(Penulis: Yunima Hasan, Mahasiswa Magang Jurnalistik UNG)

TRIBUNGORONTALO.COM – Wakil Rektor II Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Mohammad Hidayat Koniyo, resmi membuka Festival Tumbilotohe Fakultas Teknik di Kampus 4 UNG, Bone Bolango, Selasa (17/3/2026) malam.

Kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa Fakultas Teknik ini merupakan upaya melestarikan tradisi Tumbilotohe—budaya khas Gorontalo yang identik dengan penyalaan lampu tradisional menjelang akhir Ramadan.

Festival tahun ini diprakarsai oleh mahasiswa Angkatan 2025 dengan dukungan Senat Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan, serta seluruh civitas akademika Fakultas Teknik.

Cahaya Tradisi yang Tak Pernah Padam Ketua Panitia, Muhammad Aljufri Tohopi, melaporkan bahwa festival kali ini mengusung tema “Tuwoto lo Tumbilotohe Jamo Pate”. Tema tersebut bermakna bahwa cahaya tradisi Tumbilotohe akan tetap hidup dan tidak akan tergerus zaman.

“Ini menjadi bukti bahwa cahaya tradisi Tumbilotohe tidak akan pernah padam,” ujar Aljufri. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk komitmen mahasiswa dalam menjaga warisan budaya leluhur secara turun-temurun.

Dua Dekade Merawat Budaya Dekan Fakultas Teknik UNG, Sardi Salim, menambahkan bahwa perayaan Tumbilotohe di lingkungan Fakultas Teknik telah konsisten dilaksanakan selama hampir dua dekade, tepatnya sejak 2006 saat kampus masih berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman.

Sardi turut memberikan apresiasi tinggi kepada para mahasiswa yang tetap mempertahankan penggunaan lampu minyak tanah, meski bahan bakar tersebut kini semakin sulit didapatkan.

“Ini adalah tradisi yang terus dipertahankan oleh mahasiswa,” ungkapnya.

Suasana warga menyaksikan tumbilotohe di belakang perpustakaan Kampus IV
FESTIVAL TUMBILOTOHE -- Suasana warga menyaksikan tumbilotohe di belakang perpustakaan Kampus IV Universitas Negeri Gorontalo (Sumber: Yunima Hasan, Mahasiswa Magang Jurnalistik UNG)

Baca juga: Keluarga Fanny dan Yessi Mustaki di Gorontalo Buka Opsi Jalur Hukum: Supaya Tidak Ada Lagi Korban

Simbol Keagamaan dan Kebersamaan Wakil Rektor II UNG, Mohammad Hidayat Koniyo, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Tumbilotohe telah ada sejak abad ke-15. 

Selain bermakna religius sebagai penerang jalan menuju masjid, tradisi ini sarat akan simbol budaya seperti janur kuning, tebu, dan pisang yang melambangkan harapan serta kesejahteraan.

“Tumbilotohe adalah simbol kebersamaan masyarakat,” tutur Hidayat. Ia berharap kegiatan yang telah berusia hampir 20 tahun ini terus dikembangkan sebagai ruang silaturahmi bagi masyarakat.

Suasana Meriah Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme tinggi dari warga dan mahasiswa berbagai fakultas yang memadati area festival sejak bakda Isya. Cahaya hangat dari lampu minyak menciptakan atmosfer syahdu di tengah malam Ramadan.

Setelah seremoni pembukaan, acara dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni, mulai dari tari Saronde, pembacaan puisi, hingga penampilan Band Angkatan 25 yang membawakan lagu Hulondalo Lipu’u.

Festival Tumbilotohe merupakan tradisi tahunan Gorontalo yang digelar pada malam ke-26 hingga ke-29 Ramadan. Selain sebagai simbol peningkatan iman, cahaya lampu tradisional ini menjadi perekat kebersamaan masyarakat setempat. (***)

Baca Lebih Lanjut
Tradisi Tumbilotohe Gorontalo, Mahasiswa UNG Siapkan 2.025 Lampu Botol
Fadri Kidjab
Persiapan Festival Tumbilotohe di Manado Capai 80 Persen
Isvara Savitri
KKIG Sulawesi Utara Persiapkan Festival Tumbilotohe Perdana di Manado
Isvara Savitri
FK UNG Cetak Sejarah, Prodi Kedokteran dan Profesi Dokter Raih Akreditasi Unggul
Tita Rumondor
Bupati Boalemo Rum Pagau Pasang Lampu Tumbilotohe
Aldi Ponge
Wakil Rektor IV UKAW Kupang Tutup Kegiatan KBPM Mahasiswa di Yayasan Alfa Omega GMIT
Edi Hayong
Juru Parkir Pasar Senggol Gorontalo Andalkan Keramaian Jelang Lebaran, Tarif Naik Saat Tumbilotohe
Wawan Akuba
Sri Muliani Dama, Mahasiswi Gorontalo yang Tekuni Literasi hingga Jadi Ketua Senat Mahasiswa
Wawan Akuba
Sosok Cindy Sakila Dauda, Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter di Gorontalo
Fadri Kidjab
Strategi UNM Menuju Kampus Internasional, Prof Farida Kucurkan Anggaran Rp43 M untuk Riset Global
Ansar