TRIBUNBENGKULU.COM - Para siswa SMA Negeri 1 Purwakarta telah menyampaikan permohonan maaf kepada Syamsiah, guru yang mereka olok-olok.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu guru atas tindakan kami yang kurang berkenan. Kami menyadari kesalahan kami dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ungkap mereka yang diunggah akun Instagram @infojawabarat pada Sabtu (18/4/2026).
Syamsiah pun menerima permintaan maaf murid-muridnya itu.
“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya,
Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujar Syamsiah saat memberikan keterangan pada Senin (20/4/2026).
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat sedikit pun untuk membawa insiden ini ke ranah hukum.
“Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat,
Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” tuturnya.
Meski begitu, gelombang kritik dari warganet tetap mengalir deras.
Banyak pihak yang menilai tindakan tersebut sudah melampaui batas candaan.
Akun @shofwall_ yang mengaku sebagai seorang guru memberikan tanggapan keras di kolom komentar.
"Saya sebagai guru mengutuk keras kejadian ini tidak ada permintaan maaf yang harus diterima karena ini bukan lagi masuk lelucon atau candaan tapi ini penghinaan besar dan pelecehan martabat seorang guru," tulis akun tersebut.
Senada dengan hal itu, akun @muelkcima bahkan mengusulkan sanksi administratif yang berat bagi para siswa.
"Blacklist dari semua universitas / perusahaan saat mereka lulus," tulisnya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut memantau perkembangan kasus ini.
Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah telah memanggil orang tua para siswa yang bersangkutan.
Berdasarkan laporannya, orang tua siswa tersebut merasa sangat terpukul.
"Anak tersebut, orang tuanya sudah dipanggil ke sekolah, orang tuanya menangis merasa menyesal atas perilaku anaknya," kata Dedi Mulyadi dalam pernyataannya pada Sabtu (18/4).
Pihak sekolah sebenarnya telah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari.
Dedi Mulyadi Minta Diberi Sanksi
Namun, Dedi Mulyadi mengusulkan agar bentuk hukuman tersebut diubah menjadi sanksi sosial yang lebih nyata agar bisa membentuk karakter siswa.
"Saya memberikan saran, anak itu tidak diskorsing selama 19 hari. Ini saran, mudah-mudahan bisa digunakan,
Tetapi mendapatkan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari, dan membersihkan toilet,
Waktunya bisa satu bulan, bisa dua bulan, bisa tiga bulan, tergantung perkembangan anak itu," jelas pria yang akrab disapa KDM ini.
Dedi menegaskan bahwa tujuan utama pemberian hukuman bukanlah untuk menyiksa, melainkan untuk edukasi.
"Prinsipnya dasarnya adalah, setiap hukuman yang diberikan harus bermanfaat bagi pembentukan karakter," tuturnya.
Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Agus Marzuki, juga menyatakan kekecewaannya.
Ia menilai tindakan siswa di sekolah unggulan tersebut telah mencederai program pendidikan karakter Gapura Panca Waluya yang digalakkan di Jawa Barat.
"Terlepas dari alasan apapun, apalagi jika hanya dianggap sebagai ekspresi di dalam kelas, ketika sudah masuk ke ruang publik, tindakan itu menjadi tidak etis dan melanggar norma," ungkap Agus.
Ia juga memperingatkan dampak jangka panjang dari perilaku tersebut di era digital.
"Hal kecil yang dianggap biasa bisa meninggalkan jejak yang dalam. Ini harus menjadi perhatian bersama," tutupnya.
Kronologi di balik video viral
Insiden ini terjadi pada Kamis (16/4/2026) di kelas XI IPS, tepat setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) mengenai pengolahan makanan selesai.
Syamsiah mengaku saat itu ia hanya fokus menjaga ketertiban kelas dan tidak menyadari jika tindakan provokatif siswa tersebut direkam.
“Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain,” jelasnya.
Meski sempat merasa sedih secara manusiawi, Syamsiah memilih untuk menguatkan diri melalui keikhlasan.
Ia menganggap luka hati yang muncul dapat disembuhkan dengan komitmennya untuk menyelamatkan masa depan anak didiknya.
Evaluasi Sistem dan Pengaruh Lingkungan Digital
Peristiwa ini juga menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Pendidikan Jawa Barat, terutama terkait pengaruh penggunaan ponsel di lingkungan sekolah.
Purwanto menilai, ekspresi spontan siswa yang terekam dan tersebar luas tidak lepas dari budaya digital yang semakin kuat.
Ke depan, pembinaan karakter akan diperkuat dengan fokus pada nilai empati, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap guru. Langkah ini diharapkan mampu mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Kasus ini bukan sekadar insiden viral, melainkan cerminan tantangan serius dalam dunia pendidikan.
Di balik sanksi dan evaluasi, ada kebutuhan mendesak untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar tentang menghormati guru dan menjaga etika di ruang belajar.
Sumber: TribunTrends