SURYA.co.id – Kasus dugaan penipuan wedding organizer (WO) dan catering Kamuya menggemparkan Surabaya dan Mojokerto.
Puluhan calon pengantin harus menghadapi kenyataan pahit setelah uang yang mereka setorkan tak berbanding lurus dengan layanan yang dijanjikan.
Beberapa di antaranya bahkan hampir kehilangan momen sakral pernikahan karena vendor mendadak menghilang.
Total kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Peristiwa ini memicu reaksi cepat dari Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji atau Cak Ji.
Ia turun langsung ke lokasi untuk menengahi konflik antara korban dan pemilik WO.
Di tengah tekanan, pemilik usaha akhirnya mengakui kesalahannya.
Namun solusi yang ditawarkan masih menyisakan tanda tanya besar bagi para korban.
Kasus ini pun menjadi sorotan publik sekaligus peringatan serius bagi calon pengantin.
Sejumlah korban mendatangi rumah pengelola Wedding Organizer (WO) dan Catering Kamuya di kawasan Suro-mulang, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.
Mayoritas korban berasal dari Surabaya.
Mereka melaporkan kejadian ini kepada Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji atau yang akrab disapa Cak Ji.
Menanggapi aduan tersebut, Cak Ji langsung mendatangi lokasi atau kantor dari pihak WO dan catering tersebut.
Kantor yang bersangkutan berada di Kecamatan Rungkut, namun setelah dicek di lokasi, ternyata kantor tersebut hanyalah cabang dan berstatus sewa.
Kemudian para korban dan Cak Ji ini langsung bertolak menuju Mojokerto.
Baca juga: Puluhan Calon Pengantin Asal Surabaya Geruduk Rumah Usaha WO dan Katering di Mojokerto
Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, mengatakan dirinya langsung datang ke Mojokerto setelah mendapat laporan dari warga Surabaya yang menjadi korban.
"Saya kebetulan ada acara di Jombang, terus ada acara di tempat Pak Wakil Wali Kota Mojokerto. Warga saya itu telepon saya, saya di Mojokerto, Mbak. Menindaklanjuti kejadian yang kemarin di Surabaya masalah wedding dan catering. Nah, kebetulan yang punya catering dan wedding ini tinggalnya di Mojokerto. Ya sudah, saya dampingi sekalian mumpung saya di Mojokerto," ujar Armuji, dikutip dari tayangan Youtube SURYA.co.id.
Setelah mendengar penjelasan dari korban dan pemilik WO, Armuji menilai persoalan ini sangat memberatkan korban secara psikologis karena berkaitan dengan momen pernikahan.
"Tadi kan sudah dengerin sendiri toh kejadiannya seperti apa? Kesimpulannya, ya mereka katanya mau mengganti tapi nunggu jualan rumah. Jualan rumah itu setahun belum tentu laku. Kan kasihan, ini kan secara psikologis kalau nggak jadi resepsinya, kan punya beban orang-orang itu. Itu yang menjadi beban mereka, karena mereka sudah lunas, sudah selesai semua apa yang mereka minta dari wedding maupun catering," kata Armuji.
Ia juga meminta agar pemilik WO tidak lagi membuka promosi sebelum menyelesaikan tanggung jawab kepada korban.
"Kejadian begini kan sudah sering, yang lagi viral di Jakarta kemarin Puspita Sari, itu kan polanya kelihatan, itu kan modus juga wedding sama catering. Ya jawabannya dia sudah pasrah. Ini supaya di kemudian hari tidak kejadian lagi, biar nggak promosi lagi. Kalau masih promosi lagi nanti korbannya banyak lagi. Kalau sudah seperti ini, ya diselesaikan dulu, jangan buka pameran-pameran lagi," tegas Armuji.
Pemilik WO berinisial PAH mengakui kesalahan dan mengklaim tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Ia bahkan mengaku sempat didatangi klien dan dibawa ke kantor polisi.
"Saya mengakui ini benar-benar kesalahan saya. Saya tidak memungkiri kesalahan saya, saya juga tidak lari. Saya mendatangi klien saya itu, lalu saya dibawa ke Polsek. Klien saya yang tanggal 29 (Maret), itu (kejadian) di Surabaya Pak. Saya dibawa ke Polsek Made dan Polsek Jambangan karena ini dua klien berbeda," ujar pemilik WO.
Ia menjelaskan bahwa sudah ada kesepakatan dengan beberapa klien untuk penggantian kerugian dengan menjual rumah.
"Di sana terjadilah kesepakatan untuk penggantian rugi itu. Kalau yang Made itu hanya memberi saya waktu tiga hari. Sebenarnya saya sudah bilang tidak mungkin dalam tiga hari saya bisa mengembalikan uang itu dengan menjual rumah ini. Akhirnya terjadi kesepakatan saya diberi waktu dua bulan untuk penjualan rumah ini," kata dia.
Ia juga mengaku sempat hendak mendatangi klien lain untuk menjelaskan kondisi tersebut.
