TRIBUNTRENDS.COM - Kepergian HMZ (17) tidak hanya meninggalkan luka pedih bagi keluarga, tetapi juga menyisakan kekosongan di hati setiap orang yang pernah mengenalnya. Remaja yang dikenal karena keceriaannya ini kini telah beristirahat dengan tenang, meninggalkan memori tentang sosok yang jujur, tekun, dan penuh kasih.

Bagi Santoso (49), HMZ bukan sekadar anak bungsu, melainkan cahaya di rumahnya. Di mata sang ayah, HMZ adalah pribadi yang sangat ramah dan tidak pernah memilih-milih dalam bergaul. Kesantunannya tercermin dari kebiasaannya yang selalu menyapa siapa pun yang ditemuinya.

"Apa yang dikatakan HMZ selalu ditepati. Dia anak yang baik," kenang Santoso dengan nada getir saat ditemui pada Senin (23/2/2026).

Kesedihan mendalam tampak jelas saat Santoso berziarah ke makam putrinya di Dusun Satak, Desa Ngepung. Rumah yang biasanya riuh dengan suara tawa HMZ, kini mendadak senyap. Santoso dan istrinya, Damini (40), beserta adik korban yang masih berusia 8 tahun, kini harus belajar mengikhlaskan kepergian anggota keluarga tercinta mereka.

Energi Positif di Lingkungan Sekolah

Kehilangan serupa dirasakan di lingkungan SMKN PGRI 2 Kertosono, tempat HMZ menuntut ilmu di jurusan Pemasaran kelas 2. Khaffidz Miftakhul Mukhlis, Guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah tersebut, mengenang HMZ sebagai siswi yang menonjol karena kecerdasannya.

"Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas, almarhumah aktif bertanya. Motivasi belajarnya tinggi. Almarhumah siswi yang cerdas," ungkap Khaffidz. Ia menambahkan bahwa kehadiran HMZ selalu membawa energi positif bagi teman-temannya karena sifatnya yang ceria.

Senada dengan sang guru, sahabat karib korban, Septinia Dewi Puspita Sari (17), tak mampu menahan air mata saat mengingat kebaikan HMZ. Baginya, HMZ adalah sahabat yang selalu ada saat teman-temannya mengalami kesulitan.

"Kami tak akan pernah lupa kebaikan yang dilakukan HMZ. Termasuk momen kami nongkrong dan bercanda bersama. Kami kehilangan," ucap Septinia sambil menyeka air mata.

Akhir Perjalanan yang Tragis

Duka ini bermula ketika jasad HMZ ditemukan oleh seorang pencari kayu di aliran Sungai Jilu, Desa Sukopuro, Malang, pada Selasa (17/2/2026). Kondisinya yang mengenaskan memicu keprihatinan luas dan penyelidikan mendalam oleh pihak kepolisian.

Kini, pihak berwajib telah mengamankan seorang terduga pelaku berinisial YD di wilayah Kota Malang pada Sabtu (21/2/2025). Proses pemeriksaan masih terus berjalan untuk mengungkap motif di balik peristiwa yang merenggut nyawa remaja berpotensi ini.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, tak ada kata yang bisa menggambarkan rasa sakit atas kekejaman yang menimpa HMZ. Namun, di tengah awan mendung yang menyelimuti, kenangan akan senyum dan kebaikan HMZ tetap abadi di ingatan mereka yang mencintainya.

Baca Lebih Lanjut
Keluarga Siswi Nganjuk Tewas Tangan Terikat di Sungai Minta Tersangka Dihukum Berat, Ayah: Selamanya
Arie Noer Rachmawati
Sosok Remaja Nganjuk Tewas Tangan Terikat di Sungai Malang Dikenal Ramah, Guru BK Sebut Siswi Cerdas
Arie Noer Rachmawati
Sosok Gadis Asal Nganjuk yang Jadi Korban Pembunuhan di Malang, Dikenal Ramah dan Ceria
Frida Anjani
Tangis Ayah Perempuan Tewas dengan Tangan Terikat di Sungai Jilu Malang, Keluarga Terpukul
Arie Noer Rachmawati
Duka Ayah Remaja Nganjuk yang Dibunuh di Malang : Biasanya Kami Berkumpul Bersama
Titis Jati Permata
FAKTA Jasad dengan Tangan Terikat di Malang: Gadis Nganjuk Jadi Korban Pembunuhan, Pelaku Ditangkap
Frida Anjani
KRONOLOGI Kepergian Remaja Asal Nganjuk Hingga Ditemukan Meninggal di Malang
Sri Wahyuni
Sebelum Ditemukan Tewas, Remaja Asal Nganjuk Sempat Kunjungi Rumah Saudara Di Malang
Sri Wahyuni
Misteri Jasad Wanita dengan Tangan Terikat di Sungai Jilu Malang, Polisi Tangkap Terduga Pelaku
Juang Naibaho
Identitas Jasad dengan Tangan Terikat di Sungai Malang, Ternyata Gadis 17 Tahun Asal Nganjuk
Dwi Prastika