TRIBUNSUMSEL.COM -- Di sebuah sudut Kampung Pasir Muncang, Sukabumi, Sri Apriliani menjalani hari-harinya dalam kesunyian yang membawa trauma.
Bukan sekadar keterbatasan ekonomi, alasan gadis ini berhenti sekolah saat duduk di bangku SMP adalah karena tak kuat menahan perundungan dari teman-temannya
Sebuah rahasia kelam yang akhirnya terkuak dan memicu simpati netizen
Kisah pilunya itu kemudian dibagikan kanal YouTube HDW Channel, lalu viral dibagikan di berbagai platform media sosial.
Kedatangan konten kreator YouTube tersebut menemukan gadis kecil duduk seorang diri di rumah yang sudah rapuh.
Saat berdialog, ternyata terselip sebuah kisah perjuangan hidup yang menyayat hati dari Sri Apriliani tersebut.
Diketahui saat ini Sri Apriliani berusia 22 tahun, hidup seorang diri karena yatim piatu.
Sri harus menjalani hari-harinya dalam kesendirian dan keterbatasan fisik yang membekas sejak masa kecilnya.
Pendidikan Sri terpaksa terhenti di bangku SMP kelas 2 semester 1.
Bukan karena ia enggan belajar, melainkan ia putus sekolah karena luka batin akibat perundungan (bullying) yang dilakukan oleh teman-temannya.
Sri dirundung karena kondisi fisik tangan kanannya yang lemah dan tidak bertenaga.
"Enggak diterusin soalnya teman-temannya pada nge-bully... karena tangannya begini, enggak ada tenaganya," ungkap Sri melansir dari Tribunjatim.com, Jumat (17/4/2026).
Kondisi ini bermula saat ia masih kecil.
Ia mengalami panas tinggi atau step, dan setelah mendapatkan suntikan saat berobat, tangannya menjadi lemas hingga ia terpaksa menulis menggunakan tangan kiri.
Selama ini, ia hanya menjalani pengobatan tradisional dan belum pernah mendapatkan penanganan medis dari dokter spesialis.
Nasib malang seolah tak berhenti merundung Sri.
Ternyata, Sri juga menyandang status yatim piatu setelah ibunya meninggal dunia pada tahun 2019, disusul oleh ayahnya pada tahun 2023.
Kini, Sri tinggal sendirian di rumah peninggalan orang tuanya yang kondisinya cukup memprihatinkan.
Rumah tersebut tidak memiliki kamar mandi di dalam, sehingga Sri harus keluar rumah jika ingin ke kamar mandi, hal yang membuatnya ketakutan saat malam hari.
Pintu rumah yang rusak dan bangunan yang mulai bolong membuatnya merasa tidak aman, sehingga ia sering mengungsi ke rumah nenek atau saudaranya jika malam tiba.
Untuk makan sehari-hari, Sri sering mengandalkan kebaikan hati saudara dan neneknya.
Di usianya yang sudah cukup dewasa, di dalam lubuk hatinya Sri mengaku ingin bekerja.
Namun, niatnya tersebut selalu gagal karena ketidakpercayaan dirinya akibat trauma bullying yang diterimanya.
(*)