TRIBUNJATIM.COM - Tradisi Sapi Sonok menjadi salah satu warisan budaya khas Madura yang hingga kini masih terus dilestarikan masyarakat.

Sapi Sonok dikenal sebagai kontes kecantikan untuk sepasang sapi betina. 

Dalam ajang ini, sapi tidak diadu kecepatan seperti pada karapan sapi, melainkan dinilai dari keindahan, keserasian, dan cara berjalan.

Sepasang sapi betina dalam kontes ini akan dirangkai menggunakan alat bernama pangonong. 

Sapi kemudian berjalan perlahan mengikuti arahan pawang menuju garis akhir dengan langkah yang anggun.

Keunikan lain dari tradisi ini adalah penampilan sapi yang dihias dengan beragam aksesori mencolok. 

Mulai dari mahkota di kepala hingga kain berwarna cerah di tubuhnya, membuat sapi tampil layaknya peragawati di atas catwalk.

Selain itu, iringan musik tradisional seperti saronen, gong, dan kendang turut memeriahkan suasana. 

Gerakan sapi yang selaras dengan musik menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian.

Baca juga: Tradisi Grebeg Tahu Jombang, dari Kirab Gunungan hingga Jadi Penggerak Ekonomi Warga

Sapi Sonok, lomba kecantikan khusus sapi khas Madura.
Sapi Sonok, lomba kecantikan khusus sapi khas Madura. (Kompas.com)

Asal Usul dari Tradisi Petani

Tradisi Sapi Sonok sendiri berawal dari kebiasaan sederhana para petani di Madura, khususnya di wilayah Pamekasan.

Dikutip dari referensi.data.kemendikdasmen.go.id, setelah bekerja di ladang, para petani biasanya memandikan sapi mereka. 

Sapi yang telah dibersihkan kemudian diikat pada tiang atau tancek dan dibiarkan berjejer bersama sapi milik petani lain.

Dari kebiasaan tersebut, muncul ide untuk memilih sapi yang paling bersih dan rapi. 

Seiring waktu, sapi-sapi tersebut mulai dihias dan dibandingkan keindahannya hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah kontes.

Tradisi ini mulai dikenal sejak tahun 1960-an dan terus berkembang menjadi budaya khas masyarakat Madura.

Melansir pesonaindonesia.kompas.com, awalnya kegiatan ini hanya dilakukan secara sederhana oleh para petani. 

Namun, seiring waktu, Sapi Sonok berkembang menjadi pertunjukan budaya yang terorganisir dan menarik perhatian banyak orang.

Baca juga: Mepe Kasur di Banyuwangi, Tradisi Suku Osing Jelang Idul Adha yang Sarat Filosofi & Nilai Spiritual

Peserta kontes sapi sonok tengah memasang hiasan di tubuh pasangan sapi betina mereka sesaat sebelum acara berlangsung di Lapangan Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Sabtu (27/5/2024).
Peserta kontes sapi sonok tengah memasang hiasan di tubuh pasangan sapi betina mereka sesaat sebelum acara berlangsung di Lapangan Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Sabtu (27/5/2024). (KOMPAS/Defri Werdiono)

Penilaian dan Keunikan Kontes

Dalam kontes Sapi Sonok, penilaian tidak hanya dilihat dari penampilan fisik sapi, tetapi juga keserasian gerak dan kekompakan pasangan sapi.

Sapi harus mampu berjalan lurus, selaras, serta mengikuti irama musik yang mengiringi. 

Bahkan, di garis akhir, sapi diminta menaikkan kaki depannya pada balok kayu sebagai bagian dari penilaian.

Selain itu, keindahan aksesori juga menjadi faktor penting. 

Sapi biasanya dihias dengan ornamen berwarna emas, merah, dan pernak-pernik berkilau yang mempercantik tampilannya.

Menurut sumber dari kompas.id, sapi sonok diibaratkan seperti peragawati karena cara berjalan dan penampilannya yang anggun.

