TRIBUNTRENDS.COM - Djamuri, penjaga makan di area pemakaman Vidi Aldiano ungkap pertanda alam yang jadi bukti mendiang adalah orang baik.
Bukti bahwa Vidi adalah orang baik, menurut Djamuri, terpancar dari suasana saat pemakamannya.
Ia mengenang bagaimana cuaca seolah ikut merasakan duka saat jenazah Vidi hendak diantarkan ke liang lahat.
"Orang kalau dibilang ketahuan dari pengantarannya juga. Sama alam, lagi hujan kagak berhenti-berhenti waktu nungguin meninggal ya. Dari setengah lima sore sampai pagi, sampai dia dimakamin hujan nggak berhenti-berhenti. Kalau dikaitin sama alam, alam bersedih," kenangnya.
Sejak dimakamkan, tempat peristirahatan Vidi Aldiano hampir tak pernah sepi.
Rekan-rekan sesama artis pun terlihat silih berganti memberikan doa secara langsung.
Baca juga: Sosok Vidi Aldiano di Mata Penjaga Makam, Sebut Menginspirasi, Ungkap Makamnya Tak Pernah Sepi
Djamuri menyebutkan beberapa nama publik figur yang ia ketahui sempat datang berkunjung.
"Termasuk si Rizky Febian, dua kali kemarin katanya. Terus Thariq Halilintar juga, katanya dua kali," kata Djamuri.
Saat ini, makam Vidi Aldiano sedang dalam tahap perawatan rutin agar rumput di atasnya segera menghijau.
Makam tersebut mengikuti standar makam percontohan di Jakarta yang tidak memperbolehkan adanya bangunan permanen atau nisan yang menonjol.
"Disamain semua, soalnya buat percontohan. Nggak ada yang dibangun-bangun, nggak boleh. Dia rumput semua," jelasnya.
Meski sempat mengalami sedikit penurunan tanah (ambles) karena faktor cuaca hujan dan kondisi tanah baru, Djamuri memastikan bahwa kondisi tersebut sudah diperbaiki dan dipadatkan.
"Tinggal nunggu hijau saja, antara dua sampai tiga bulan. Yang penting rutin tiap pagi sore saya siramin," tutup Djamuri.
Kondisi tempat peristirahatan terakhir penyanyi Vidi Aldiano sempat menarik perhatian karena terlihat mengalami penurunan tanah atau amblas.
Menanggapi hal tersebut, Djamuri, perawat makam yang sehari-hari mengurus pusara sang penyanyi, memberikan penjelasan teknis mengenai kondisi terkini makam tersebut.
Menurut Djamuri, kondisi amblas pada makam baru merupakan hal yang lumrah dan sering terjadi, terutama di tengah cuaca yang tidak menentu.
Penurunan tanah ini murni disebabkan oleh faktor alamiah tanah yang belum sepenuhnya padat.
"Udah (betul), kan biasa kalau masalah makam baru tuh, ambles. Biasa kalau makam baru tuh, nggak aneh emang. Apalagi kena hujan ya blesek terus," ungkap Djamuri saat ditemui di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026).
Baca juga: Doa Ibu Vidi Aldiano untuk Sheila Dara Agar Tegar Jalani Hidup, Istri Mendiang Ziarah di Pagi Hari
Saat ini, pihak pengelola makam telah melakukan tindakan perbaikan dengan memadatkan kembali tanah dan memasang rumput di atas pusara suami Sheila Dara tersebut.
"Ini mudah-mudahan nggak blesek (amblas) lagi, insyaallah udah dipadetin," tambahnya.
Berdasarkan pantauan terbaru di lokasi, makam Vidi Aldiano kini tampak jauh lebih rapi.
Permukaan pusara telah ditutupi dengan rumput meskipun warnanya belum hijau sempurna.
Di atas makam, tergeletak banyak karangan bunga segar, mulai dari mawar merah-putih hingga rangkaian anggrek putih yang cantik, menandakan banyaknya peziarah yang datang berkunjung.
Sebuah papan nisan kayu sederhana bertuliskan "OXAVIA ALDIANO bin HARRY APRIANTO" berdiri tegak sebagai penanda sementara. Makam ini juga terlihat bersih dan terawat di tengah deretan makam lainnya.
Djamuri menjelaskan bahwa butuh waktu beberapa bulan agar rumput di atas pusara Vidi bisa tumbuh dengan sempurna dan terlihat asri seperti area sekitarnya.
"Antara dua bulan sampai tiga bulan (untuk menghijau). Tapi sebulan juga kayaknya udah mulai. Yang penting rutin tiap pagi sore disiramin," jelas Djamuri.
Djamuri, perawat makam Vidi Aldiano saat ditemui di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Jumat (13/2/2026).
Grid.ID/Ulfa Lutfia
Ia juga mengungkapkan bahwa makam Vidi Aldiano tidak akan dibangun dengan nisan permanen yang mencolok atau kijingan yang tinggi.
Hal ini dikarenakan area pemakaman tersebut merupakan area percontohan di Jakarta yang mengedepankan keseragaman dan keasrian rumput.
"Di sini buat percontohan, jadi disamain semua. Nggak ada yang timbul, yang dibangun-bangun nggak boleh. Dia rumput semua," tuturnya.
Terkait batu nisan permanen yang hingga kini belum terpasang, Djamuri menyebutkan bahwa pihak keluarga biasanya menunggu momentum tertentu setelah masa berkabung awal selesai.
"Belum (datang), paling entar nunggu 40 hari kali," katanya.
Selama masa perawatan ini, Djamuri mengaku bekerja ekstra untuk memastikan makam tetap rapi meskipun banyak peziarah yang datang.
Ia rutin menyiram rumput setiap pagi setelah mengantar anak sekolah dan kembali lagi pada sore hari setelah ashar untuk memastikan rumput tetap subur. (Tribun Trends/Banjarmasin Post)