TRIBUNJAKARTA.COM, KEMBANGAN - Di tengah duka cita mendalam, Hafizoh menceritakan kronologi hanyutnya sang putra yang kini telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Peristiwa pilu itu dialami oleh Hadi Khairul Hafizhi yang masih berusia 4 tahun.
Peristiwa nahas ini terjadi pada Rabu (8/4/2026) sekira pukul 13.15 WIB saat hujan turun deras.
Korban diketahui keluar rumah tanpa sepengetahuan keluarga dan bermain di area selokan atau gorong-gorong dekat rumahnya di Jalan Flamboyan, Srengseng, Jakarta Barat.
“Pas kejadian saya masih mengajar. Terus dihubungi, anak saya sudah hanyut,” ujar Hafizoh ditemui di rumah duka. Kamis (9/4/2026).
Dari informasi yang diterima keluarga, kejadian bermula saat korban bermain di saluran air bersama teman sebayanya.
Diduga, korban terpeleset saat mencoba mengambil sandal temannya yang jatuh ke dalam selokan.
Saat itu, kondisi aliran air di gorong-gorong sedang deras akibat hujan, meskipun kedalaman air tidak terlalu tinggi.
“Karena hujan, alirannya jadi lancar. Walaupun cetek, tapi deras,” jelasnya.
Kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh teman korban yang kemudian melapor ke keluarga.
Pencarian pun langsung dilakukan dengan menyusuri aliran gorong-gorong.
Hafizoh mengaku langsung pulang dari tempat mengajar begitu mendapat kabar tersebut.
Ia tiba di lokasi sekira pukul 14.30 WIB dan langsung ikut melakukan pencarian.
Upaya pencarian melibatkan keluarga, warga sekitar, serta tim SAR. Bahkan, warga sempat masuk ke dalam gorong-gorong dan menyusuri aliran air berulang kali.
“Sudah berkali-kali disusuri, sampai tujuh kali bolak-balik,” ungkap Hafizoh.
Berdasarkan rekaman CCTV di sekitar lokasi, korban sempat berusaha menyelamatkan diri.
Ia terlihat berteriak sambil menangis memanggil ibunya.
“Dia sempat teriak ‘Umi, umi’ sambil nangis. Dia berusaha, walaupun umurnya masih 4 tahun,” tuturnya.
Setelah pencarian intensif sejak siang hingga malam, korban akhirnya ditemukan pada Kamis pagi atau keesokan harinya sekira pukul 08.00 WIB oleh petugas UPS Badan Air.
Korban ditemukan tersangkut di tumpukan sampah di sekatan Kali Cengkareng Drain.
Ia mengungkapkan, malam sebelum korban ditemukan, dirinya sempat berdoa agar anaknya segera ditemukan tanpa harus menunggu berhari-hari.
“Saya minta sama Allah, apapun keadaannya, yang penting segera ditemukan,” ujarnya.
Hafizoh mengaku telah mengikhlaskan kepergian anaknya dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
“Apapun milik kita itu milik Allah. Kapan pun diminta, kita harus ikhlas,” ucapnya.
Jenazah korban pun kemudian dimakamkan di Grobogan, Jawa Tengah, yang merupakan kampung halaman sang ayah.