TRIBUNKALTIM.CO - Panggung Hafiz Indonesia kembali melahirkan sosok inspiratif yang menggetarkan hati.
Kali ini, perhatian publik tertuju pada Muhammad Nur Ashura, bocah berusia 6 tahun asal Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.
Meski hadir dengan keterbatasan fisik akibat kondisi medis, semangat Ashura dalam menghafal Al-Qur'an membuat decak kagum para penonton, termasuk sang pembawa acara, Irfan Hakim.
Penampilan Ashura di panggung perdana ini sangat mencuri perhatian.
Ia tampil layaknya seorang "Raja Kecil" dengan mengenakan Baju Kustin, pakaian adat kebesaran dari Kesultanan Kutai Kartanegara.
Ashura mengenakan setelan berwarna hitam berbahan beludru yang memberikan kesan mewah dan elegan.
Pakaian tersebut dihiasi dengan sulaman benang emas di bagian kerah, ujung lengan, dan bagian bawah baju.
Tak lupa, ia mengenakan penutup kepala khas yang disebut Setapu, berwarna hitam dengan hiasan ornamen emas di bagian depan dan bulu halus di bagian atasnya.
"Maaf, Tuan Raja, bajunya bagus banget," puji Irfan Hakim saat menyapa Ashura di atas kursi rodanya.
Baca juga: Live Streaming Hafiz Indonesia 2026, Daftar 30 Peserta dan Asalnya, Ada Ashura dari Kukar Kaltim!
Perjuangan Melawan Hidrosefalus
Di balik penampilannya yang ceria, Ashura menyimpan kisah perjuangan yang luar biasa.
Sang ibu menceritakan bahwa Ashura terlahir normal, namun divonis menderita hidrosefalus saat berusia 7 bulan.
"Di usia 6 bulan sudah ada tanda-tanda, bola matanya muter-muter jadi enggak fokus. Pas di-CT Scan ternyata ada cairan berlebih di otaknya," ungkap sang ibu kepada Irfan Hakim.
Akibat kondisi tersebut, Ashura harus menjalani operasi pemasangan selang dari kepala menuju perut untuk membuang kelebihan cairan tersebut.
Kondisi ini juga berdampak pada kemampuan penglihatannya yang terbatas. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya menghafal kalam Allah.
"Kondisiku tidak menghalangi kegiatanku, Bu. Karena semua ciptaan Allah itu pasti yang terbaik," ujar Ashura dalam video profilnya yang membuat suasana studio menjadi haru.
Menghafal 5 Juz Tanpa Bisa Membaca
Hingga saat ini, Ashura tercatat telah menghafal 5 Juz Al-Qur'an.
Yang mengejutkan, hafalan tersebut ia dapatkan bukan dengan membaca mushaf secara langsung, melainkan melalui metode pendengaran (simai).
"Metodenya dari mendengarkan saja dari kecil. Kalau (melihat) dekat dia bisa, kalau jauh agak kurang fokus," jelas sang ibu.
Irfan Hakim sempat menguji penglihatan Ashura dengan jarak tertentu, dan benar saja, Ashura kesulitan melihat objek yang jauh.
Saat ini, Ashura juga harus menggunakan kursi roda karena baru saja mengalami musibah patah tulang paha akibat terjatuh saat bermain di rumah.
Cita-cita Menjadi Imam Besar
Saat ditanya mengenai mimpinya di masa depan, Ashura menjawab dengan lantang dan penuh keyakinan.
"Kalau kamu cita-citanya mau jadi apa?" tanya Irfan Hakim.
"Jadi imam-imam besar. Jadi imam besar," jawab Ashura mantap.
Irfan pun mendoakan agar Ashura bisa segera pulih dari cedera kakinya dan terus istiqomah dengan Al-Qur'an.
"Nanti mudah-mudahan bisa berdiri lagi, jalan lagi, lari lagi, kejar cita-cita jadi imam besar. Amin," tutup Irfan.
Kustin merupakan pakaian khas masyarakat Suku Kutai yang mendiamai Kalimantan Timur.
Pakaian adat tersebut umumnya dipakai oleh golongan menengah ke atas.
Di mana sebagai pakaian resmi upacara pada masa Kerajaan Kutai Kertanegara.
Dilansir TribunKaltim.co dari kompas.com, sementara itu, istilah Kustin berasal dari kata "kostum" yang artinya kebesaran.
Dikutip dari buku Pakaian Adat Tradisional Daerah Kalimantan Timur (1990), dewasa ini pakaian Kustin dipakai oleh Suku Kutai pada upacara pernikahan oleh golongan menengah ke atas.
Baju adat Kustin sendiri merupakan warisan Kesultanan Kutai Kertanegara yang memiliki makna kebesaran.
Pada masanya, baju adat Kustin hanya dikenakan oleh raja dan keturunannya.
Tak heran jika baju ini dikenal sebagai baju bangsawan ala Kalimantan Timur.
Namun seiring waktu, baju adat Kustin juga dikenakan oleh masyarakat umum pada momen-momen tertentu.
Program Hafiz Indonesia 2026 tayang setiap hari selama Ramadan 2026 pukul 13.30 WIB.
Bagi pengguna televisi digital, acara Hafiz Indonesia 2026 ini disiarkan RCTI dan tersedia di Channel 28 dan umumnya akan tersetel secara otomatis.
Sementara itu, bagi pengguna Set Top Box (STB), disarankan untuk mengaktifkan fitur LCN (Logical Channel Number) dan melakukan pemindaian ulang agar saluran RCTI muncul dengan optimal.
Jika mengalami kendala teknis, pemirsa dapat menghubungi MNC Helpdesk melalui nomor 0856-9003-900 tanpa dipungut biaya.
Selain melalui televisi, Hafiz Indonesia 2026 juga dapat disaksikan secara daring (online) melalui layanan live streaming resmi.
Pemirsa dapat menggunakan aplikasi RCTI+, yang tersedia di Play Store dan App Store, atau mengakses siaran langsung melalui situs resmi RCTI+ dan Okezone TV.
Layanan live streaming ini memungkinkan pemirsa tetap mengikuti tayangan di mana pun berada, selama terhubung dengan jaringan internet.
Berikut ini link live streaming RCTI untuk Hafiz Indonesia 2026.
>>> Klik Nonton <<<