Sebelum memasuki arena, biasanya sapi juga diarak terlebih dahulu dengan iringan musik dan penari tradisional, menambah kesan meriah pada acara tersebut.

Nilai Budaya dan Ekonomi

Sapi Sonok bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang tinggi bagi masyarakat Madura.

Tradisi ini juga pernah digunakan sebagai simbol penyambutan tamu dalam berbagai acara, seperti pernikahan dan khitanan. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa Sapi Sonok melambangkan kesopanan dan kehormatan.

Selain nilai budaya, Sapi Sonok juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. 

Sapi yang pernah menjuarai kontes biasanya memiliki harga jual yang melonjak drastis.

Mengutip sumenepkab.go.id, harga sapi sonok bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah, tergantung kualitas dan prestasinya.

Perawatan sapi sonok pun tidak sembarangan. Pemilik biasanya memberikan pakan khusus dan jamu tradisional untuk menjaga kesehatan serta keindahan sapi.

Baca juga: Unik dan Bermakna, Ini Tradisi Manten Sapi di Pasuruan Jelang Idul Adha

Penari mengiringi sapi-sapi sonok (sapi betina yang diikutkan kontes kecantikan) menuju Kontes Ternak Sapi Madura di Lapangan Desa Kaduara Barat, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (19/2/2019).
Penari mengiringi sapi-sapi sonok (sapi betina yang diikutkan kontes kecantikan) menuju Kontes Ternak Sapi Madura di Lapangan Desa Kaduara Barat, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (19/2/2019). (KOMPAS/IQBAL BASYARI)

Tetap Eksis dan Dilestarikan

Hingga saat ini, tradisi Sapi Sonok masih tetap eksis dan menjadi kebanggaan masyarakat Madura.

Kontes Sapi Sonok kerap digelar di berbagai daerah seperti Pamekasan dan Sumenep, bahkan mampu menarik perhatian wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara.

Keberadaan tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas budaya Madura yang harus terus dijaga.

Selain sebagai hiburan, tradisi ini juga berperan dalam menjaga kemurnian sapi Madura melalui seleksi dan perawatan yang baik.

Dengan nilai budaya, estetika, dan ekonomi yang dimiliki, Sapi Sonok tidak hanya menjadi tradisi lokal, tetapi juga simbol kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan.

Baca Lebih Lanjut
Hot Pot Pakai 'Kotoran' Sapi Digemari di China, Kayak Gimana Rasanya?
Detik
Menilik Tradisi Bakdan Sapi di Boyolali, Tradisi Turun-Temurun Saat Lebaran Ketupat di Desa Sruni
Rifatun Nadhiroh
5 Oleh-oleh Khas Solo yang Jadi Favorit Wisatawan, Ada Serabi dan Abon Sapi
Muhammad Yurokha May
BRIN riset sapi unggul dan pakan ternak kurangi ketergantungan impor
Antaranews
Sapi Milik Warga Balongan Indramayu Tercebur ke Sungai, Damkar Turun Tangan
Mutiara Suci Erlanti
Sejarah Jamu di Madura, Warisan Leluhur yang Bertahan di Tengah Modernisasi
Dwi Prastika
Berburu Buah Tangan di Kota Bengawan, 5 Oleh-oleh Khas Solo yang Wajib Masuk Daftar Belanja
Sinta Darmastri
Harga Daging Sapi Akhirnya Turun, Rp135 Ribu Per Kilogram di Pasar Pinasungkulan Manado
Alpen Martinus
Harga Daging di Purwakarta Masih Tinggi setelah Lebaran, Ayam Rp40 Ribu dan Sapi Rp150 Ribu
Muhamad Syarif Abdussalam
Harga 3 Jenis Daging di Pasar Bersehati Manado, Sapi Masih Rp142 Ribu Per Kilogram
Alpen Martinus