TRIBUNTRENDS.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan adanya keluhan masyarakat terkait dominasi platform marketplace di Indonesia yang dinilai dikuasai pihak asing, khususnya China.
Hal tersebut ia ketahui saat melakukan siaran langsung di TikTok bersama anaknya.
Dalam kesempatan itu, Purbaya berinteraksi langsung dengan warganet dan menerima berbagai masukan.
Purbaya mengaku mendapatkan banyak perspektif baru dari pengalaman tersebut.
Menurutnya, sejumlah pengguna menyampaikan kekhawatiran mengenai kepemilikan dan pengaruh asing dalam bisnis e-commerce di Tanah Air.
Purbaya menyebut isu ini menjadi salah satu perhatian yang muncul dari publik.
Ia juga mencontohkan Tokopedia sebagai platform lokal yang kini sebagian besar sahamnya dimiliki oleh perusahaan asal China.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan semakin besarnya peran investor asing dalam sektor digital Indonesia.
Meski demikian, Purbaya masih terus mempelajari isu tersebut lebih dalam melalui berbagai sumber.
Ia menegaskan pentingnya memahami dinamika ekonomi digital secara menyeluruh sebelum mengambil langkah kebijakan.
Baca juga: Menkeu Purbaya Pakai Baju Koko Murmer Rp125 Ribu dari Tanah Abang: Menteri Boleh Nawar, Lagi Irit!
Purbaya mencontohkan, seperti Tokopedia, meski e-commerce ini buatan Indonesia, namun mayoritas sahamnya telah dimiliki perusahaan China.
Begitu pula dengan platform TikTok yang bisa digunakan untuk belanja online, merupakan perusahaan asal China.
Adapun Tokopedia dan TikTok memang saling terkait.
Tokopedia kini mayoritas dimiliki TikTok setelah perusahaan induknya, ByteDance, mengakuisisi sekitar 75 persen saham pada akhir 2023 lalu.
Sementara 25 persen saham masih dimiliki PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
"Saya lagi mikir bagaimana mengembalikan marketplace-nya, (supaya) enggak hanya yang dikuasai China,
Misalnya, kan Tokopedia dikuasai China kan semuanya. TikTok juga," kata Purbaya.
Baca juga: Jawaban Purbaya Dihujani Protes Ibu-Ibu Soal MBG: Tolong Dihentikan Pak, Ganti dengan Uang Tunai
Menurut dia, keluhan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memberikan pasar yang luas bagi China, dan berpotensi mengganggu pelaku usaha dalam negeri.
"Boleh dibilang digitalisasi kalau seperti itu sepertinya memberikan pasar ke China langsung," katanya.
Maka dari itu, dia menilai, fenomena ini perlu disikapi secara hati-hati agar tidak merugikan industri dalam negeri, sekaligus tetap menjaga iklim perdagangan yang kompetitif.
Purbaya bilang, pihaknya tengah mengkaji berbagai langkah untuk memastikan persaingan usaha tetap sehat, terutama untuk menyangi dominasi China.
"Sebenarnya saya lagi mikir, ada enggak perusahaan domestik yang bisa dihidupkan lagi untuk menjadi kompetisi dari dominasi China, even di pasar domestik ini, di marketplace-nya itu," ucapnya.
(Tribuntrends.com/Kompas.com)