TRIBUNJATIM.COM - Inilah cerita warga Indonesia yang memilih jadi caregiver atau perawat lansia di luar negeri.
Warga Kabupaten Subang rupanya banyak yang berminat atas pekerjaan sebagai caregiver di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di daerah tersebut.
Besaran gaji yang mencapai belasan juta rupiah per bulan juga menjadi daya tarik utama.
Taiwan, Hongkong, dan Singapura menjadi negara tujuan yang paling banyak diminati.
Baca juga: 14 Tahun Kang Asep Jadi Pengasuh Pasien Tapi Dibayar Seikhlasnya, Sebut Keinginan Hati
Pilihan ini satu di antaranya diambil oleh Yani Nuraeni.
Keinginan mengubah nasib mendorong perempuan tersebut memilih bekerja ke luar negeri sebagai caregiver.
Ia mengaku peluang kerja di kampung halamannya sangat terbatas, sementara kebutuhan hidup terus meningkat.
"Di Subang sangat sulit cari kerja dan ribet juga harus pakai uang dengan gaji yang juga minim di tengah biaya kebutuhan hidup yang tinggi saat ini. Jadi saya coba melamar menjadi PMI (Pekerja Migran Indonesia)," kata Yani saat ditemui di sela pelatihan di Kantor Disnakertrans Subang, Selasa (7/4/2026).
"Saat ini masih dalam tahap belajar bahasa, mungkin dua atau tiga bulan ke depan baru bisa terbang," sambungnya.
Yani berharap, dengan bekerja di Taiwan, ia bisa mengumpulkan modal usaha dan membangun rumah untuk keluarganya.
"Bersabarlah 3-5 tahun berpisah dengan keluarga dan anak untuk bekerja ke Taiwan. Mudah-mudahan pulang bisa membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi keluarga," ungkap warga Patokbeusi tersebut.
Peluang kerja sebagai caregiver di luar negeri memang menjadi pilihan banyak warga Subang.
Selain terbukanya lapangan kerja, gaji yang ditawarkan juga cukup besar.
Pengantar Kerja Ahli Pertama Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Sobur menyebutkan, upah pekerja di sektor ini bisa mencapai Rp 15-17 juta per bulan.
"Wajar juga banyak yang minat warga Subang bekerja sebagai caregiver, karena gajinya mencapai sekitar Rp 15-17 jutaan per bulan," katanya.
Menurut Sobur, hingga awal April 2026, hampir seribu warga Subang telah berangkat bekerja ke luar negeri.
"Mayoritas para PMI Subang ini didominasi oleh perempuan, dengan negara tujuan paling banyak adalah Taiwan, Hongkong, dan Singapura," ujarnya.
Di negara-negara tersebut, para pekerja umumnya bekerja di sektor informal sebagai caregiver.
Sobur menjelaskan, tingginya permintaan caregiver dipicu oleh banyaknya lansia yang membutuhkan perawatan di tengah kesibukan keluarga.
"Di Taiwan, Hongkong, dan Singapura peluang kerja sebagai caregiver ini sangat banyak. Karena di sana banyak lansia yang butuh perawatan di tengah kesibukan keluarganya," katanya.
Pekerjaan caregiver mencakup pendampingan harian, menjaga kebersihan, menyiapkan makanan, hingga memberikan obat.
"Pekerjaan ini sering kali melibatkan pendampingan fisik penuh, seperti membantu berpindah tempat atau mengganti pakaian, terutama jika lansia tersebut sakit," ucapnya.
Meski menjanjikan, Sobur mengingatkan warga agar berhati-hati dan memilih jalur resmi saat ingin bekerja ke luar negeri.
"Waspada karena masih banyak juga PJTKI yang memberangkatkan PMI secara ilegal. Tentunya ini sangat berbahaya jika kelak terjadi sesuatu di sana akan sangat sulit kami memproses atau mengurus kepulangan PMI tersebut. Jadi pilihlah jalur yang legal jika mau bekerja ke luar negeri," katanya.
Ia menambahkan, banyak pekerja migran yang berhasil meningkatkan kesejahteraan setelah pulang ke tanah air.
"Banyak PMI yang pulang kerja dari Taiwan bisa punya modal usaha, hingga kebangun rumah megah," tandasnya.
Baca juga: Ibunya Jadi TKW Malaysia, Anak Yatim Berhenti Sekolah Demi Bantu Nenek, Dinsos Kini Beri Bantuan
Sementara itu, sebelumnya juga viral di media sosial sosok Kang Asep Subandi, seorang caregiver yang 14 tahun dibayar seikhlasnya.
