TRIBUNNEWSMAKER.COM - Antrean panjang pembeli burger milik Aldi Taher di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, mendadak viral di media sosial setelah muncul insiden tak biasa yang menyita perhatian publik.
Kejadian tersebut semakin ramai diperbincangkan karena memperlihatkan bagaimana antusiasme warga terhadap kuliner viral bisa begitu tinggi.
Dalam video yang beredar luas di Instagram, tampak antrean pembeli mengular panjang hingga memenuhi jalan di area kompleks perumahan.
Situasi itu rupanya memicu reaksi dari salah satu warga sekitar yang merasa terganggu dengan keramaian yang terjadi di depan rumahnya.
Seorang warga yang berada di dalam rumah kemudian terlihat menyemprotkan air menggunakan selang ke arah para pembeli yang sedang mengantre.
Aksi tersebut sontak menjadi sorotan karena dinilai cukup ekstrem sebagai bentuk protes terhadap kerumunan.
Meski mendapat perlakuan seperti itu, para pembeli justru tetap bertahan di tempat dan tidak membubarkan diri.
Mereka tampak rela basah demi tetap menjaga posisi antrean yang sudah dijalani cukup lama.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik kuliner yang sedang viral, hingga membuat orang rela menghadapi kondisi yang tidak nyaman.
Banyak netizen pun memberikan beragam komentar, mulai dari yang menganggapnya lucu hingga yang menyayangkan situasi tersebut.
Baca juga: Aldis Burger Cempaka Putih Viral, Aldi Taher Ucap Terima Kasih Jualannya Laku Keras Sampai Antre
Salah satu pembeli, Tata (29), mengaku sudah datang sejak pagi demi mendapatkan burger tersebut.
"Saya sebenarnya sudah coba datang dari Senin (30/3), tapi waktu itu enggak kebagian sama sekali. Antreannya panjang banget dan stoknya habis sebelum giliran saya," ujar Tata kepada Kompas.com saat antre, Rabu (1/4/2026).
Ia bahkan kembali datang lebih awal agar tidak kehabisan.
"Tapi ternyata pas saya datang saja sudah ada sekitar 11 orang yang antre duluan. Jadi memang benar-benar harus niat kalau mau dapat," kata dia
Pembeli lain, Imas (25), mengaku penasaran setelah melihat viralitas burger tersebut di media sosial.
"Saya ingin tahu apakah ini cuma gimmick atau memang produknya bagus," kata Imas.
Pengalaman antre baginya cukup melelahkan, terutama di bawah terik matahari.
"Tapi seru juga karena banyak orang yang sama-sama penasaran. Ada vibe-nya sendiri," ucap dia
Sementara itu, Arif (41) yang datang bersama keluarganya tetap bersabar meski harus antre lama.
"Udah tiga hari ini merengek minta dibeliin, yasudah saya ajak ke sini tadi pakai motor bertiga sama istri saya," ujarnya.
Meski harus mengantre panjang, ia tetap bersabar demi memenuhi keinginan sang anak.
Baca juga: Sosok & Profil Aldi Taher, Berani Buat Grup WA Bareng Para Mantan Istri, Ini Anggotanya
Ramainya gerai ini tidak lahir dari strategi besar yang dirancang matang sejak awal.
Dalam podcast bersama Raditya Dika, Aldi Taher mengungkapkan bahwa keputusan berjualan burger berangkat dari kebutuhan ekonomi yang mendesak.
"Bikin burger, BU (butuh uang), yaudah kita bismillah," katanya.
Ia tidak memiliki perencanaan pemasaran yang kompleks, melainkan mencoba berbagai cara yang terpikir saat itu.
Yang membuat Aldi’s Burger viral justru pendekatan promosi yang tidak lazim-repetitif, absurd, dan mudah diingat.
Kalimat seperti "rotinya lembut, dagingnya juicy luicy, Mahalini, Rizky Febian bisa pesan online" berulang kali ditulis di kolom komentar berbagai akun.
Tidak ada makna khusus di balik susunan kata tersebut, semuanya spontan.
Namun, di situlah letak daya tariknya: kalimat terasa acak, campur aduk, dan di luar konteks, sehingga membuat orang berhenti sejenak, terhibur, dan penasaran.
Menurut Ratih Ibrahim, psikolog klinis senior dan Direktur Personal Growth Kementerian Kesehatan RI, konten absurd dan repetitif lebih mudah diingat.
"Otak manusia secara alami lebih peka terhadap hal yang tidak biasa, 'out of place'. Kita memaknainya sebagai uniqueness, membuat informasi lebih mudah masuk dan tersimpan di ingatan," ujar Ratih saat dihubungi Kompas.com.
Fenomena ini mirip dengan efek earworm, ketika potongan informasi terus muncul di pikiran.
"Pengulangan yang konsisten dan bentuk sederhana membuat informasi mudah menempel dan muncul kembali secara spontan. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa berkembang menjadi ketertarikan terhadap produk," tutur Ratih.
Ia juga menekankan adanya efek kolektif dalam fenomena tersebut.
"Ketika konten mudah diingat, sering muncul, dan terlihat banyak diikuti orang lain, individu terdorong untuk ikut meniru atau menyebarkannya. Dorongan untuk ikut dalam trend memperkuat perilaku kolektif," jelas Ratih.
(TribunNewsmaker.com/ TribunJakarta)