TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ahmad Jaelani harus menelan pil pahit. Dia kini telah kehilangan sosok ayah penyayang untuk selamanya.
Ayah Jaelani, Jumadi meninggal seusai mengalami kecelakaan di Persimpangan Milo Semarang pada Kamis (19/2/2026) dini hari.
Saat itu, Jumadi beserta istrinya hendak berjualan kerupuk di Pasar Karangayu Semarang.
Kini, aktivitas rutin keseharian yang dilihat Jaelani pun telah hilang.
Tak disangka, Rabu (18/2/2026) malam adalah aktivitas terakhir ayahnya membuat kerupuk.
Baca juga: Rekaman CCTV Detik-detik Kecelakaan di Simpang Milo Semarang: 2 Pemotor Tewas
• Mulai 1 April 2026, Warga Jateng Bayar Pajak Kendaraan Didiskon 5 Persen
Kamis (19/2/2026) sore, suasana duka menyelimuti sebuah rumah di Jalan Lamper Tengah XI, Kelurahan Lamper Tengah, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Deretan kursi disusun di depan teras, tenda sederhana berdiri, dan bendera kuning terpasang di mulut gang. Tanda rumah itu sedang berduka.
Ahmad Jaelani (28) duduk dengan mata berkaca-kaca sambil menyambut pelayat yang berdatangan.
Meski ayahnya, Jumadi (51), telah dimakamkan pada siang harinya, Jaelani masih menyambut pelayat yang datang silih berganti.
Dia terdiam, larut dalam ingatan tentang sosok ayah yang pagi itu berpamitan untuk berdagang, namun tak pernah kembali.
Kepada Tribunjateng.com, Jaelani menceritakan aktivitas terakhir ayahnya sebelum kecelakaan maut terjadi.
Malam sebelumnya, Jumadi masih menjalani rutinitasnya sebagai penjual kerupuk.
“Bapak sore atau malamnya itu bikin kerupuk, terus dini hari mengantar ibu ke pasar,” kata Jaelani.
Dini hari itu, Jumadi berboncengan dengan istrinya menggunakan sepeda motor Honda Supra 125.
Kerupuk terung putih yang telah disiapkan turut dibawa untuk dijual di Pasar Karangayu Semarang.
Perjalanan dari kawasan Lamper menuju pusat kota itu seharusnya menjadi rutinitas biasa, namun berakhir di persimpangan Milo.
Sekira pukul 03.00, Jaelani menerima kabar kecelakaan. Dia langsung bergegas menuju lokasi.
“Ibu saya juga ditabrak di persimpangan itu, tapi lukanya ringan. Bapak saya luka di kepala dan tangannya patah,” ungkap dia.
Yang paling membekas bagi Jaelani adalah reaksi sang ibu di lokasi kejadian.
“Ibu minta saya membangunkan bapak, seolah-olah belum bisa menerima,” imbuh dia.
Baca juga: Fakta Baru Kecelakaan Bus Cahaya Trans di Semarang: Sopir Bikin SIM Palsu Seharga Rp1,3 Juta
• Kejanggalan Kasus Mayat dalam Koper di Brebes: Keluarga Tuntut Hukuman Mati
Rekaman kamera pengawas (CCTV) merekam detik-detik kecelakaan maut yang merenggut dua nyawa di persimpangan Milo, Jalan Brigjen Katamso, Kota Semarang pada Kamis (19/2/2026) dini hari.
Video berdurasi belasan detik itu memperlihatkan bagaimana perjalanan rutin pencari nafkah berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik.
Pada awal rekaman, sekira pukul 02.48, suasana persimpangan tampak lengang.
Jalanan terlihat sepi, hanya sesekali kendaraan melintas.
Sebuah truk tampak melaju dari arah Jalan Brigjen Sudiarto menuju Simpang Lima Semarang.
Lampu lalu lintas di persimpangan tersebut menyala kuning berkedip (flashing), menandakan pengendara diminta waspada dan mengurangi kecepatan.
Beberapa detik kemudian, dari arah yang sama, muncul sepeda motor Honda Supra 125 yang dikendarai Jumadi (51) dengan istrinya berboncengan.
Motor melaju dengan kecepatan sedang. Di bagian belakang kendaraan tampak muatan dagangan berupa kerupuk terung putih, barang yang hendak mereka jual di Pasar Karangayu Semarang.
Namun ketika motor tersebut berada tepat di tengah persimpangan, situasi berubah drastis.
Dari arah utara, Jalan Dr Cipto, meluncur motor Honda Scoopy yang dikendarai Kusdiyantoro (26) dengan kecepatan tinggi.
Dalam hitungan sepersekian detik, tabrakan keras tak terhindarkan.
Benturan terjadi di sisi motor Supra.
Kedua kendaraan tergeletak, sementara para pengendara dan penumpang terpental ke jalan.
Rekaman memperlihatkan motor Scoopy terseret beberapa meter, sedangkan kerupuk terung putih berserakan di badan jalan.
Beberapa detik setelah tabrakan, lampu kendaraan lain mulai terlihat mendekat.
Arus lalu lintas perlahan melambat, menandai awal kepanikan di lokasi kejadian.
Baca juga: M Ridwan Legenda PSIS Latih Garudayaksa, Gantikan Erwan Hendarwanto
Dua motor mengalami kecelakaan di persimpangan dengan kondisi lampu lalu lintas menyala kuning berkedip.
Berdasarkan data Satlantas Polrestabes Semarang, dua pengendara dinyatakan meninggal di lokasi.
Korban pertama adalah Kusdiyantoro (26), pengendara Honda Scoopy asal Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan.
Korban kedua yakni Jumadi (51), pengendara Honda Supra 125 asal Kecamatan Semarang Selatan.
Kasubnit Gakkum II Satlantas Polrestabes Semarang, Iptu Novita Candra menjelaskan, kedua korban mengalami cedera kepala berat akibat benturan keras.
“Saat melintasi persimpangan dengan lampu lalu lintas yang menyala kuning berkedip, pengendara diduga kurang waspada dan tidak mengurangi kecepatan. Akibatnya terjadi tabrakan,” ujarnya.
Jenazah kedua korban kemudian dievakuasi ke kamar jenazah RSUP dr Kariadi Semarang.
Sementara itu, istri Jumadi yang turut berboncengan mengalami luka-luka dan mendapatkan penanganan medis.
Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban.
Di rumah duka di kawasan Lamper Tengah, Ahmad Jaelani (28), anak Jumadi, tak kuasa menahan kesedihan.
Dia mengenang ayahnya sebagai sosok pekerja keras yang setiap dini hari berangkat untuk menghidupi keluarga. (*/Reza Gustav Pradana)