TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Beragam peralatan seperti sapu, sabit, jeriken air, spidol, serta tripod menjadi perlengkapan yang hampir selalu dibawa Agus Ponco Nugroho saat memasuki area pemakaman.
Di antara deretan nisan yang mulai tertutup rumput, pemuda 22 tahun asal Kota Magelang itu perlahan membersihkannya satu per satu.
Ia memulai dengan memotong rumput liar di sekitar makam, lalu menyapu area tersebut. Jika tulisan pada nisan memudar, Ponco menebalkannya kembali menggunakan spidol permanen sebelum akhirnya menaburkan bunga untuk mempercantik makam.
Sejak Mei 2024 hingga Maret 2026, ia masih mengingat betul jumlah makam yang telah ia rawat: 441 makam. Sebagian proses pembersihan tersebut didokumentasikan dan dibagikan melalui akun TikTok @makamcleaner yang ia kelola.
Ponco menceritakan, hobi yang tak biasa itu, berawal dari kebiasaannya berziarah ke makam ibunya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Giriloyo setiap hari Minggu.
“Dulu tiap Minggu saya rajin ziarah ke makam mama di Giriloyo. Terus lihat makam di sekitar mama itu ada beberapa yang nggak keurus,” ujarnya di Pemakaman Nglarangan, Petrobangsan, Kota Magelang, Minggu (8/3/2026).
Melihat kondisi tersebut, Ponco mulai bertanya-tanya tentang keluarga para pemilik makam tersebut.
Dari situlah muncul inisiatif untuk membersihkan makam di sekitar makam ibunya. Ia juga mulai merekam aktivitas tersebut dan mengunggahnya ke media sosial.
“Di situ kepikiran, ini keluarganya di mana. Entah karena jauh, kendala biaya, atau mungkin dekat tapi nggak sempat bersih-bersih. Lalu juga bikin video, siapa tahu keluarganya nonton terus jadi ingat dan membersihkan makam keluarganya sendiri,” sambungnya.
Awalnya Ponco hanya membersihkan makam di sekitar makam ibunya. Namun seiring waktu, ia mulai berpindah ke makam lain yang terlihat tidak terawat. Video yang diunggahnya pun perlahan mulai menarik perhatian, khususnya warganet yang menyaksikan kontennya.
“Awalnya saya cuma tujukan ke keluarga makam sekitar mama saja. Tapi ternyata videonya ramai, dan dampaknya jadi lebih luas,” ujarnya.
Kini, kegiatan yang dilakukannya mendapat respons positif. Banyak orang yang menghubunginya melalui pesan langsung di TikTok maupun Instagram untuk meminta bantuan membersihkan makam keluarga mereka.
Permintaan tersebut umumnya datang dari wilayah Magelang. Namun juga ada hingga wilayah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah hingga Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta.
Ponco mengatakan dirinya tidak secara khusus membuka jasa pembersihan makam.
Namun jika ada yang meminta bantuan, ia bersedia membantu selama masih dalam jangkauan.
“Aku sebenarnya nggak buka jasa. Tapi kalau ada yang minta tolong ya tak kerjain,” katanya.
Untuk biaya, ia tidak menetapkan tarif khusus. Orang yang meminta bantuan biasanya memberikan uang secara sukarela.
Namun untuk lokasi yang cukup jauh, ia biasanya meminta biaya transportasi.
“Kalau bayar itu bebas, seikhlasnya saja,” ujarnya.
Jika makam yang diminta tidak memiliki foto, ia meminta petunjuk lokasi secara detail dari keluarga.
“Biasanya dikasih ancer-ancer, misalnya dari pintu masuk sekian meter ke kiri, dekat makam warna tertentu. Dari situ biasanya ketemu,” katanya.
Sejak memulai kegiatan ini pada Mei 2024 hingga Maret 2026, Ponco mencatat sudah membersihkan sekitar 441 makam.
Sebagian besar makam tersebut berada di TPU Giriloyo dan TPU Larangan di Kota Magelang.
Ponco mengaku tantangan terbesar muncul ketika menemukan makam yang kondisinya amat tak terawat. Rumput tumbuh menjulang tinggi hingga menutupi area makam, sementara tulisan pada nisan banyak yang telah memudar.
“Kalau makam ringan biasanya selesai di bawah 10 menit. Tapi kalau rumputnya tinggi bisa sampai 15 menit lebih,” katanya.
Dalam aktivitasnya, ia membawa beberapa peralatan sederhana seperti sapu, gunting taman, air, serta spidol permanen untuk menebalkan kembali tulisan pada nisan yang mulai pudar.
Kegiatan ini juga memiliki makna pribadi bagi Ponco. Ibunya, Suminah, meninggal dunia pada 2016 karena kanker payudara, saat ia masih duduk di bangku SMP.
Sebelumnya, Ponco sempat bekerja paruh waktu di Magelang. Namun kini ia memilih fokus sebagai kreator konten yang mendokumentasikan aktivitas membersihkan makam melalui media sosial.
Melalui aktivitas tersebut, ia berharap dapat mengingatkan masyarakat agar lebih peduli kepada keluarga yang telah meninggal dunia.
“Inginku lebih banyak menyadarkan keluarga yang masih hidup supaya lebih peduli sama yang sudah nggak ada,” ujarnya.
Ia berharap kebiasaan berziarah dan merawat makam bisa terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Mungkin nanti kalau kita punya anak, bisa diajarkan untuk ziarah. Jadi ketika kita sudah nggak ada, anak-anak kita juga masih ingat,” katanya. (tro)