Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN - Peristiwa tragis mengguncang warga Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka. Tiga siswi SMP Negeri 1 Kobalima meninggal dunia setelah tenggelam di Bendung Halibot, Desa Sisi, Kecamatan Kobalima, pada Rabu (17/4/2026) sekitar pukul 14.00 Wita.
Ketiga korban masing-masing bernama Maria Indri Castro Lau (14), Apriani Deandrade (15), dan Yuliana Olo (15). Mereka diketahui masih aktif menempuh pendidikan di bangku SMP Negeri 1 Kobalima.
Pantauan POS-KUPANG.COM pada Jumat (17/4/2026), suasana duka masih menyelimuti rumah duka salah satu korban, Yuliana Olo, di Desa Sisi. Keluarga, kerabat, dan warga sekitar tampak memadati rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir.
Prosesi pemakaman berlangsung haru. Rekan-rekan Yuliana dari organisasi THS-THM turut hadir mengenakan atribut lengkap organisasi.
Mereka menggelar upacara penghormatan terakhir sebelum jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir.
Sebuah bendera organisasi dipasang di atas peti jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhumah.
Setelah seluruh prosesi selesai, jenazah Yuliana kemudian diantar menuju liang lahat yang telah disiapkan di pekarangan belakang rumah keluarga.
Ibu kandung Yuliana Olo, Elfrida Seu, tak kuasa menahan tangis saat ditemui wartawan. Dengan suara terbata-bata, ia mengaku tidak mengetahui putrinya pergi ke bendungan bersama teman-temannya.
“Setelah pulang sekolah dia masih datang ke rumah. Dia izin pergi karena diajak temannya, katanya mau urus surat. Saya tidak tahu surat apa dan tidak tahu juga kalau mereka pergi ke bendungan. Setelah itu kami baru dikabari kalau anak saya tenggelam dan meninggal di sana,” ujarnya sambil menangis.
Karena tak sanggup melanjutkan pembicaraan, Elfrida terus menangis mengenang kepergian anak tercintanya.
Sementara itu, Om dari Yuliana, Maksi Bere, mengatakan informasi yang ia peroleh berasal dari salah satu rekan korban bernama Loveli yang selamat dari kejadian tersebut.
Menurut keterangan itu, rombongan sempat mandi di sekitar bendung sebelum naik ke bagian penahan air untuk berfoto bersama. Saat itulah salah satu korban, Maria Indri Castro Lau, diduga terpeleset dan jatuh ke air.
“Indri jatuh duluan, lalu menarik Yuliana. Yuliana tarik lagi Ani. Ani tarik lagi saudaranya Ana, kemudian Ana tarik lagi Loveli,” jelas Maksi.
Loveli disebut ikut tercebur bersama empat temannya, namun berhasil menyelamatkan diri dan menolong satu rekannya bernama Ana. Saat berusaha menolong tiga korban lainnya, ia tidak lagi mampu karena kondisi air yang dalam.
“Dia bilang sempat ambil kayu untuk menolong. Tangan Ani masih kelihatan, tapi sudah tidak bergerak lagi. Mereka lalu tenggelam perlahan ke dasar air,” katanya.
Rekan-rekannya yang selamat sempat berteriak meminta tolong. Saat itu ada seorang pria lanjut usia di sekitar lokasi, namun tidak bisa berenang. Ia kemudian meminta bantuan warga kampung.
Beberapa warga langsung datang ke lokasi dan melakukan pencarian dengan menyelam. Pada upaya awal, korban belum ditemukan. Setelah beberapa kali pencarian, satu per satu korban berhasil ditemukan.
Korban pertama yang ditemukan adalah salah satu anak kembar yakni Ani, disusul Indri, dan terakhir Yuliana.
Ketiganya kemudian dievakuasi ke Puskesmas Namfalus. Namun setelah tiba di fasilitas kesehatan, nyawa para korban tidak dapat diselamatkan.
“Kejadian sekitar jam dua siang, sementara ditemukan dan dibawa keluar dari lokasi sudah sore. Mereka berada di dalam air hampir dua jam,” ujar Maksi.
Menurutnya, Bendung Halibot berada sekitar 500 meter dari permukiman jika ditempuh menggunakan kendaraan. Namun melalui jalan pintas melewati kebun mente, jaraknya hanya sekitar 100 meter lebih.
Maksi menyebut bendung tersebut dibangun sekitar tahun 2000 dan selama ini belum pernah menelan korban jiwa.
“Selama ini tidak pernah ada kejadian seperti ini. Baru pertama kali bendungan itu makan korban,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan para remaja yang selamat dari insiden tersebut hingga kini masih mengalami trauma dan ketakutan.
Sementara itu, Yuliana Olo diketahui merupakan siswi kelas II SMP Negeri 1 Kobalima. Kepergian tiga pelajar itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat Kecamatan Kobalima. (ito)