Caregiver, yang juga dikenal sebagai pendamping atau pengasuh, adalah individu yang bertanggung jawab untuk merawat orang yang tidak dapat merawat diri mereka sendiri.
Peran ini melibatkan memberikan bantuan harian seperti mandi, berpakaian, makan, serta menjaga kebersihan pribadi orang tersebut.
Biasanya, caregiver merawat individu yang mengalami keterbatasan karena penyakit tertentu, usia lanjut (lansia), disabilitas, masalah kesehatan mental, atau kondisi lain yang membatasi kemampuan mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Sosok Kang Asep viral setelah seorang warganet menceritakan peristiwa yang ia alami ketika sedang dirawat di rumah sakit.
Dalam kondisi tak berdayanya, ia menceritakan ada seseorang yang berkenan menemaninya selama dirawat di rumah sakit, meski ia tidak mengenal orang tersebut.
"Nggak percaya di dunia ini masih ada yang tulus, tapi dia mau nemenin aku pas dirawat, padahal nggak kenal. Bela-belain naik kereta dari Rangkasbitung ke Jakarta buat nemenin pasien berobat, dibayar seikhlasnya. 14 tahun jadi caregiver, pernah nemenin cewek yang dibuang orang tuanya karena HIV, pas meninggal sampai ditemenin. Kadang dia tidur di jalanan demi sembuhin orang yang dia nggak kenal. Kang Asep buka jasa buat nemenin kalian berobat, operasi, kemo, cuci darah, atau penyakit apapun bahkan bisa beliin obat," tulis akun Instagram @pi****** pada Selasa (21/10/2025).
Baca juga: TKW Latiyah Harus Bayar Rp40 Juta Jika Ingin Pulang ke Indonesia, Kini Pendarahan dan Tak Kuat Kerja
Unggahan tersebut viral di media sosial dan banyak warganet merasa kagum, sebab seseorang yang dikenal sebagai "Kang Asep" ini rela membantu tanpa memberikan patokan biaya.
Beberapa warganet bahkan menanyakan kontak Kang Asep, karena mereka juga membutuhkan caregiver untuk merawat dan menemani keluarga yang sakit.
Saat ditemui, Kang Asep akhirnya mengungkap kisahnya.
Selama lebih dari sepuluh tahun, pria berusia 34 tahun ini mengabdikan dirinya sebagai relawan caregiver atau pendamping pasien di sejumlah rumah sakit di Lebak, Banten, dan Jakarta.
Selama menjadi caregiver, ia mengatakan tugasnya adalah mendampingi pasien dengan berbagai kebutuhan.
"Membantu pasien kontrol atau rawat inap, menemani, menyiapkan kebutuhan pasien selama dirawat," kata Kang Asep, Jumat (24/10/2025), melansir dari Kompas.com.
Kang Asep mengaku tak membeda-bedakan pasien berdasarkan penyakit-penyakitnya, bahkan ia juga mau menemani dan merawat mereka yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
"(Membantu) semua pasien dengan bermacam diagnosa," katanya.
Mengenai pasien yang ia bantu, Kang Asep mengatakan, terkadang datang dari permintaan pasien sendiri, atau saat ia mendapati adanya pasien yang tidak didampingi keluarga di sebuah rumah sakit.
“Biasanya membantu pasien dengan kebutuhan khusus, seperti yang belum paham administrasi atau tidak ada pendamping dari keluarga. Bisa juga karena permintaan langsung atau ditemukan saat pendampingan,” ungkapnya.
Sementara itu, lama pendampingan tergantung pada kebutuhan pasien.
Kadang hanya sekali, kadang berulang kali hingga pasien benar-benar pulih atau selesai berobat.
“Kalau saya sesuai permintaan dan kebutuhan, bisa sesekali atau bisa berkali-kali,” tuturnya.
Ketika ditanya apakah ia memilki patokan bayaran, Kang Asep mengaku tidak memberikan patokan. Ia bahkan rela apabila membantu tanpa diberi imbalan sama sekali.
“Tidak ada patokan, bahkan rela membantu tanpa dibayar sama sekali,” ujarnya.
Kang Asep mengatakan, motivasinya dalam menjadi caregiver adalah perasaan bahagia saat membantu sesama yang sedang sakit dan kesulitan.
“Keinginan hati. Senang membantu orang-orang sakit yang kesulitan berobat,” katanya.
Selama menjalankan perannya sebagai relawan, Kang Asep bernaung di bawah komunitas Respek Peduli, sebuah lembaga sosial yang aktif membina relawan caregiver.