TRIBUNSORONG.COM, SORONG - Yohanes Edwintus Bido seorang remaja asal Kampung Ndua Ria, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur meninggal dunia dalam insiden di jalan raya Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw.
Korban yang akrab disapa Edwin (24) meninggal bersama seorang tenaga kesehatan (nakes) bernama Yeremia Lobo (37).
Baca juga: Serukan Kedamaian, Tokoh Lintas Suku OAP Sesalkan Tragedi Berdarah di Tambrauw
Paman korban Reinhard Nussy (30) mengatakan, Edwin baru tiba di Papua Barat Daya pada Januari 2026 untuk mencari pekerjaan.
“Ponakan dari istri saya datang ke sini untuk mencari kerja. Kemarin dia masih bersama kami di tempat tugas di Kabupaten Tambrauw,” ujar Reinhard, Selasa (17/3/2026).
Selama berada di Sorong hingga Tambrauw, Edwin dikenal sebagai pribadi yang ceria, terbuka, dan mudah bergaul.
Ia diajak keluarga untuk berkunjung sekaligus melihat peluang kerja di wilayah tersebut.
Selama di Tambrauw, Edwin lebih banyak berada di lingkungan tenaga kesehatan dan tidak pernah bepergian sendiri.
“Saat mendapat kabar sekitar pukul 12.00 WIT bahwa Edwin meninggal, saya sangat kaget. Saat itu posisi saya sedang jauh dari Fef,” ungkapnya.
Baca juga: Sosok Yeremia Lobo Korban Penyerangan OTK, Ternyata 10 Tahun Mengabdi sebagai Nakes di Tambrauw
Saat ini, pihak keluarga masih menunggu akses transportasi untuk memulangkan jenazah ke kampung halamannya di Kabupaten Ende.
Keluarga berharap aparat keamanan segera mengungkap fakta di balik peristiwa tersebut dan menangkap seluruh pihak yang terlibat.
Peristiwa penyerangan oleh orang tak dikenal (OTK) terhadap empat tenaga kesehatan (nakes) di Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, mengejutkan banyak pihak.
Salah satu korban adalah Yeremia Lobo.
Baca juga: 2 Nakes di Tambrauw Tewas Diserang OTK, Kapolda Papua Barat Daya Kerahkan 1 SST Brimob
Kabar penyerangan tersebut membuat keluarga besarnya terpukul.
Edi Pagale (60) kerabat Yeremia mengaku, keluarga sangat terkejut ketika menerima informasi kejadian tersebut pada Senin (16/3/2026) sekitar pukul 13.00 WIT.
“Kami sangat kaget. Kabar ini langsung menyebar ke keluarga besar di Sorong Raya hingga Sulawesi Selatan,” ujar Edi kepada TribunSorong.com di Kota Sorong.
Menurut Edi, Yeremia Lobo telah mengabdikan diri sebagai tenaga medis selama sekitar 10 tahun di Kabupaten Tambrauw.
Ia menegaskan bahwa Yeremia adalah pekerja kemanusiaan yang selama ini hanya fokus menjalankan tugas sebagai petugas medis di Rumah Sakit Pratama.
“Dia bukan aparat, jadi tidak pantas jika harus diserang dengan senjata,” kata Edi.
Di mata keluarga dan lingkungan sekitarnya, Yeremia dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul.
Baca juga: Begini Kronologi Penyerangan Tenaga Kesehatan di Bamusbama Tambrauw: 2 Orang Gugur
Ia juga disebut memiliki banyak teman karena sikapnya yang terbuka terhadap siapa pun yang ditemuinya.
Edi menambahkan, Yeremia sebenarnya berencana pulang ke Kota Sorong untuk bertemu istri dan anaknya saat masa libur.
“Kasihan, sudah lama dia di sana. Saat libur ini dia mau turun melihat anak dan istrinya di Kota Sorong,” jelas Edi.
Namun, rencana tersebut tidak terwujud.
Baca juga: Kepala Suku Moi Maya Kecam Kasus Kematian Warga di Tambrauw, TPNPB Klaim Bertanggung Jawab
Yeremia diserang saat dalam perjalanan menuju Kota Sorong dengan sepeda motor.
Keluarga berharap pihak kepolisian dapat segera mengusut tuntas kasus tersebut dan menangkap para pelaku penyerangan. (tribunsorong.com/safwan ashari)