TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Momen arus mudik yang sebabkan kemacetan panjang di jalur nasional Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk dimanfaatkan maksimal oleh warga Jembrana, Bali, Minggu 15 Maret 2026.
Sejumlah warga memilih untuk menyediakan jasa ojek bagi pemudik yang terjebak.
Terutama mereka yang menggunakan kendaraan umum seperti bus dan travel.
Menurut pantauan di lapangan, sekitar pukul 11.17 WITA, ekor antrean kendaraan yang hendak menuju Pelabuhan mencapai di Jalan Udayana tepatnya di depan Koramil Negara di Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara atau sekitar 32 Kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.
Baca juga: Mudik Tenang Saat Lebaran, Kapolda Bali Izinkan Warga Titip Kendaraan di Kantor Polisi Gratis
Di sisi lain, petugas kepolisian juga melakukan pengaturan arus lalu lintas di tengah padatnya kendaraan yang datang dari dua arah. Mengingat hari ini diprediksi sebagai puncak arus mudik Lebaran 2026.
"Manfaatkan situasi cari cuan, lumayan buat tambahan. Hitung-hitung bantu mereka yang terjebak macet juga," jelas warga asal Negara, Putu Oka, saat dikonfirmasi di simpang Kaliakah, Minggu 15 Maret 2026.
Dia menyebutkan, telah memberikan tarif murah bagi masyarakat sesuai kesepakatan antara ojek dan pemudik. Yakni Rp 100-150 ribu untuk satu orang dari Kaliakah menuju Pelabuhan Gilimanuk.
Mereka menempuh jalur alternatif melalui jalan desa melintasi dua Kecamatan.
Meskipun jaraknya relatif lebih jauh, namun jalur ini ampuh untuk terhindar dari kebisingan dan kemacetan parah.
"Kami (ojek dadakan) lewat jalur alternatif, lewat gunung. Kami antar sampai Gilimanuk," tegasnya.
Terpisah, salah satu pemudik, Heri (38), yang hendak menuju Jawa sudah berangkat ke Jembrana sejak tadi pagi.
Namun, sekitar pukul 10.00 WITA, ia justru mulai terjebak antrean kendaraan di wilayah Kaliakah Kecamatan Negara.
"Kebetulan saya naik bus. Awalnya aman dari Denpasar, tapi baru sampai di sini (Jembrana) kok macetnya jauh dari Pelabuhan Gilimanuk," keluhnya.
Dia mengakui, jika memang nantinya kemacetan semakin parah, dirinya bakal terpaksa menggunakan jasa ojek dadakan meskipun harus merogoh kocek lebih banyak.
"Semoga tidak semakin parah lagi. Kalau semakin parah terpaksa pakai jalur alternatif," harapnya.