TRIBUNJABAR.ID - Belakangan ini kisah penjual cilok bernama Asep yang mudik jalan kaki dari Bandung ke Ciamis, viral di media sosial.
Saat itu, Asep mengaku nekat mudik dengan berjalan kaki ke kampung halaman lantaran kekurangan ongkos.
Ia mengaku hanya memiliki bekal membawa sisa dagangannya yang tak laku.
Kisahnya itu sempat viral hingga menarik simpati publik.
Asep pun akhirnya bisa mudik menaiki bus berkat diberi ongkos oleh wartawan.
Setelah viral, fakta di balik kisah pilunya itu terbongkar.
Baca juga: Kisah Asep Jalan Kaki Mudik Bandung–Ciamis, Cilok Jadi Bekal di Tengah Perjalanan Panjang
Ternyata Asep penjual cilok tak punya ongkos cukup itu karena ulahnya sendiri alias disengaja.
Hal ini terungkap saat Asep dihubungi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang difasilitasi oleh Haji Mumu.
Dalam percakapannya, Dedi Mulyadi membongkar bahwa kondisi sulit yang dialami Asep bukanlah murni karena kemiskinan, melainkan akibat pola hidup yang salah.
Kronologi Kekurangan Ongkos
Diketahui sehari-hari Asep mencari nafkah dengan berjualan cilok di kawasan Terminal Leuwi Panjang dan Cipaduyut, Kota Bandung.
Ia mengaku sempat berjalan kaki selama kurang lebih 9 jam dari Bandung hingga sampai Pos Nagreg.
Setibanya di Nagreg, ia bertemu dengan wartawan dan mengaku tidak memiliki ongkos pulang karena hanya menyisakan uang Rp20.000 setelah makan.
Para wartawan kemudian membantunya dengan memberikan ongkos bus sebesar Rp88.000 agar ia bisa sampai ke Ciamis.
Sengsara Disengaja
Diketahui penjual cilok di Bandung ini bernama lengkap Asep Kumala Seta.
Asep merupakan warga Desa Gunung Cupu, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis.
Dalam dialog melalui sambungan telepon, Dedi Mulyadi mempertanyakan alasan Asep kekurangan ongkos.
Padahal diketahui bahwa Asep masih berusia 35 tahun, produktif dan lajang tidak memiliki tanggungan hidup.
Dari berjualan cilok, saat puasa Ramadhan penghasilannya rata-rata Rp30.000 - Rp40.000.
Penghasilan tersebut kemudian harus disetor kepada bosnya.
Jika ia mendapatkan penghasilan Rp100.000, maka uang yang disetorkan ke bos-nya Rp60.000. Demikian Asep menerima Rp40.000.
Saat ditanya penyebab Asep mudik berjalan kaki, Asep mengaku karena kekurangan ongkos.
“Punya uang mah cuman gak cukup pak,” ujar Asep.
Baca juga: Rezeki Nomplok Nuryani Ibu Hidupi 8 Anak di Bandung Dapat Donasi Puluhan Juta dari Konten Kreator
Kemudian Dedi Mulyadi berseloroh kenapa Asep tak meminta bantuan kepada bosnya.
Asep pun mengaku malu meminta bantuan tersebut.
Dedi pun kembali mempertanyakan jaminan bos terhadap Asep sebagai karyawan terkait hak pekerja.
Lalu, Gubernur yang akrab dispa KDM itu kembali bertanya bagaimana cara Asep menabung dari penghasilannya itu.
Asep mengaku penghasilannya itu habis digunakan kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, Asep sering menggunakan tabungannya demi kepuasan hobinya naik gunung.
“Nyimpan, tapi habis dipakai untuk sehari-hari dan hobi naik gunung,” ujar Asep.
Sontak hal itu membuat Dedi Mulyadi tampak tercengang dan menyemprot Asep.
“Berarti kesusahan ini diciptakan oleh siapa? Oleh diri sendiri,” ujar Dedi, lalu diakui Asep.
Tak hanya itu, diketahui bahwa Asep juga seorang perokok yang bisa menghabiskan sekitar Rp10.000 per hari untuk rokok.
Bahkan Asep juga mengaku jarang memberikan uang untuk orang tuanya selama dirinya bekerja.
Lantas Dedi Mulyadi menyimpulkan bahwa kesulitan keuangan Asep bukan disebabkan oleh kemiskinan ekstrem, melainkan akibat pola hidup yang salah.
Seperti kegemaran naik gunung dan merokok yang menghabiskan penghasilannya.
Dedi Mulyadi mengaku mencoba memahami pola hidup Asep yang masih lajang tersebut.
Namun, Dedi Mulyadi memberikan nasihat menekankan pentingnya disiplin finansial, tanggung jawab terhadap orang tua, serta keberanian untuk berkomunikasi dengan atasan.
Baca juga: Kisah Aki Surib Tukang Becak di Cirebon Dipuji Dedi Mulyadi Nabung di Jok Becak Demi Rumah Tangga
Bantuan Rp 3 juta
Dedi mengakui bahwa dirinya merasa prihatin atas apa yang dialami Asep.
Karena hal itu dirinya memberikan bantuan Rp3 juta untuk Asep yang dititipkan melalui Haji Mumu di Ciamis.
Rincian bantuan tersebut Rp1 juta diberikan ke ibunya untuk baju lebaran dan masak, sisanya Rp2 juta untuk modal Asep usaha sendiri.
Nasihat Dedi Mulyadi
Setelah diberikan bantuan tersebut, Dedi Mulyadi memberikan nasihat.
Gubernur Jabar itu pun membandingkan pola hidup Asep dengan tukang becak lansia di Cirebon yang bisa menambung Rp 2 juta untuk lebaran karena disiplin menyisihkan uang.
Dari perbandingan itu, Dedi Mulaydi menekankan bahwa Asep masih muda dan produktif seharusnya bisa lebih baik untuk menabung.
“Bapak masih muda, harusnya bisa lebih baik,” ujar Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi juga menekankan bahwa pola hidup tersebut harus diperbaiki dari diri sendiri.
Dedi Mulyadi pun meminta agar Asep mulai berkomitmen mengubah pola hidupnya tersebut, mengurangi rokok dan hobi naik gunungnya.
“Jadilah laki-laki sejati, jangan sengsara yang disengaja karena pola hidup yang salah,” sindir Dedi Mulyadi.
KDM berharap Asep dapat mengubah mentalitasnya menjadi lebih mandiri dan bijak dalam mengelola keuangan demi masa depan yang lebih baik.
Akhirnya, kisah pilu terkait kondisi memprihatinkan yang dialami Asep mengungkap fakta bahwa aksinya mudik berjalan kaki hasil dari pilihan pribadinya sendiri, bukan murni musibah ekonomi.