TRIBUNPAPUABARAT.COM.MANOKWARI – Keluarga mendiang Fitra Ramadhan (17) terus berharap keadilan ditegakkan dengan polisi segera menangkap pelaku.
Fitra adalah pelajar yang meninggal dunia setelah diserang oleh orang tidak dikenal (OTK) di kawasan Pantai Petrus Kafiar, Amban, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, pada 4 Maret 2026.
Ia menghembuskan napas terakhir dalam patah leher dan patah tangan kiri akibat kasus penganiayaan tersebut.
“Kami keluarga selalu berharap pelaku segera bisa ditangkap dan dihukum setimpal dengan perbuatannya,” ujar Abrin, kakak sulung Fitra Ramadhan, saat ditemui wartawan di kediamannya, Selasa (24/3/2026).
Menurutnya, keresahan keluarga masih belum hilang karena hingga tiga minggu setelah kejadian, pelaku kasus penganiayaan itu belum juga tertangkap.
Keluarga, ucapnya, telah beberapa kali mendatangi Mapolresta Manokwari guna menanyakan perkembangan penyelidikan kasus yang merenggut nyawa Fitra.
Menurutnya, Polresta Manokwari telah mengantongi identitas terduga pelaku dan masih melakukan pengejaran hingga pekan ketiga Maret 2026.
Baca juga: BREAKING NEWS - Dua Pelajar di Manokwari Jadi Korban Serangan OTK, Satu Meninggal Dunia
Namun informasi tersebut, kata Abrin, hanya diperoleh dari anggota polisi yang sedang bertugas, bukan disampaikan secara langsung oleh Kapolresta Manokwari Kombes Ongky Isgunawan atau Kasat Reskrim AKP Agung G Samosir.
“Kami dari keluarga juga berharap korban perempuan yang bersama almarhum bisa kooperatif dan menyampaikan keterangan yang sebenar-benarnya agar pihak kepolisian bisa mengungkap kasus ini secepatnya,” katanya.
Abrin mengatakan keluarga mendukung penuh upaya penyelidikan yang dilakukan Polresta Manokwari.
Mereka berharap kasus Fitra Ramadhan juga mendapat perhatian yang sama seperti kasus-kasus lain yang proses pengungkapannya berlangsung cepat.
“Kami percaya polisi bekerja, tetapi kami juga berharap kasus ini mendapat perhatian serius agar segera ada kepastian hukum,” ujarnya.
Abrin juga meluruskan berbagai informasi yang beredar di media sosial yang dinilai tidak sesuai fakta dan justru menambah luka bagi keluarga.
Menurutnya, pada hari kejadian, Fitra berpamitan kepada ibunya untuk berbuka puasa bersama teman-teman sekolah di satu rumah makan di pusat perbelanjaan di Manokwari.
Baca juga: Polisi Sisir TKP Penyerangan Dua Pelajar di Pantai Amban Manokwari
Fitra diketahui keluar rumah sekitar pukul 17.00 WIT setelah sempat membakar ikan bersama keluarga untuk persiapan berbuka puasa.
“Narasi yang beredar bahwa adik saya sudah di Pantai Petrus Kafiar sejak pukul 4 sore itu tidak benar. Dari CCTV, terlihat dia keluar rumah sekitar jam lima lewat karena sebelumnya masih di rumah,” kata Abrin.
Ia membantah narasi negatif di media sosial yang menyebut korban dan seorang teman perempuan melakukan tindakan tidak senonoh di lokasi kejadian.
“Dari hasil visum yang keluarga terima dari dokter, hasilnya bersih, tidak ada pelecehan. Adik saya dikenal sebagai anak yang baik di sekolah maupun di lingkungan,” ujar Abrin.
Ia berharap kasus tersebut mendapat perhatian khusus dari jajaran kepolisian, baik di tingkat Polda Papua Barat maupun Polresta Manokwari, agar pelaku segera ditangkap dan keluarga memperoleh ketenangan.
“Kami berharap kasus adik saya ini menjadi perhatian Bapak Kapolda dan Bapak Kapolresta Manokwari. Kami minta polisi tidak kendor dan terus mengejar terduga pelaku. Kalau bisa secepatnya tertangkap supaya keluarga juga merasa tenang,” katanya.