TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Tradisi Hari Raya Enam Syawal 1447 Hijriah di Kecamatan Bangkinang digelar pada Sabtu (28/3/2026).
Oleh masyarakat, tradisi ini disebut juga dengan Hari Raya Ziarah Kubur karena keidentikan prosesi perayaannya.
Masyarakat berbondong-bondong ke pusara dalam waktu bersamaan.
Uniknya, ribuan pria berjalan kaki dan singgah ke beberapa pemakaman untuk berziarah. Mereka berangkat dari masjid-masjid setelah salat subuh.
Mereka melakukan perjalanan panjang (long march) belasan hingga puluhan kilometer. Lalu kembali ke titik awal sebelum terik matahari tepat di atas kepala.
Salah satu yang terbesar dan tertua dan akan disinggahi peziarah, yaitu Pemakaman Datuk Tabano.
Terletak di Desa Muara Uwai Kecamatan Bangkinang.
Terdapat makam Gandulo Datuk Tabano di dalam areal berpagar itu. Ada juga beberapa makam di sekitarnya. Semua masyarakat adat Persukuan Melayu setempat.
Gandulo dikenal sebagai Pendekar Kampar yang wafat pada 11 November 1898. Berbagai sumber mengisahkan perjuangan beliau melawan tentara Belanda.
Baca juga: Kurangi Kemacetan, Bupati Kampar Imbau Gunakan Sepeda Motor Saat Hari Raya Enam
Areal pemakaman itu tampak sudah bersih dan rapi hingga sehari menjelang perayaan, Jumat (27/3/2026).
Ibrahim, salah seorang cicit dari cucu Gandulo paling bungsu, mengatakan, ada dua makam leluhur bergelar Datuk Tabano di situ. Selain Gandulo, satu lagi Ali Samad.
Pemakaman itu sudah ada sejak tahun 1800-an. Kini usia pemakaman di lahan sekitar setengah hektare itu diperkirakan sudah lebih dari 120 tahun.
"Sudah lebih 100 makam. Sudah padat karena sudah ada dari 1800-an," ungkap keturunan keempat dari Gandulo ini kepada Tribunpekanbaru.com.
Ia mengatakan, Gandulo sudah memiliki ribuan keturunan yang tersebar di banyak daerah bahkan luar negeri. Banyak di Malaysia dan ada di Singapura.
Gandulo memiliki enam anak dan 32 orang cucu. Sampai ke cicit dan piut atau disebut juga dengan cucong. "Cicit 290 orang, cucong 890 orang," katanya.
Keturunan pendekar itu akan berziarah pada Hari Raya Enam. "Banyak keturunan beliau pulang untuk berziarah dan ketemu di makam," ujarnya.
( Tribunpekanbaru.com / Fernando Sihombing)