Bandung -
Sate asin pedas belakangan mendominasi kuliner Bandung. Namun Gen Z ini muncul dengan produk inovatif, sate merah. Usahanya sukses hingga membuat ia bisa meraup belasan juta rupiah per bulan!
Nata Wijaya adalah seorang gen Z sekaligus pemilik usaha kuliner Sate Bakarjo di kawasan Citarum, Bandung. Bisnisnya berupa warung tenda sejak November 2025 yang kini kerap dipadati penikmati kuliner malam.
Sate Bakarjo, yang beroperasi setiap hari mulai pukul 17.30 hingga tengah malam, menawarkan harga yang bersahabat di kantong, yaitu Rp1.800 per tusuk untuk sate ayam, serta Rp2.000 untuk sate kulit dan jando.
Nata mengungkap awal mendirikan bisnis ini karena ia melihat tingginya permintaan pasar akan sate asin pedas khas Bandung. Namun, ia tak ingin sekadar menjadi pengikut tren yang sudah ada.
"Sebenarnya awal mula aku merintis Bakarjo ini karena aku melihat peluang pasar sate di Bandung itu peminatnya banyak, orang Bandung tuh cinta banget sama sate asin pedas. Tapi, Bakarjo hadir sebagai inovasi baru. Kami punya menu andalan sate merah yang rasanya cenderung manis pedas, ada juga menu sate asin pedas yang udah akrab di lidah warga. Kami juga menyediakan jando dan kulit untuk melengkapi pilihan," ujar Nata saat ditemui oleh detikJabar belum lama ini.
Sate Merah, Hasil Inovasi Nata
Nata memilih Sate Merah sebagai jagoan, menu yang terbilang jarang ditemukan di deretan kuliner kaki lima Bandung. Sebab biasanya yang mendominasi adalah produk sate bumbu kacang atau sate asin pedas.
Ia sendiri tidak punya latar belakang di dunia kuliner, tapi semangat khas Gen Z begitu menempel pada dirinya. Nata yang haus akan informasi mau belajar otodidak, memafaatkan teknologi untuk meracik resep yang kini dicintai pelanggannya.
Sate Bakarjo dirintis oleh Gen Z asal Bandung. Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar |
"Gagal, pasti ada sih. Aku tuh background-nya enggak ada di dunia F&B. Aku tuh enggak bisa masak sebenarnya cuman karena aku mau coba terus, aku bereksperimen dan pada saat itu aku membuat sate merah gitu, based on internet dan ya video di Youtube dan segala macem. Aku R&D terus gitu ya. Pertama-pertama mungkin rasanya masih aneh masih ya gak cocok lah, setiap harinya setiap ada customer datang, aku nanya kurangnya apa biar aku lebih bisa memaksimalkan sate merah ini dan alhamdulillahnya mungkin sekarang udah final production sate merah dari Bakarjo, udah bisa dimakan di Bakarjo," kata Nata.
Sate Bakarjo ternyata diminati pelanggan. Pada hari kerja, ia bisa menyiapkan stok sekitar 400 tusuk sate. Jumlah ini melonjak hampir dua kali lipat saat akhir pekan, di mana ia harus menyiapkan 700 hingga 800 tusuk untuk memenuhi antusiasme pembeli.
Kerja keras meracik sate dari sore hingga tengah malam ini sukses menghasilkan omzet yang menjanjikan, yakni berkisar di angka Rp10 juta hingga Rp12 juta per bulannya.
Kini, Bakarjo mulai dikenal karena keunikannya. Sate merahnya menjadi magnet bagi mereka yang bosan dengan rasa sate yang itu-itu saja. Nata seolah berhasil menciptakan pasar sendiri di tengah ketatnya persaingan kuliner malam di Bandung.
"Responsnya oke positif. Mereka ngerasa sate di Bakarjo itu nice dibanding sate yang lain, terutama di sate merahnya. Jadi orang-orang tuh apa sih, kadang mesti nanya sate merah tuh gimana sih. Jadi aku mau jelasin, sate merah itu sate yang dominannya lebih ke manis pedas. Itu asalnya bukan dari Bandung, sebenernya dari Jogja cuman dimodifikasi dengan lidah Bandung," ujar Nata.
Artikel ini sudah tayang di detikJabar dengan judul Gen Z Bandung Sulap Sate Merah Jadi Cuan Jutaan Rupiah
