TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG – Perayaan puncak Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang tahun ini berlangsung meriah dan penuh semangat.
Salah satu tatung terkenal dari Pekong Datok Mutaji Singkawang, Suhu Phen, mengaku merasa sangat bahagia setelah menampilkan atraksi budaya ekstrem pada Selasa lalu.
Menurutnya, perayaan Cap Go Meh tahun ini terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena suasana kebersamaan yang semakin kuat.
Baca juga: Atraksi Tatung Meriahkan Perayaan Cap Go Meh di Kabupaten Sanggau
“Rasanya senang, meriah tahun ini. Semangatnya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini perayaannya semakin bersatu dan semakin meriah,” ujar Suhu Phen saat diwawancarai Tribunpontianak.co.id, Kamis, 5 Maret 2026.
Suhu Phen bersama rombongan tatung dari Pekong Datok Mutaji sudah mempersiapkan diri sejak dini hari.
Mereka bahkan telah berkumpul sejak subuh di sekitar Kantor Wali Kota Singkawang untuk mengikuti pembarisan.
“Dari subuh kami sudah di pembarisan,” ungkapnya.
Baca juga: Kisah Tatung Suhu Pen Mutaji, Siapkan Diri Sebelum Perayaan Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang
Rombongan tatung tersebut masuk dalam barisan khusus. Saat melintas di depan panggung kehormatan, mereka menampilkan berbagai atraksi budaya khas Cap Go Meh, termasuk atraksi ekstrem seperti menusukkan benda tajam ke tubuh dan naik tandu.
Suhu Phen menjelaskan bahwa sebelum melakukan atraksi menusukkan benda tajam ke tubuh, para tatung terlebih dahulu membaca mantra dan doa.
Hal ini dipercaya sebagai bentuk perlindungan agar tubuh tidak terluka atau berdarah.
Menurut kepercayaannya, saat seorang tatung dirasuki roh dewa atau leluhur, tubuhnya menjadi kebal terhadap benda tajam.
“Atraksi tusuk itu ada mantranya. Kalau orang sadar ditusuk pasti sakit, tapi kami punya mantra dan doa-doa supaya tidak berdarah dan semuanya berjalan baik,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak semua orang bisa menjadi tatung. Hanya orang-orang tertentu yang dianggap dipilih oleh Mahadewa.
“Hanya yang cocok saja yang bisa menjadi tatung,” katanya.
Selain tampil dalam atraksi budaya, Suhu Phen juga dikenal membantu mengobati orang yang mengalami gangguan tertentu.
Ia menyebut perannya hampir seperti membantu pasien, meski bukan di rumah sakit.
“Kami juga mengobati orang yang terkena gangguan tertentu,” ujarnya.
Sebelum tampil dalam perayaan Cap Go Meh, ia melakukan berbagai persiapan spiritual seperti pembersihan diri dan banyak berdoa agar acara berjalan lancar.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para donatur dan pengurus pekong yang telah mendukung kegiatan tersebut.
Suhu Phen percaya bahwa dalam dirinya ada roh leluhur yang menjaganya.
Dalam praktiknya, ia menyebut sosok Dewa Pak Kung dan Datuk Mutaji sebagai roh yang membimbingnya, terutama saat proses pengobatan.
“Saat proses pengobatan kadang kami sudah tidak sadar lagi,” ceritanya.
Pada awal-awal pengalaman kerasukan roh leluhur, ia mengaku sempat merasakan kondisi tubuh yang berbeda seperti mual, muntah, dan badan terasa berat.
Sebelum menjadi tatung, Suhu Phen mengaku pernah bermain jelangkung.
Namun setelah diyakini dipilih oleh roh leluhur, ia kemudian mengabdikan dirinya sebagai tatung selama puluhan tahun.
“Akhirnya kami bertanya kepada orang yang lebih mengerti. Dari situ kami bertemu guru-guru lain dan mendapat banyak pengalaman, bahkan ada yang melalui mimpi,” ungkapnya.
Pengalaman menjadi tatung juga membawanya tampil di berbagai daerah di Indonesia.
Salah satunya pada 2019 di Semarang dalam acara Apeksi, di mana ia menampilkan atraksi budaya tatung khas Singkawang.
Selain itu, ia juga pernah tampil di Mojokerto dan Malang.
Suhu Phen menjelaskan bahwa bekas luka dari atraksi tusuk biasanya cepat hilang.
Hal itu menjadi salah satu hal yang membuatnya bangga karena budaya tatung dapat dikenal luas.
“Bekasnya biasanya cepat hilang. Saya bangga karena budaya kita bisa dibawa ke luar daerah dan dikenalkan ke banyak orang,” ujarnya.
Sebagai pelaku budaya, Suhu Phen berharap Festival Cap Go Meh Singkawang ke depan bisa terus berkembang dan semakin meriah setiap tahunnya.
“Harapannya ke depan Festival Cap Go Meh bisa semakin baik dan semakin meriah,” pungkasnya.
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!