TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengasuh Pondok Pesantren Cibitung, Abdul Rohman (38), menceritakan reaksi histeris para santrinya saat mengetahui rekan mereka, NS (13), meninggal akibat dianiaya ibu tirinya, TR (47).
NS merupakan bocah asal Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang meninggal diduga dianiaya ibu tirinya, TR (47).
Baca juga: Santri Pesantren Darul Maarif Histeris Dapat Kabar NS Meninggal di Tangan Ibu Tiri
Hal tersebut disampaikan Abdul saat ditemui Tribunnews.com di sebuah saung di lingkungan Pesantren Darul Ma'arif Cibitung, Selasa (24/2/2026) malam.
Duduk di saung kayu dengan penerangan seadanya, Abdul tampak menahan tangis. Matanya berkaca-kaca dan suaranya bergetar seakan mau menangis.
Baca juga: Fakta Ibu Tiri Aniaya Bocah hingga Tewas, Sudah Laporkan Kekerasan sejak 2023 dan Berakhir Damai
Menurut Abdul, teman-teman satu pondok sangat terpukul saat mendengar kabar bocah asal Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, itu meninggal dianiaya.
"Teman-teman juga di sini pada histeris, pada histeris ketika mendengar saudara Nizam meninggal," kata Abdul.
Abdul menyebut, reaksi emosional para santri itu terjadi karena sosok NS yang sangat membekas di hati teman-temannya, meskipun baru tujuh bulan menimba ilmu di pondok tersebut.
"Dia orangnya itu tadi baik, lugu, jarang bicara, sekali bicara dia bikin orang tertawa gitu," ujarnya. Ia mengaku selalu memantau kondisi korban setiap saat selama berada di pondok.
"Yang namanya guru kepada santrinya itu kadang bisa melebihi anaknya Pak, bisa melebihi kasih sayang itu kepada anak sendiri. Yang namanya guru ke santri itu tiap hari tiap malam pasti saya pantau 24 jam," tutur Abdul.
Kabar kematian NS pada Kamis (19/2/2026) sore menjadi pukulan telak bagi Abdul dan seluruh penghuni pondok. "Ketika saya mendengar saudara Nizam itu meninggal, saya betul-betul merasa terpukul luar biasa," ucapnya.
Abdul mengenang NS yang akrab disapa Raja di lingkungan pesantren sebagai anak yang baik. Selama tujuh bulan menimba ilmu, santri kelas 1 SMPIT itu tidak pernah sekalipun berbuat masalah.
"Saya tanya kepada teman-temannya pas kemarin ada kejadian itu ya. Saya tanya satu per satu apakah ada kesalahan gitu? Pernah ada kesalahan saudara almarhum di sini? Itu teman-temannya semuanya bilang enggak pernah, enggak pernah ada kesalahan," kata Abdul.
Abdul mengaku sangat merasakan kehilangan. Terlebih, setiap kali mengaji NS selalu duduk di barisan paling depan.
Abdul lalu menceritakan kronologi sebelum kabar duka itu datang. Pesantren sempat diliburkan lebih awal pada 3 Februari 2026 karena adanya pembangunan pondok.
Para santri, termasuk NS, diwajibkan kembali pada 18 Februari untuk mengikuti pengajian kitab Ramadhan. Namun, pada malam tanggal 18 Februari, saat Abdul mengabsen santri usai shalat tarawih, NS tidak terlihat.
"Pas saya tanya kalau Raja ke mana atau almarhum gitu, Raja ke mana? Enggak ada yang tahu, waktu itu enggak ada yang tahu," ungkap Abdul.
Keesokan paginya pada Kamis (19/2/2026), Abdul menerima pesan WhatsApp dari ayah kandung korban, Anwar Satibi (38).
Pesan itu mengabarkan bahwa NS tidak bisa kembali ke pondok karena sakit, disertai kiriman foto dan video kondisi korban.
"Saya merasa aneh, kok videonya itu luar biasa, kakinya sampai melepuh gitu ya. Hidungnya juga rusak gitu kan," tuturnya.
