Tribunlampung.co.id, Siak - Lampu rumah seorang nenek di Kampung Suka Mulya, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, terlihat masih menyala sejak pagi.
Namun hingga menjelang malam, tak ada satu pun aktivitas yang terlihat dari dalam rumah sederhana itu.
Kecurigaan mulai muncul ketika pintu rumah tetap tertutup rapat dari dalam. Beberapa tetangga menyebut, biasanya perempuan lansia itu sudah terlihat beraktivitas sejak pagi di halaman rumahnya.
Kekhawatiran semakin besar ketika anak kandung korban beberapa kali datang memeriksa rumah tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres karena ibunya tak juga merespons panggilan.
Malam itu, keputusan nekat pun diambil. Sang anak mencoba masuk lewat jendela rumah untuk memastikan kondisi ibunya yang sejak pagi tak bisa dihubungi.
Baca juga: Nenek Saniah Tertimpa Rumah Roboh di Lebak, Banten
Pemandangan di dalam rumah langsung membuatnya terpukul. Di ruang keluarga, tepat di depan televisi, sang ibu ditemukan sudah tergeletak tak bernyawa dengan luka di bagian leher.
Peristiwa tragis itu terjadi di Kampung Suka Mulya SP 12, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau, Kamis (2/4/2026) malam.
Korban diduga menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh cucunya sendiri.
Dikutip dari TribunPekanbaru.com, Kasi Humas Polres Siak, Dedek Prayogo, membenarkan adanya kasus pembunuhan tersebut.
“Pelaku sempat melarikan diri, namun berhasil diamankan oleh Satreskrim Polres Siak,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaku yang diketahui bernama Iqbal Alfarizi itu, kini telah diamankan bersama sejumlah barang bukti dan masih menjalani proses penyidikan.
Polisi juga mengamankan barang bukti berupa perhiasan emas serta uang tunai jutaan rupiah yang diduga dibawa kabur oleh pelaku.
Menurut keterangan sementara, uang milik korban yang diambil pelaku diperkirakan mencapai Rp15 juta.
Dugaan awal menyebut motif pembunuhan berkaitan dengan masalah ekonomi.
Meski begitu, pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman dan memeriksa pelaku untuk memastikan motif sebenarnya di balik peristiwa tersebut.
Ketua Rukun Kampung Suka Mulya, Sampurna, mengatakan korban dikenal sebagai sosok yang baik oleh warga sekitar.
“Korban itu orangnya baik sekali, sangat-sangat baik,” ujarnya.
Warga baru menyadari sesuatu terjadi setelah sehari penuh korban tidak terlihat beraktivitas seperti biasanya.
“Diketahui setelah maghrib menjelang Isya, karena satu hari tidak terlihat aktivitas di rumah,” kata Sampurna.
Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar sebulan lalu korban sempat kehilangan uang hingga Rp40 juta yang diduga dilakukan oleh orang yang sama.
Sementara itu, Kepala Dusun Suka Mulya, Atmam, menceritakan bahwa jasad korban pertama kali ditemukan oleh anak kandungnya sendiri.
Sejak pagi hingga menjelang malam, sang anak beberapa kali datang ke rumah korban karena merasa curiga dengan kondisi rumah yang tetap terkunci dari dalam.
“Sejak pagi sampai magrib, pintu rumah itu masih terkunci, lampu hidup, tapi sepi. Pak Wadi ini bolak-balik datang karena curiga,” ujar Atmam.
Saat akhirnya masuk melalui jendela, korban sudah ditemukan terkapar di ruang keluarga.
“Pas masuk lewat jendela, dia lihat korban sudah terkapar di ruang keluarga, depan TV. Spontan Pak Wadi ini histeris, teriak minta tolong,” katanya.
Teriakan tersebut langsung mengundang warga sekitar yang kemudian berdatangan ke lokasi.
Di dekat tubuh korban juga ditemukan senjata tajam jenis parang sepanjang sekitar 25 sentimeter yang diduga digunakan dalam aksi pembunuhan tersebut.