosesi Menginjak Telur, Ritual Sakral Pernikahan Adat Jawa yang Masih Eksis di Solo Raya
Itinerary Sekotong, Solo Traveling ke 4 Gili di Lombok Bujet Rp 580 Ribu
5 Tempat Makan Instagramable di Solo Jawa Tengah, Spot Estetik untuk Kulineran Sambil Hangout
Asal-Usul Kue Mangkok Kuliner Khas Imlek Sarat Filosofis, Sering Dijumpai di Pasar Tradisional Solo