Melihat kejanggalan tersebut, Abdul segera meneruskan video itu kepada Haji Isep Dadang Sukmana, kakek angkat sekaligus sosok yang pertama kali menitipkan NS ke pesantren.
Abdul berharap agar kematian santrinya tersebut diusut secara adil sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.
"Ya harapan saya mungkin kalau emang benar ini ada penganiayaan atau matinya yang kurang wajar ya kita harapkan dari pihak pondok pesantren jalani aja hukum sesuai dengan aturan negara kita Republik Indonesia. Kalau bisa ya sampai tuntas saja gitu," imbuhnya.
Baca juga: Bocah Sukabumi Tewas Dianiaya Ibu Tiri, Pengasuh Ponpes: Orangtua Berharap Anak Jadi Kiai
Haji Isep Dadang Sukmana mengungkapkan sering terjadi pertengkaran antara orangtua korban sebelum peristiwa penganiayaan terjadi.
Isep menyebut, ia kerap turun tangan menyelesaikan masalah antara ayah kandung korban, Anwar Satibi (38), dengan TR.
"Saya kadang-kadang capek gitu kan melihat ribut bertengkarlah itulah inilah terus-terusan maka yang dipermasalahkan apa sih, masalah anak aja," kata Isep kepada Tribunnews.com di kediamannya di Kampung Pasirpulus, Jampang Kulon, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (24/2/2026).
Karena seringnya terjadi keributan, Isep akhirnya mengambil inisiatif untuk memindahkan NS ke lingkungan pendidikan yang lebih kondusif.
Ia menyarankan agar NS dimasukkan ke Pondok Pesantren Darul Ma'arif di Cibitung, tempat yang juga dibina oleh Isep.
"Akhirnya saya memutuskan gini aja untuk untuk lebih adil supaya nyaman dua-duanya cobalah masukkan ke pesantren," ujar Isep.
Isep juga membeberkan fakta bahwa kekerasan terhadap NS sebenarnya sudah pernah terjadi sebelumnya.
Pada tahun 2025, kasus dugaan penganiayaan oleh ibu tiri ini sempat dilaporkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pelabuhan Ratu.
Namun, saat itu kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. TR memohon kepada suaminya agar laporan tidak dilanjutkan dan berjanji akan bertobat.
"Dia memohon kepada suaminya supaya jangan dilanjut, dia ikut tobat lah," ungkapnya.
Isep pun memfasilitasi perdamaian tersebut dengan harapan situasi akan membaik.
"Eh ternyata sekarang kejadiannya seperti ini ya walaupun saat ini ya belum tahu siapa pelakunya apakah benar ibu tiri apakah bukan," tegasnya.
Saat NS dirawat di IGD Rumah Sakit Jampang Kulon sesaat sebelum meninggal pada Kamis (19/2/2026), Isep sempat berkomunikasi dengan korban.
Dalam kondisi kritis, NS sempat bercerita mengenai apa yang dialaminya.
Baca juga: Bocah Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri di Sukabumi, Ayah Korban Mengaku Kerap Cekcok dengan Istri
Menurut Isep, NS mengaku takut karena ada ibu tirinya di ruangan tersebut. Isep kemudian mencoba bertanya pelan-pelan.
"Terus "Ini kenapa?" "Karena kemarin tuh dikasih disuruh minum air panas." Nah suruh minum air panas itu jawaban si almarhum," ungkapnya.
Polres Sukabumi telah melakukan pemeriksaan terhadap ibu tirinya, TR (47).
Penyidik juga telah melakukan pemeriksaan terhadap belasan orang saksi. Namun, belum ada penetapan tersangka.
Dalam kasus ini, Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri melakukan otopsi terhadap jenazah NS. Hasilnya, ditemukan adanya sejumlah luka bakar pada tubuh korban. Luka tersebut tersebar di beberapa bagian anggota gerak hingga area wajah.
Meski menemukan luka bakar, pihak rumah sakit belum bisa memastikan penyebab pasti munculnya luka tersebut, apakah akibat tindakan kekerasan atau faktor ketidaksengajaan.