"Pulang dari sana, akhirnya saya berniat mendatangi klien berikutnya. Belum sempat saya datangi, datanglah satu klien bernama Bu Esly (orang Mojokerto), acaranya 4 April Pak," ujarnya.
Dalam dialog dengan Armuji, pemilik WO mengaku masalah keuangan bermula dari utang berbunga tinggi.
"Utang saya ini sudah tidak bisa terbendung lagi, tidak bisa terputar lagi di angka saat ini. Saya pinjam 50 juta tapi saya membayar sampai di angka 150 juta sekian," ujar pemilik WO.
Menanggapi hal itu, Armuji mempertanyakan alasan pemilik WO mengambil pinjaman berbunga tinggi.
"Kok mau? Bunga atau apa itu?" tanya Armuji.
Pemilik WO pun menjelaskan bahwa ia terpaksa meminjam karena tekanan ekonomi.
"Terus terang karena waktu itu saya ditekan, bunganya terus bertambah. Saya bayar lewat pegawai saya sendiri yang punya kenalan. Uang ini uang omnya dia. Saya kasih 9 juta setiap bulan," jelasnya.
Armuji kemudian menegaskan bahwa uang klien seharusnya tidak digunakan untuk menutup utang pribadi.
"Harusnya kamu kalau sudah tahu gitu ya berhenti (stop), jangan uang korban ini kamu bikin tutup lubang gali lubang buat urusanmu sendiri," tegas Armuji.
Saat pertemuan berlangsung, korban menyampaikan kekecewaan mereka secara langsung dan menuntut solusi konkret.
"Kita butuh solusi buat acara besok! Cari solusi dong! Jangan cuma bilang pasrah," ujar salah satu korban.
Armuji kemudian meminta pemilik WO membuat komitmen tertulis di hadapan keluarga dan korban.
"Harusnya kamu komitmen sama para korban ini. Hadirkan seluruh keluargamu, bikin pernyataan, kalau perlu dinotariskan bahwa kamu sanggup membayar," kata Armuji.
Pemilik WO kembali menjelaskan bahwa masalah keuangan sudah terjadi sejak pandemi.
"Masalah keuangan saya ini sudah dari awal saat pandemi Pak," ujar pemilik WO.
Namun korban mempertanyakan mengapa promosi tetap dilakukan.
"Kalau tahu masalah dari pandemi, kenapa tetap adakan pameran? Tetap promosi dan kasih bonus-bonus? Itu kan narik kita buat masuk," kata korban.
Korban lain juga menyampaikan kerugian yang dialaminya.
"Saya sudah lunas puluhan juta Pak, beda sama yang lain yang mungkin baru DP. Kita ini mau nikah, bukan mau ketipu," ujar korban lainnya.
Salah satu korban, Nia Paramita, mengaku awalnya tertarik setelah mengikuti pameran wedding di Surabaya.
"Awalnya saya ikut pameran di Delta Plaza Surabaya. Dia buka pameran di situ, kita tes food rasanya enak, akhirnya saya ambil. Awalnya DP 6 juta (30 persen) buat dapat harga promo. Terus Oktober 2023 saya lunasi total 17,55 juta. Ternyata dapet informasi dari pelakunya sendiri, dia ada masalah keuangan dari 2022. Lah pas transaksi sama saya kan tahun 2023, berarti dia sudah ada rencana atau gimana saya nggak tahu," ujar Nia Paramita.
Ia mengaku baru diberi kabar beberapa waktu sebelum acara.
"Acara saya tanggal 31 Mei. Saya dapet info hari Minggu tanggal 29 Maret kemarin. Itu pun nggak dapet info langsung. Saya telepon nggak diangkat, terus tiba-tiba suaminya telepon pakai HP istrinya. Dia bilang ‘Mbak, mohon maaf saya nggak enak ngomongnya, intinya saya nggak bisa hadir di acaranya Mbak, nanti uangnya saya kembalikan tapi nunggu rumah laku’. Dia nggak punya uang sama sekali," ujarnya.
Korban lain, Dyah Ayu, juga mengaku baru mengetahui kasus tersebut dari sesama korban.
"Saya rencananya acara Juni 2026. Saya ikut pas pameran, ambil paket premium lengkap total 23 juta. Saya baru tahu ada kabar penipuan ini hari Selasa kemarin dari korban lain. Saya konfirmasi ke Mbak Putri hari Rabu, dan dia membenarkan kalau dana tidak ada dan acara tidak bisa terlaksana," ujar Dyah Ayu.
Dari data yang dihimpun, jumlah korban mencapai sekitar 29 orang dengan total kerugian sekitar Rp700 juta. Kerugian per orang bervariasi, bahkan ada yang mencapai Rp95 juta.
Pemilik WO menawarkan solusi menjual rumah senilai Rp1,3 hingga Rp1,4 miliar untuk mengganti kerugian korban.
Namun para korban meminta agar rumah tersebut segera dilelang melalui bank agar uang mereka bisa segera kembali.
Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih vendor pernikahan, terutama yang menawarkan promo besar di pameran.
Transparansi keuangan dan rekam jejak vendor menjadi hal penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.