TRIBUNNEWS.COM - Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memastikan akan menggunakan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai validator nilai rapor dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Kebijakan ini ditegaskan dalam sesi pemaparan SNPMB 2026 pada kegiatan Open Visit UPI di UPI Kampus Serang, 4 Februari 2026.
Kepala Divisi Rekrutmen Mahasiswa Baru UPI, Ahmad Mudzakir, menyoroti bahwa posisi TKA pada SNBP 2026 menjadi salah satu isu yang paling banyak ditanyakan masyarakat.
"Jadi tetap kita akan gunakan TKA sebagai salah satu validator nilai raport," tegas Mudzakir, dikutip dari laman resmi UPI, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, UPI menambahkan nilai TKA peserta sebagai validator dalam seleksi berbasis prestasi (SNBP).
Sebelumnya, UPI telah menggunakan akreditasi sekolah dan indeks UTBK sebagai alat validasi.
Pada SNBP 2026, nilai TKA ikut digunakan untuk memperkuat sistem validasi tersebut.
Maknanya sederhana, yakni nilai rapor tetap menjadi komponen utama dalam SNBP.
Namun, UPI menerapkan mekanisme penyangga atau penimbang (validator) agar pembacaan nilai rapor lebih adil dan konsisten antar sekolah yang memiliki standar penilaian berbeda.
Secara garis besar, di SNPMB 2026 yang membedakan adalah jalur SNBP, sementara UTBK-SNBT secara umum tetap sama.
Baca juga: Kapan Terakhir Finalisasi SNBP 2026? Cek Jadwal dan Caranya
Dengan kebijakan ini, UPI berharap proses seleksi SNBP 2026 dapat berlangsung lebih objektif, transparan, dan mampu menjaring calon mahasiswa dengan capaian akademik terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Yang perlu dilakukan siswa dan sekolah (biar tidak kalah karena teknis), secara ringkas sebagai berikut:
Terkait daya tampung, UPI saat ini menetapkan penerimaan sekitar 12.000 mahasiswa per tahun untuk jenjang S1, S2, dan S3.
Kebijakan ini tetap dipertahankan meskipun UPI telah menambah gedung baru dan merekrut dosen-dosen baru.
"Meskipun UPI telah memiliki tambahan gedung baru serta merekrut dosen-dosen baru, kebijakan tersebut tetap mempertimbangkan saran dari aspek akademik dan medis.”ujar Rektor UPI, Didi Sukyadi.
"Secara kapasitas, UPI sebenarnya mampu menampung hingga 13.000–14.000 mahasiswa per tahun, seiring dengan pembangunan gedung baru di Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Industri, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain, serta pengembangan fasilitas di Kampus Tasikmalaya, Cibiru, Sumedang, dan kampus lainnya.” lanjutnya.
Mengenai pengembangan institusi, UPI belum membuka fakultas baru karena tengah mempersiapkan proses akreditasi institusi perguruan tinggi yang akan berakhir tahun depan.
Ke depan, UPI berencana memperkuat pembukaan program studi baru, khususnya pada jenjang S2 dan S3 yang bersifat multidisiplin dan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Langkah ini sejalan dengan prioritas pembangunan nasional di bidang pangan, energi, dan air.
Beberapa program unggulan yang telah dimiliki UPI antara lain Program Studi Energi Baru dan Terbarukan serta Program Studi Robotika, yang mendukung pengembangan teknologi dan inovasi nasional.
(Tribunnews.com/Latifah)