TRIBUNTRENDS.COM - Viral di media sosial pengakuan mantan akuntan salah satu unit pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membongkar kecurangan data di dapur SPPG, kini dibantah oleh Kepala SPPG terkait.

Kecurangan yang dibongkar mantan akuntan tersebut berkaitan dengan praktik markup data pengadaan bahan baku makanan.

Wanita bernama Fina Alsifa Fauziah mengaku pernah bekerja sebagai akuntan di lingkungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sukabumi.

Melalui kanal YouTube Million Brain, ia bercerita soal sejumlah kejanggalan yang pernah ia temukan selama bekerja sebagai akuntan SPPG.

Dalam penuturannya, Fina mengaku pernah menemukan ketidaksesuaian antara jumlah bahan makanan yang dipesan dengan barang yang benar-benar diterima.

Ia mencontohkan salah satu kasus yang menurutnya cukup sering terjadi dalam proses pengadaan bahan makanan untuk program MBG.

Baca juga: Akuntan yang Bongkar Dugaan Mark Up MBG Dipanggil Kepala SPPG, Langsung Minta Maaf, Ada Apa?

DRAMA DANA MBG - Mantan akuntan SPPG bernama Fina Alsifa Fauziah ungkap dugaan mark up dana MBG.
DRAMA DANA MBG - Mantan akuntan SPPG bernama Fina Alsifa Fauziah ungkap dugaan mark up dana MBG. (Kolase TribunTrends/YouTube Million Brain)

"Pernah kit PO itu PO kayak 11 karung, yang datang 9 karung pernah itu, ke koperasi yayasan. PO 9 yang datang 7 gitu aja," ungkapnya.

Menurut Fina, selisih jumlah barang tersebut berpotensi membuka ruang terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan pengadaan bahan pangan.

Jika kondisi tersebut tidak dijelaskan secara jelas dalam laporan keuangan, maka bisa menimbulkan ketidaksesuaian antara dokumen administrasi dan kondisi riil di lapangan.

Program MBG sendiri berada di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional (BGN), yang bertanggung jawab mengawasi distribusi makanan bergizi kepada para penerima manfaat.

Lebih jauh, Fina juga mengungkap bahwa meskipun jumlah barang yang datang tidak sesuai dengan pesanan awal, laporan pengajuan dana tetap menggunakan angka yang sama seperti dalam dokumen pemesanan.

"11 (bayarnya) iya di mark up tetap 11, ke BGN juga tetap 11. (Berlangsung) lama," ujarnya.

Jika dugaan tersebut benar terjadi, maka kondisi itu berpotensi menimbulkan perbedaan antara penggunaan anggaran dengan realisasi barang yang diterima.

Hal tersebut juga dapat berdampak pada akurasi laporan keuangan program yang bersumber dari dana negara.

Bantahan Kepala SPPG Terkait

Sementara itu, bantahan atas cerita mantan akuntan ini telah disampaikan oleh Kepala SPPG terkait, Fikri Febriansyah (26).

Baca juga: Curhat Mantan Akuntan SPPG Tentang Sisi Gelap Dapur MBG, Disuruh Resign Usai Temukan Kejanggalan

Fikri mengklaim bahwa adanya data yang diungkap oleh F tak sinkron dengan data SPPG. Sebab ada pembelian lain untuk menutupi kekurangan bahan makanan.

“Awalnya ini kita miss komunikasi antara akuntan dengan ahli gizi juga tidak ada laporan, karena di hari itu ada kekurangan beras, ayam dan buah," kata Fikri saat ditemui awak media di Lembursitu Kota Sukabumi, Rabu (11/3/2026) sore.

PENGAKUAN AKUNTAN SPPG - Fikri Febriansyah kepala SPPG Lembursitu 2 saat melakukan wawancara dengan awak media, Rabu (11/3/2026) sore
PENGAKUAN AKUNTAN SPPG - Fikri Febriansyah kepala SPPG Lembursitu 2 saat melakukan wawancara dengan awak media, Rabu (11/3/2026) sore (Kompas.com/RIKI ACHMAD SAEPULLOH)

"Jadi mau bagaimana lagi kan kita juga kekurangan itu di dini hari, jadi kita harus segera membeli langsung ke koperasi, sehingga ada penambahan dari ayam dan beras tersebut,” ucapnya lebih lanjut.  

Fikri menuturkan bahwa begitu vital narasi tentang mark up tersebut, pihaknya kemudian memanggil yang bersangkutan. 

Saat memanggil akuntan, Fikri menuturkan bahwa pihaknya kemudian melakukan sinkronisasi data dan menjelaskan bagaimana terjadinya pembelian bahan yang kurang.

Termasuk kala pembelian bahan ada yang rusak atau busuk. “Saya menghubungi yang bersangkutan untuk mengadakan diskusi, lalu pengecekan dari pihak akuntan tersebut karena memang ada penambahan di hari tersebut juga. Kita kan diawali dengan datang barang, kita sortir dulu, karena ketika datang barang kan sesuai PO awal, dan ternyata ketika disortir itu ada yang busuk, ada yang rusak berasnya," katanya.  

"Jadi harus ada pengganti di dini hari, sehingga kita pesan lagi ke koperasi, jadi saat pemesanan barang akuntan itu sakit dan sedang tidak ada di dapur,” ucap Fikri.

Fikri kemudian menjelaskan setelah viralnya narasi tersebut pihak dapur dan F kemudian akan menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. 

“Kita juga sudah ada komunikasi dengan akuntan itu, dan dia juga sudah mengklarifikasi hal tersebut,” tegas Fikri. (Tribun Trends/Kompas.com)

Baca Lebih Lanjut
Akuntan Dapur MBG di Sukabumi Bongkar Penyelewengan Dana, Pihak SPPG Kini Buru Pembocor Data
Candra Isriadhi
Dugaan Mark-Up MBG Mencuat di Masyarakat, Korwil SPPG HST: Kami Siap Tindak Jika Terbukti
Ratino Taufik
Dugaan Mark Up Makanan MBG di Tanjungpinang Mencuat, Petugas SPPG Sei Enam Bungkam
Eko Setiawan
1.512 SPPG di Jawa Disetop Sementara, BGN Temukan Banyak Unit Belum Penuhi Syarat
Eko Setiawan
BGN Tutup 14 Dapur SPPG di Pandeglang Banten Karena Tak Miliki IPAL dan SLHS
Ahmad Tajudin
9 SPPG Dapur MBG di Riau yang Ditutup oleh BGN, Tersebar di Kampar dan Bengkalis
Sesri
Kepala SPPG Susulaku Angkat Bicara, Dugaan Keracunan MBG di SMA Negeri 1 Insana TTU
Oby Lewanmeru
BGN hentikan sementara operasional 1.512 SPPG di Pulau Jawa
Antaranews
BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG Susulaku Imbas Insiden Dugaan Keracunan Siswa SMAN 1 Insana 
Adiana Ahmad
Tak Penuhi Standar, BGN Hentikan Sementara Operasional 1.512 SPPG
Mursal Ismail