SURYAMALANG.COM, MALANG - Di tengah riuh pembeli di pasar takjil Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Senin (23/2), Dila Usada sibuk membolak-balikkan kue di cetakan.
Mahasiswi Jurusan Keperawatan di Universitas Kepanjen ini memanfaatkan sisa masa studinya dengan menjual kue balok di pasar takjil.
Wanita 23 tahun itu membuka stan bernama 'Aneka Jajanan Kekinian' di pasar takjil Stadion Kanjuruhan.
Wanita asal Kecamatan Tirtoyudo ini memberanikan diri membuka usaha kuliner karena memiliki hobi memasak.
Dila tertarik membuka usaha kuliner sejak dua tahun lalu. "Kalau di rumah, saya memang suka membuat jajan. Kemudian saya coba promosikan ke teman-teman, ternyata banyak yang suka," kata Dila.
Awalnya Dila membuka stan di halaman minimarket di Kecamatan Pakisaji. Saat itu Dila hanya menjual dimsum, basreng, sampai takoyaki mentai.
Seiring berjalannya waktu, Dila mulai mencoba menu kue balok. Kue balok merupakan jajanan berbentuk persegi panjang, padat, dan tebal seperti balok.
Kue ini bertekstur lembut di dalam dan sedikit garing di luar, dan sering disajikan dengan isian lumer adonan coklat yang dipanggang dengan arang.
Dila memilih jajanan ini karena tidak banyak yang menjual kue balok di sekitar Kepanjen.
"Saat saya coba jual di pasar takjil Stadion Kanjuruhan, malah jadi best seller daripada dimsum," tambahnya.
Dila menjual kue balok seharga mulai dari Rp 12.000/3 pieces. Sedangkan untuk wonton, dimsum, takoyaki, dan basreng dijual mulai dari harga Rp 10.000.
Dila baru berjualan di Pasar Takjil sejak awal puasa. Dalam sehari Dila mampu menghabiskan 2 kilogram adonan kue balok dalam waktu 1 jam.
Dila tidak menyangka kue balok buatannya justru menjadi best seller. "Kalau dimsum dan wonton itu bisa 150 pieces dalam beberapa jam berjualan," sambungnya.
Di Pasar Takjil Stadion Kanjuruhan, Dila membuka stan mulai pukul 15.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Sedangkan di Pakisaji buka mulai pukul 13.00 WIB sampai pukul 20.30 WIB.
Aroma rempah dari Sego Babat Mas Bull menarik selera makan di Bazar Ramadan Jalan Arjuno, Kota Batu.
Seporsi Sego Babat Mas Bull yang berisi nasi hangat, sambal, tahu, serundeng, lalapan, dan babat sapi dibanderol seharga Rp 13.000.
Pembeli asal Kelurahan Sisir, Rita Ayu sudah berlangganan Sego Babat Mas Bull sejak setahun lalu. Rasa gurih dari babat dan serundreng, ditambah sambal yang pedas asin membuat Rita ketagihan.
"Meskipun sederhana, tapi rasanya nikmat dan lezat. Saya biasa minta tambah sambal karena babatnya paling cocok dimakan dengan sambal dan nasi hangat," kata Rita.
Biasanya Rita membeli Sego Babat Mas Bull di Jalan Diponegoro.
"Tapi saat Ramadan ini Sego Babat Mas Bull buka di Bazar Jalan Arjuno, saya tetap datang. Meskipun sekarang sering hujan, saya tetap datang," tambahnya.
Owner Sego Babat Mas Bull, Ady mengaku sudah tiga tahun ini menjalankan usahanya di Kota Batu.
"Pemasarannya dari orang mulut ke mulut orang yang cocok dengan rasa masakan saya. Mayoritas pembeli dari Kota Batu. Banyak juga wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu," kata Ady, Senin (23/2).
Pria yang akrab disapa Bulux ini tidak hanya menjual babat yang gurih dan lezat. Juga ada aneka lauk lain, seperti babat rawis, paru, limpa, usus iso, daging empal, satai komoh, satai usus, dan beberapa lauk lainnya.
"Saya tidak ingin membuat pembeli kecewa. Saya pertahankan rasa sampai sekarang," ujarnya.
Saat hari biasa Ady berjualan di Jalan Diponegoro mulai pukul 06.00 WIB sampai WIB. Sedangkan saat Ramadan, Ady berjualan di Bazar Ramadan Arjuno mulai pukul 15.00 WIB sampai menjelang Magrib.
"Pendapatan rata-rata sekitar Rp 1 juta, baik saat Ramadan maupun hari biasa," tambahnya.(Lu'lu'ul Isnainiyah/Dya Ayu)