TRIBUNTRENDS.COM - Aksi komika Indra Frimawan yang diduga meludahi Fajar Sadboy terus menuai sorotan publik dan memicu gelombang kritik.
Psikolog Lita Gading dengan tegas menilai tindakan tersebut bukan sekadar candaan, melainkan persoalan adab dan penghormatan antarindividu.
Ia pun menekankan bahwa dalam setiap interaksi, yang dihadapi adalah manusia, bukan hewan, sehingga tidak ada alasan membenarkan perilaku yang merendahkan.
Potongan video yang memperlihatkan momen Indra Frimawan diduga meludahi Fajar Sadboy viral di media sosial dan memicu beragam reaksi, mulai dari cibiran hingga kritik keras.
Peristiwa itu terjadi saat keduanya menjadi bintang tamu dalam podcast milik Deddy Corbuzier.
Dalam video yang beredar, Indra terlihat melakukan aksi yang diduga meludah ke arah Fajar di tengah suasana perbincangan yang awalnya santai.
Meski sebagian pihak menganggapnya sebagai bagian dari candaan, banyak warganet menilai tindakan tersebut telah melewati batas kesopanan.
Kritik juga datang dari psikolog Lita Gading lewat unggahan di Instagramnya, @litagading.
CEO dari Lita Gading Consultant ini menyebut tindakan tersebut tidak bisa dianggap sebagai candaan biasa, karena menyangkut norma dan penghormatan antarindividu.
Terlepas dari siapa sosok yang terlibat, Lita menilai meludah tetap tidak dapat dibenarkan karena menyangkut etika dasar antarindividu.
"Kita bicara soal adab, ini lagi viral Indra diludahin fajar sadboy, saya nggak kenal siapa Indra," ujar Lita, dikutip Tribunnews, Jumat (13/2/2026).
"Terlepas dia terkenal apa enggak, terlepas dia bercanda atau tidak, tetap itu adab," lanjut Lita.
Ia berpendapat tindakan tersebut berpotensi merendahkan orang lain dan dapat berdampak pada persepsi publik, terutama ketika dilakukan oleh figur publik di ruang terbuka.
"Orang kalau sudah meludah, itu bukan lagi lucu, tapi sebuah penghinaan, sekalipun kamu bercanda atau seorang komika," terangnya.
"Tolong batasi yang namanya norma, belajar soal adab, jangan adab dikesampimgkan, jangan hanya mementingkan urusan perut mulu," sambung Lita.
Lulusan Master of Psychology dari Lingnan University, Hong Kong ini juga menekankan bahwa interaksi yang terjadi adalah antar sesama manusia yang harus saling menghormati, bukan memperlakukan orang lain secara tidak pantas.
Menurutnya, tindakan tersebut tetap tidak dapat dibenarkan dan tidak seharusnya dijadikan bahan candaan, terlepas dari bagaimana respons pihak yang menerima perlakuan tersebut.
"Di sini anda berinteraksi dengan manusia, bukan hewan," tandas Lita.
"ini bukan lucu lagi, ini penghinaan, terlepas fajar terima atau tidak, ini soalnya tidak lucu," pungkasnya.
Baca juga: Dicecar Amanda Manopo, Fajar Sadboy Akhirnya Jujur Soal Momen Diludahi Indra Frimawan: Baik Kok
Melansir TribunMedan, Indra Frimawan dikenal sebagai salah satu pelawak tunggal dan aktor berbakat Indonesia.
Ia memiliki nama lengkap Benedictus Nathanael Indra Frimawan, lahir pada 13 Mei 1991.
Namanya mulai mencuat di dunia stand up comedy berkat gaya komedinya yang khas, absurd, dan tak terduga.
Sejak 2013, Indra aktif bergabung dengan komunitas Stand Up Indo Jakarta Barat, sebuah langkah awal yang menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya.
Karier Indra mulai mendapat perhatian publik saat ia bersama komunitasnya mengikuti Liga Komunitas Stand Up yang diselenggarakan Kompas TV pada 2014.
Dalam ajang tersebut, Stand Up Indo Jakarta Barat berhasil melaju hingga babak grand final.
Meski harus puas sebagai runner up setelah kalah poin dari Stand Up Indo Medan, pencapaian itu menjadi batu loncatan besar bagi Indra untuk melangkah lebih jauh.
Tahun 2015 menjadi momentum penting dalam kariernya. Indra terpilih sebagai salah satu finalis Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim ke-5 (SUCI 5).
Di kompetisi ini, ia bersaing dengan sejumlah komika berbakat, termasuk rekan-rekannya satu komunitas.
Dengan gaya absurd yang menjadi ciri khasnya, serta sesekali menyelipkan trik sulap sederhana seperti sulap kartu dan kipas salju, Indra berhasil mencuri perhatian penonton dan juri.
Ia melaju hingga grand final dan meraih posisi juara ketiga sebuah prestasi yang mengukuhkan namanya di kancah stand up comedy nasional.
Gaya komedi Indra dikenal bertipe one liner, yakni melontarkan kalimat-kalimat singkat yang padat namun mampu memancing gelak tawa.
Materinya sering kali tak terduga, mengandalkan permainan logika yang absurd dengan penyampaian deadpan ekspresi wajah datar tanpa banyak gestur. Di balik kesederhanaannya, tipe komedi ini menuntut ketelitian tinggi dalam penulisan materi, sesuatu yang menjadi kekuatan utama Indra.
Berkat konsistensinya, Indra juga dinobatkan sebagai Komika Persahabatan di SUCI 5. Ia pun kerap disejajarkan dengan komika absurd lainnya yang sukses menembus tiga besar SUCI.
Hingga kini, Indra Frimawan dikenal sebagai sosok komika dengan karakter unik tenang, sederhana, namun mampu menghadirkan tawa lewat cara yang tak biasa.
(Tribunnews.com, Rinanda) (TribunMedan.com, Tommy)