TRIBUNKALTIM.CO - Pengangguran masih menjadi persoalan struktural di Indonesia meski menunjukkan tren penurunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Agustus 2025 sebesar 4,85 persen, dengan jumlah penganggur mencapai 7,46 juta orang.
Di tengah capaian nasional tersebut, sejumlah daerah masih mencatat angka pengangguran di atas rata-rata, termasuk Kalimantan Timur.
Provinsi ini mencatat TPT sebesar 5,18 persen, menempatkannya di posisi ke-12 dari 38 provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia.
Baca juga: Tingkat Pengangguran di Malinau Naik pada 2025, Didominasi Lulusan Baru dan Tenaga Kerja Perempuan
BPS menilai, tingginya pengangguran di Kalimantan Timur tidak terlepas dari karakter struktur ekonominya yang bertumpu pada sektor ekstraktif, khususnya pertambangan.
Ketergantungan pada sektor padat modal ini membuat penyerapan tenaga kerja cenderung fluktuatif dan tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja.
Selain faktor sektor usaha, tantangan ketenagakerjaan di Kalimantan Timur juga dipengaruhi oleh komposisi usia dan pendidikan tenaga kerja.
Kelompok usia muda serta lulusan pendidikan menengah dan kejuruan masih mendominasi angka pengangguran, menunjukkan perlunya penguatan link and match antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Pada Agustus 2025, Indonesia mencatat 7,46 juta pengangguran, turun sekitar 4.092 orang dibanding Agustus 2024. Penurunan terjadi di beberapa kelompok:
Berdasarkan TPT Agustus 2025, berikut 15 provinsi dengan tingkat pengangguran terbesar, diurutkan dari yang tertinggi ke terendah tanpa ada angka yang ditukar:
1 . Papua – 6,96 persen
2. Papua Barat Daya – 6,85 persen
3. Jawa Barat – 6,77 persen
4. Banten – 6,69 persen
5. Kepulauan Riau – 6,45 persen
6. Maluku – 6,27 persen
7. DKI Jakarta – 6,05 persen
8. Sulawesi Utara – 5,99 persen
9. Aceh – 5,64 persen
10. Sumatera Barat – 5,62 persen
11. Sumatera Utara – 5,32 persen
12. Kalimantan Timur – 5,18 persen
13. Kalimantan Barat – 4,82 persen
14. Jawa Tengah – 4,66 persen
15. Maluku Utara – 4,55 persen
Dengan TPT 5,18 persen, Kalimantan Timur masuk dalam daftar 15 besar provinsi dengan pengangguran tertinggi, menduduki posisi ke-12 nasional.
Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat TPT 5,18 persen pada Agustus 2025. Angka ini:
Kaltim yang dikenal sebagai provinsi kaya sumber daya alam justru menghadapi tantangan dalam penyerapan tenaga kerja.
Struktur industri yang sangat bergantung pada sektor pertambangan membuat kebutuhan tenaga kerja cenderung fluktuatif.
Dari total 2,07 juta angkatan kerja, sebanyak 107.674 orang tercatat sebagai pengangguran.
Sementara itu, 1,97 juta penduduk bekerja, namun tidak semuanya bekerja penuh waktu. Artinya, sebagian masih termasuk “setengah pengangguran” atau pekerja dengan jam kerja tidak penuh.
Sektor yang menyerap tenaga kerja terbanyak adalah perdagangan besar & eceran serta reparasi kendaraan (19,05 persen), sedangkan sektor dengan kontribusi terkecil adalah pengadaan listrik, gas, uap, air, dan pengelolaan limbah (0,59 persen).
Daerah-daerah Penyumbang Pengangguran Terbesar di Kalimantan Timur
Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, terdapat variasi cukup besar dalam TPT. Data dari BPS menunjukkan lima wilayah dengan pengangguran tertinggi pada Agustus 2025 adalah:
1 .Bontang – TPT 6,36 persen (Tertinggi di Kaltim)
Meskipun kota industri ini mengalami penurunan TPT dari 7,06 persen pada 2024, angka 6,36 persen menunjukkan jumlah pengangguran yang masih besar.
2. Kutai Timur – TPT 6,20 persen
Wilayah dengan sektor pertambangan dan perkebunan kuat ini justru mencatat kenaikan pengangguran dari 5,76 persen menjadi 6,20 persen.
3. Balikpapan – TPT 5,84 persen
Sebagai pusat bisnis dan pintu gerbang ekonomi Kaltim, Balikpapan memiliki struktur ekonomi berbasis jasa, perdagangan, dan konstruksi.
Meskipun TPT turun dari 6,22 persen pada 2024, tingkat pengangguran di kota ini masih tinggi karena banyak lulusan baru belum terserap.
4. Samarinda – TPT 5,31 persen
Sebagai ibu kota provinsi dengan banyak institusi pendidikan, Samarinda menghadapi tantangan serupa: banyak angkatan kerja muda khususnya lulusan SMA dan SMK belum terserap dunia kerja formal.
5. Kutai Barat – TPT 5,21 persen
Angka ini mencatat penurunan dari 5,58 persen pada 2024. Meskipun membaik, pengangguran di Kutai Barat masih relatif tinggi dibanding kabupaten lain.
Sementara itu, wilayah dengan TPT lebih rendah antara lain:
Berau – 4,40 persen
Kutai Kartanegara – 4,40 persen
Penajam Paser Utara – 4,26 persen
Paser – 4,62 persen
Mahakam Ulu – 2,84 persen (terendah di Kaltim)
Mahakam Ulu tidak hanya mencatat angka pengangguran terendah, tetapi juga memiliki Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tertinggi, mencapai 77,33 persen.
Pengangguran Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kalimantan Timur
Pola pengangguran di Kaltim tidak jauh berbeda dengan nasional. Lulusan SMK tetap mendominasi pengangguran dengan TPT 7,72 persen.
Sebaliknya, lulusan SD ke bawah menjadi kelompok dengan pengangguran terendah yakni 2,48 persen.
Dibandingkan 2024:
TPT lulusan SMA dan universitas meningkat
TPT lulusan Diploma, SMK, SMP, dan SD ke bawah menurun
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan kompetensi: lulusan pendidikan tinggi menghadapi persaingan ketat dan keterbatasan lapangan kerja yang sesuai.
Partisipasi Angkatan Kerja dan Ketenagakerjaan Kaltim
Jumlah angkatan kerja Kaltim pada 2025 mencapai 2,07 juta orang, turun 6.056 orang dari tahun sebelumnya.
Sementara itu, TPAK Kaltim turun dari 67,07 persen menjadi 66,58 persen, menunjukkan berkurangnya proporsi penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi.
Dari total 3,12 juta penduduk usia kerja, sebanyak 1,04 juta orang masuk kategori bukan angkatan kerja—termasuk pelajar, ibu rumah tangga, dan lansia yang tidak bekerja.
Jika dilihat berdasarkan gender, terlihat kesenjangan cukup besar:
TPAK laki-laki: 83,14 persen
TPAK perempuan: 48,72 persen
Artinya, tingkat keterlibatan perempuan dalam pasar kerja masih jauh lebih rendah dibanding laki-laki.
Gambaran lengkap pengangguran di Indonesia dan Kalimantan Timur menunjukkan bahwa meski secara nasional ada tren penurunan jumlah pengangguran, beberapa provinsi termasuk Kaltim masih menghadapi tantangan serius.