SURYA.CO.ID, SURABAYA - Persebaya Surabaya mengeluarkan pernyataan resmi menolak keras segala bentuk rasisme setelah bek muda mereka, Mikael Alfredo Tata, menjadi korban serangan diskriminatif.
Melalui akun Instagram resmi, klub menegaskan bahwa sepak bola adalah ruang kebersamaan, bukan kebencian, serta mengutuk tindakan rasisme yang menimpa pemainnya.
Postingan bertajuk Say No to Racism itu menekankan bahwa sepak bola bukan hanya soal strategi dan gengsi di lapangan, melainkan wadah pertemuan antar pemain, pelatih, ofisial, dan suporter.
Persebaya menegaskan perbedaan latar belakang, warna kulit, maupun identitas tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan seseorang.
Manajemen juga menyampaikan bahwa kasus rasisme terhadap Mikael Tata telah dilaporkan kepada Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) dan I League untuk penanganan lebih lanjut.
Langkah ini menunjukkan komitmen klub dalam melindungi pemainnya sekaligus menjaga nilai kemanusiaan dalam sepak bola.
Baca juga: Pesan Damai Mikael Tata Saat Diserang Rasisme, Persebaya Surabaya Tegaskan Nilai Kemanusiaan
Insiden bermula pada laga Persebaya kontra Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo, Senin (2/3/2026).
Pertandingan berlangsung sengit dan berakhir imbang 2-2.
Meski insiden di lapangan mereda, cerita berlanjut di media sosial.
Akun Instagram Mikael Tata mendadak dipenuhi komentar rasis.
Dari sekitar 300 komentar, jumlahnya melonjak menjadi lebih dari 1.800 hanya dalam sehari.
Komentar yang muncul tidak lagi menilai permainan, melainkan menyerang identitas pribadi dan warna kulitnya.
Beberapa komentar bernada merendahkan, bahkan disertai gambar bernuansa diskriminatif.
Gelombang dukungan dari Bonek hadir sebagai penyeimbang.
Mereka membanjiri kolom komentar dengan pesan solidaritas, meminta Tata tetap tegar menghadapi situasi.
Postingan resmi Persebaya kemudian muncul sebagai sikap tegas klub.
Manajemen menegaskan bahwa mereka tidak akan menoleransi tindakan rasisme, bahkan jika dilakukan oleh suporter sendiri.
Baca juga: Banjir Komentar Bonek Penuh Emosi, Tahan Persib Di GBT Mental Persebaya Surabaya Dipuji
Dalam pernyataan resminya, Persebaya menegaskan beberapa poin penting:
Manajemen menekankan bahwa rivalitas di lapangan harus berhenti setelah peluit panjang berbunyi.
Nilai kemanusiaan tetap menjadi hal utama yang dijunjung tinggi.
Pelatih Bernardo Tavares sebelumnya juga menyinggung soal sikap pemain.
“Pertandingan ini kami punya banyak pemain yang cedera. Harus bermain tidak di posisi utamanya. Tapi para pemain menunjukkan attitude yang bagus,” ujarnya.
Postingan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sepak bola Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam memutus rantai diskriminasi.
Persebaya berharap langkah tegas ini bisa menjadi contoh bagi klub lain untuk melawan rasisme.