Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di tengah menjamurnya coffee shop di Kota Solo, ada salah satu coffee shop yang mencoba peruntungan, Kawan Tuli Coffee and Space.
Di sini tidak ada barista yang akan menyambut, “Mau pesan apa?”.
Sebab, semua barista di sini tuli.
Saat aku datang hanya ada salah satu karyawan dengan papan tulis di depannya.
Ia memandang saya dengan tatapan menunggu apa yang akan aku katakan, tentu saja secara visual.
Baca juga: Kampung Batik Kauman Solo Diserbu Wisatawan, Bangunan Heritage & Kedai Kopi Kekinian Jadi Spot Foto
Aku yang tak bisa bahasa isyarat menuliskan maksud kedatanganku untuk berbincang dengan Co-Founder Kawan Tuli Coffee and Space, Florentino Bintang.
Saat ia menghampiriku, kami berbincang banyak hal.
Namun satu hal yang langsung aku amini: Kita masih jauh dari inklusif.
“Ketika teman-teman dengar mau pesan mereka pasti bingung. Mau pesan matcha cloud. Mereka berdiri di situ. Mereka memaksa berinteraksi. Dari situ muncul ada spark of understanding,” ungkap Florentino, kepada TribunSolo.com, Jumat (10/4/2026).
Aku seakan datang ke dunia mereka.
Saat semua pelayan tuli, lalu sebagai teman dengar aku merasakan sebagaimana yang mereka rasakan saat mengakses fasilitas publik yang semestinya aksesibel juga untuk mereka.
“Gini ya rasanya. Kalau misal kita reverse posisinya teman-teman tuli antri di puskesmas yang nggak ada nomornya dipanggil. Kaya gitu rasanya. Ini dalam day to day basis kita pengen teman-teman dengar punya experience yang sama,” jelas Tino, sapaan akrabnya.
Ia pun menyadari masih minim teman-teman dengar yang menguasai bahasa isyarat.
Ia tak saklek orang yang datang ke coffee shop-nya harus menguasai bahasa isyarat.
Ia justru ingin menunjukkan bahwa berinteraksi dengan teman-teman tuli tak sesulit itu.
Baca juga: Kisah Kawan Tuli Coffee and Space di Tengah Persaingan Ketat Coffee Shop di Kota Solo
Sekadar menunjuk gambar, barang, atau menuliskannya di papan tulis adalah sebuah bahasa yang cukup mudah dimengerti teman-teman tuli.
Jika pelanggan komplain pun, semua tetap bisa dilakukan dengan mudah.
“Ini menunya kurang. Ini kok kurang manis. Kita sediakan sticky notes dan white board kecil. Nggak harus (bahasa isyarat),” terang Tino.
Di tengah masih minimnya lapangan pekerjaan untuk difabel, coffee shop ini mengambil langkah berani.
Ia pun menyadari tak mudah mempekerjakan mereka.
“Kita sadar betul ada beberapa barrier ada beberapa tantangan yang mungkin cukup berat juga dilakukan sama teman-teman businessman. SOP menyesuaikan. Bagaimana training program mereka. Ada banyak yang harus dilakukan tim manajemen kalau mau mempekerjakan teman-teman tuli,” jelasnya.
Baca juga: Kedai Kopi Kopitiam Bermunculan di Kota Solo, Ini Lho Asal Usulnya
Selama ini sudah cukup banyak pelatihan yang dilakukan untuk para difabel.
Namun, belum ada yang dapat menyalurkan keahlian yang sudah dimiliki.
“Akhirnya saya waktu itu bilang kita coba buat kecil-kecilan dulu. Makanya kita namai Kawan Tuli Coffee and Space,” terangnya.
Itulah yang melatarbelakangi berdirinya coffee shop yang ada di Jalan Ronggowarsito No. 16, Kampung Baru, Pasar Kliwon, Solo ini.
Mempertemukan dua dunia untuk membangun kesadaran bersama bahwa semua orang berhak atas penghidupan yang layak.
“Sebenarnya singkat dari collaboration space. Space untuk bertemu teman-teman dengar dan teman-teman tuli. Teman-teman dengar mau ketemu teman-teman tuli bingung tempatnya dimana? Teman-teman tuli ketemu teman-teman dengar alasannya kenapa? Kita desain tempat ini dua dunia itu. Kita ingin bangun awareness. Teman-teman tuli juga keluar dari dunia mereka,” ungkapnya.
(*)