TRIBUNJATIM.COM - Balita berusia 1,5 tahun yang alami hipotermia pada Sabtu (11/4/2026) masih menyita perhatian masyarakat.
Balita perempuan itu alami hipotermia setelah dibawa orang tuanya mendaki pada Sabtu (11/4/2026), saat cuaca tiba-tiba berubah ekstrem.
Peristiwa ini langsung memicu respons cepat dari tim SAR gabungan yang tengah bersiaga dalam kegiatan Semarang Mountain Race.
Evakuasi dilakukan di kawasan Puncak Bondolan, salah satu titik pendakian yang cukup tinggi dan rawan perubahan cuaca mendadak.
"Suhu tubuhnya turun drastis, kondisi kritis.
Tim Basarnas yang tengah siaga di event Semarang Mountain Race langsung bergerak cepat," ujar Basarnas lewat video YouTube @BasarnasOfficial, Minggu (12/4/2026).
Dalam rekaman yang diunggah, korban terlihat terus menangis dan menunjukkan gejala kedinginan hebat akibat suhu yang menurun drastis dipicu hujan deras.
Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan penanganan darurat untuk mengatasi hipotermia yang dialami balita tersebut.
Langkah awal difokuskan pada upaya menghangatkan tubuh dan menstabilkan kondisi korban.
"Evakuasi dilakukan di Puncak Bondolan.
Petugas berupaya keras menghangatkan tubuh korban, menstabilkan kondisinya," kata Basarnas dalam video tersebut.
Baca juga: Ayah Bayi yang Hipotermia Sempat Ngotot Lanjut Mendaki Gunung Ungaran, Sudah Diperingatkan Petugas
Setelah kondisi korban mulai membaik, tim SAR segera melakukan evakuasi turun gunung menuju Basecamp Perantunan agar korban mendapatkan penanganan medis lanjutan.
"Setelah penanganan hipotermia, korban berhasil dievakuasi turun ke basecamp," tulis Basarnas.
Penanggungjawab atas bayi perempuan itu adalah orang tua kandungnya, pasangan suami istri asal Semarang.
Sosok pasutri tersebut juga disebutkan oleh pengelola Basecamp dalam keterangan lebih lanjut, seperti dikutip TribunJatim.com via Kompas.com, Senin (13/4/2026).
Pengelola Basecamp Perantunan, Kecamatan Bandungan memberikan klarifikasi untuk meluruskan duduk perkara yang sebenarnya.
Wido, pengelola BC Perantunan menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi pada Sabtu (11/4/2026).
Pasangan suami-istri (pasutri) asal Semarang tersebut datang membawa anak mereka yang diperkirakan baru berusia 1,5 tahun untuk melakukan pendakian tektok (naik-turun dalam sehari).
Sejak awal pendaftaran, Wido menegaskan bahwa petugas basecamp sudah memberikan peringatan keras kepada orangtua bayi tersebut.
Hal ini dilakukan karena pendaki membawa anak di bawah umur di tengah kondisi alam yang tidak menentu.
"Kami memperingatkan soal risiko dan lain sebagainya, karena cuaca memang lagi tidak bersahabat," kata Wido seperti dilansir dari Kompas.com, Senin (13/4/2026).
Namun peringatan tersebut tidak menyurutkan niat kedua orangtua sang bayi.
Mereka menyatakan sanggup menanggung risiko dan menjamin keselamatan buah hati mereka.
Atas dasar pernyataan kesanggupan tersebut, petugas akhirnya mengizinkan mereka naik.
Masalah mulai muncul ketika rombongan kecil ini sampai di Pos 4 Pendakian Jalur Perantunan.
Alih-alih kekompakan, pasutri tersebut justru terlibat perselisihan.
Sang suami bersikeras ingin melanjutkan pendakian hingga ke puncak, sementara sang istri meminta untuk segera turun kembali ke basecamp.
Di tengah perdebatan orangtuanya, sang bayi mulai rewel dan menangis terus-menerus.
Saat itu, cuaca di ketinggian memang terasa sangat dingin.
Beruntung ada anggota SAR yang sedang melakukan kegiatan SMR di sekitar lokasi.
"Kemudian bayi tersebut diajak anggota SAR dan ditenangkan."
"Karena memang saat itu cuaca dingin, lalu untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, diberi blanket emergency," jelas Wido.
Di sisi lain, Wido meluruskan bahwa penggunaan selimut darurat (blanket emergency) tersebut lebih bersifat preventif, bukan karena bayi sudah dalam kondisi kritis atau terkena hipotermia parah seperti kabar yang beredar.
Setelah ditenangkan dan diberikan kehangatan tambahan, bayi tersebut langsung dibawa turun bersama orangtuanya menuju basecamp.
"Setelah itu langsung diajak turun dan kembali. Bayi dalam keadaan sehat dan baik-baik, semua sehat," ungkapnya.
Wido berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pendaki.
Korban diketahui berinisial L, balita perempuan asal Tembalang, Kota Semarang.
Ia mendaki bersama kedua orang tuanya dan tiba di area puncak sekitar pukul 14.00 WIB.
Namun, tidak lama setelah sampai di puncak, kondisi cuaca berubah drastis.
Hujan deras disertai suhu dingin menyebabkan tubuh korban tidak mampu beradaptasi, hingga akhirnya mengalami hipotermia.
Insiden ini menjadi pengingat penting bagi para pendaki, khususnya yang membawa anak kecil, untuk memperhatikan faktor keselamatan, kesiapan fisik, serta kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas di alam terbuka.