TRIBUNBENGKULU.COM - Kematian Gita Fitri Ramadani (25), perempuan asal Desa Batu Bandung, Kecamatan Muara Kemumu, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, masih menyisakan berbagai tanda tanya bagi keluarga.

Dalam wawancara dengan TribunBengkulu.com, kuasa hukum keluarga, Rustam Efendi, mengungkapkan sejumlah kejanggalan yang mereka soroti, termasuk hilangnya handphone korban hingga hasil visum awal yang belum diterima pihak keluarga.

“Belum lagi handphone almarhumah yang sampai sekarang belum ditemukan. Itu jelas janggal,” ujar Rustam.

Menurutnya, keluarga tetap menghormati keterangan pihak kepolisian yang menyebut korban diduga meninggal akibat tersengat listrik.

Namun, ia menilai kasus tersebut perlu ditinjau kembali secara menyeluruh karena masih banyak hal yang belum terjawab.

“Kami tetap menghormati apa yang disampaikan pihak kepolisian. Namun menurut kami, kasus ini perlu ditinjau kembali karena masih banyak kejanggalan, termasuk handphone yang belum ditemukan,” jelasnya.

Rustam juga menyebut hingga saat ini pihak keluarga maupun kuasa hukum belum menerima hasil visum awal korban.

“Sampai sekarang kami maupun pihak keluarga belum mendapatkan hasil visum awal,” ujarnya.

Selain itu, keluarga juga mempertanyakan proses olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dinilai terlambat.

Menurut Rustam, TKP merupakan bagian penting dalam mengungkap awal peristiwa yang terjadi.

“TKP itu sangat menentukan awal peristiwa. Kalau dibiarkan terlalu lama, ada kemungkinan kondisinya berubah. Seharusnya olah TKP dilakukan segera dan melibatkan tim yang berkompeten seperti Inafis,” terangnya.

Ia juga menyebut pihaknya masih menelusuri informasi terkait dugaan pemindahan jenazah sebelum penanganan resmi dilakukan.

“Ini masih kami telusuri. Kami tidak membenarkan, tapi juga tidak menolak. Namun ini yang membuat kami ingin mengungkap kasus ini lebih dalam,” katanya.

Selain itu, keluarga juga mempertanyakan informasi mengenai dugaan perubahan meteran listrik di lokasi kejadian.

Rustam mengatakan informasi tersebut diperoleh dari masyarakat, meskipun pihaknya juga telah memiliki dokumentasi pendukung.

“Informasi itu kami dapat dari masyarakat. Katanya meteran sempat diubah lalu dikembalikan seperti semula. Kami juga punya dokumentasi, tapi belum bisa ditampilkan karena itu ranah penyidikan,” ungkapnya.

Keberadaan empat botol infus di lokasi kejadian juga menjadi perhatian keluarga.

Menurut Rustam, hal tersebut menunjukkan adanya dugaan upaya penyelamatan sebelum korban meninggal dunia.

“Kami ingin tahu siapa yang memberikan infus itu. Kalau ada infus, berarti ada upaya penyelamatan sebelum meninggal. Siapa yang melakukan itu, itu yang perlu kami ketahui,” jelasnya.

Sementara itu, ibu korban, Selli (47), menceritakan awal kabar duka yang diterima keluarga.

Ia mengatakan informasi pertama diperoleh dari seseorang bernama Remli yang menghubungi keluarga dan meminta mereka datang ke rumahnya.

“Awalnya kami mendapat kabar dari Remli. Dia yang menghubungi dan menyuruh kami datang ke rumahnya. Di situlah dia menyampaikan bahwa ada kabar Gita terkena setrum. Itu informasi pertama yang kami terima,” ujar Selli.

Selli mengaku sempat mempertanyakan penyebab kejadian tersebut.

“Saya langsung tanya ke dia, kenapa bisa kena setrum. Jawabannya seperti itu saja. Katanya, ‘Tengoklah dulu, informasinya ada di rumah sakit Kepahiang’,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa sebelum kejadian, korban sempat berpamitan untuk pergi ke Kepahiang dengan membawa mobil.

“Yang kami tahu, dia pamit mau ke Kepahiang. Dia pergi bawa mobil. Habis dari sana, seharusnya dia pulang lagi ke Batu Bandung karena besoknya ada rencana pergi lagi,” jelasnya.

Menurut Selli, komunikasi terakhir dengan korban terjadi pada malam hari sebelum kejadian.

“Malam itu dia sempat minta difotokan ke kakaknya, sekitar jam 8 sampai jam 9 malam,” katanya.

Namun hingga kini keluarga mengaku tidak mengetahui alasan pasti korban berada di lokasi kejadian pada malam tersebut.

“Nah, itu yang kami tidak tahu,” ucapnya.

Selli juga menyebut setahu keluarga korban pergi seorang diri saat itu.

“Setahu kami dia pergi sendiri. Kami pikir kalau dia ke Kepahiang, di tempat kosnya ada orang. Tapi katanya dia mau balik lagi pagi sekitar jam 9,” jelasnya.

Terkait autopsi, Selli menegaskan keluarga tidak pernah menolak proses tersebut.

“Bukan menolak. Waktu itu kami masih shock, jadi belum bisa memberi jawaban,” ujarnya.

Kuasa hukum keluarga juga menegaskan hal yang sama.

“Keluarga tidak pernah menolak. Saat itu kondisi masih belum stabil,” kata Rustam.

Keluarga berharap pihak kepolisian dapat mengungkap secara jelas apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus kematian Gita Fitri.

“Kami ingin semuanya terang-benderang dan mendapatkan keadilan,” ujar Selli.

 

Baca Lebih Lanjut
Kronologi Wanita asal Sungai Pinang Musi Rawas Hilang 5 Hari hingga Ditemukan Tewas di Kepahiang
Weni Wahyuny
Pengakuan Pilu Ayah Sopiah Wanita Tewas di Jurang Kepahiang, Pamit ke Lubuklinggau Sebelum Hilang
Hendrik Budiman
Sosok S, Wanita Asal Sungai Pinang Musi Rawas Ditemukan Tewas di Kepahiang usai 5 Hari Hilang
Weni Wahyuny
Breaking News : Wanita Muda Asal Musi Rawas yang Dilaporkan Hilang Ditemukan Meninggal di Kepahiang
Welly Hadinata
Keluarga Minta Polisi Ungkap Penyebab Kematian Gadis Asal Musi Rawas yang Ditemukan di Kepahiang
Slamet Teguh
Unggahan Terakhir Sopiah Wanita Hamil Tua sebelum Ditemukan Tewas di Jurang Kepahiang
Khistian Tauqid
Jasad Wanita yang Ditemukan di Tumpukan Sampah Kepahiang Ternyata Warga Sumsel yang Hilang 5 Hari
Tribun-video
Mayat Perempuan Ditemukan di Lintas Gunung Kepahiang, Korban Ternyata Sedang Hamil
Yuni Astuti
Gadis Asal Musi Rawas Hilang 5 Hari, Ditemukan Tewas di Tumpukan Sampah di Bengkulu
Noval Andriansyah
Misteri Mayat Perempuan Tanpa Identitas di Jurang Lintas Gunung Kepahiang, Korban Sedang Hamil Tua
Ricky Jenihansen