TRIBUNNEWS.COM - Sebuah warung kopi bernama Warkop Purwo kini tengah menarik perhatian warga Solo, Jawa Tengah, dan sekitarnya.
Terletak di sisi utara Rel Bengkong Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, lokasi ini menghadirkan pengalaman ngopi yang berbeda dari kafe-kafe pada umumnya.
Ditambah suasana malam perkotaan, ngopi bernuansa hiruk pikuk pengendara motor mondar-mandir di jalan protokol kota.
Warkop Purwo resmi dibuka pada awal tahun 2024 dan sejak itu langsung ramai dikunjungi oleh beragam kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pekerja.
Salah satu pemilik Warkop Purwo, Bagas Kusumo Wicaksono, menyebut persiapan sudah dilakukan sejak tahun 2023 dengan memberikan tester kepada orang-orang tedekat.
"Buka itu tahun 2024 bulan Januari ya, tapi untuk preparing dan segala macam kita udah tes di tahun 2023," kata Bagas saat dijumpai di kedainya, Senin (16/2/2026) malam.
Warkop Purwo terbentuk berkat inisiatif empat orang sahabat yang memiliki hobi sama yakni ngopi dan nongkrong.
Berawal dari obrolan santai, muncul gagasan untuk menghadirkan ruang nongkrong sederhana namun nyaman bagi masyarakat.
Dari ide spontan tersebut, mereka sepakat merintis usaha bersama dan mendirikan Warkop Purwo.
"Awal mula ya teman nongkrong, ngeband, event, nongkrong kopi-kopinan juga," jelas Bagas.
Berbeda dengan coffee shop lain, target Utama Warkop Purwo untuk kelas menengah ke bawah.
Dengan arti lain, orang-orang yang ingin nongkrong dan ngopi tapi tak perlu mengeluarkan banyak uang.
Baca juga: Tren Coffee Shop Menjawab Kebutuhan Milenial dan Gen Z, Sajian Minum dan Makanan Enak Saja Tak Cukup
Dengan harga terjangkau, pengunjung sudah bisa menikmati kopi serta menu-menu lain sembari berkumpul dengan teman-teman atau keluarga.
"Ide awal dari saya, karena melihat mungkin pas dua tahun belakangan ini kan banyak coffee shop di Solo, tapi dengan konsep yang bener-bener coffee shop lah."
"Terus punya ide kita bikin tempat nongkrong tapi dibuat kelas menengah bisa dibilang, menengah ke bawah lah," ujar owner lain, Syaiful Mazid.
Salah satu hal yang menjadi ciri khas Warkop Purwo adalah konsepnya yang sederhana.
Alih-alih menggunakan kursi dan meja modern seperti kebanyakan kafe, tempat ini justru mengandalkan dingklik atau bangku kecil sebagai tempat duduk pengunjung.
Penataan yang apa adanya, berpadu dengan suasana terbuka di pinggir rel kereta, justru menciptakan kesan hangat dan membumi.
Konsep dingklik ini menjadi pembeda sekaligus daya tarik tersendiri.
Kesederhanaan tersebut pun justru memperkuat identitas Warkop Purwo sebagai warung kopi rakyat yang ramah bagi semua kalangan.
Selain konsep tempat yang unik, menu yang ditawarkan pun sederhana namun variatif, mulai dari kopi hitam, kopi susu, kopi butter, teh, hingga minuman tradisional dan camilan ringan.
Harga yang dipatok relatif terjangkau sehingga cocok bagi pelajar, mahasiswa, maupun pekerja.
"Paling enggak satu orang uang 20 ribu udah bisa jajan, nongkrong-nongkrong aja bebas gitu," kata Syaiful.
Pemilihan Nama Warkop Purwo
Nama “Purwo” sendiri memiliki makna khusus bagi para pendirinya.
Selain merujuk pada kawasan Purwosari sebagai lokasi berdirinya warung kopi, kata “Purwo” juga diambil dari makna bahasa Jawa yang berarti “Awal” atau “Permulaan”.
Nama tersebut dipilih sebagai simbol awal perjalanan mereka dalam membangun usaha bersama sekaligus harapan agar tempat ini menjadi awal dari banyak cerita dan kebersamaan.
"Nama Warkop Purwo sendiri tuh sebenarnya awalnya dari Mas Danang (owner lain), Purwo dari kata Purwosari, cuman kita ambil Purwo-nya aja."
"Karena ini adalah proyek pertama kita berempat," terang Syaiful.
Sementara pemilihan kata 'Warkop', yakni untuk mempresentatifkan dengan kesederhanaan agar bisa dinikmati oleh semua kalangan.
"Kalau Warkop kan buat representatif kesederhanaan sih," lanjut Syaiful.
Di akhir, Syaiful menuturkan, Warkop Purwo sengaja dibangun untuk pembeda dari kebanyakan coffee shop di Kota Solo.
"Ini bukan coffee shop yang harus ada dengan banyak fasilitas, ya perbedaannya di situ," tutup Syaiful.
(Tribunnews.com/Ifan)