TRIBUNNEWSMAKER.COM - Peristiwa yang menimpa seorang guru di SMAN 1 Purwakarta, Syamsiah, menjadi sorotan publik setelah beredarnya video yang memperlihatkan perilaku tidak pantas dari sejumlah siswa terhadapnya.

Dalam rekaman tersebut, tampak beberapa siswa menunjukkan gestur tidak sopan seperti mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah kamera saat sang guru sedang membelakangi mereka.

Sosok Syamsiah, yang akrab disapa Bu Atun, diketahui merupakan pengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang telah lama mengabdikan diri di dunia pendidikan.

Selama lebih dari dua dekade, tepatnya sejak tahun 2003, ia telah mendedikasikan waktunya untuk mendidik generasi muda dengan penuh kesabaran.

Ironisnya, kejadian tersebut berlangsung tanpa sepengetahuan dirinya, sehingga ia tidak menyadari bahwa momen itu direkam dan kemudian viral di media sosial.

"Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama.

Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain," ungkap Syamsiah, menjelaskan kronologi kejadian yang membuatnya terkejut.

Peristiwa ini tentu meninggalkan luka emosional, terlebih mengingat hubungan guru dan murid yang seharusnya dilandasi rasa hormat.

Meski begitu, Syamsiah memilih untuk tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.

Ia berusaha menguatkan dirinya dengan berpegang pada nilai-nilai keimanan yang selama ini menjadi pegangan hidupnya.

"Sedih itu manusiawi, tapi keimanan saya jadikan obat untuk menyembuhkan luka hati, agar anak-anak saya selamat dunia akhirat," tuturnya dengan penuh keteguhan.

Pengalaman pahit ini diakuinya sebagai kejadian pertama selama 23 tahun berkarier sebagai guru.

Sikap bijak dan ketegaran Syamsiah pun menuai simpati banyak pihak, yang berharap kejadian serupa tidak terulang di lingkungan pendidikan.

Baca juga: Pengakuan Guru Culik Murid SD di Sumedang, Kenal dari Aplikasi Kencan, Ditangkap saat Bonceng Korban

WAWANCARA - Guru PKN SMAN 1 Purwakarta, Syamsiah, saat memberikan keterangan terkait insiden dugaan pelecehan oleh sejumlah siswa. Ia memilih memaafkan dan tetap berkomitmen membina karakter anak didiknya agar menjadi generasi berakhlak. ((Ist)/Tribun Jabar/Deanza Falevi)

Maafkan dan Doakan Siswa

Syamsiah mengaku telah memaafkan para siswa yang terlibat dalam video yang viral tersebut.

Bukan hanya memaafkan, Syamsiah juga mendoakan mereka agar bisa menyadari kesalahan serta menjadi pribadi yang berakhlak baik.

"Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya," katanya.

"Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak," tutur Syamsiah.

Syamsiah juga menegaskan bahwa ia tidak memiliki sedikit pun niat untuk melaporkan siswa-siswanya.

Bagi Syamsiah, tujuan utamanya sebagai pendidik adalah membimbing dan memperbaiki perilaku anak didik, bukan menghukum.

"Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat," katanya.

Menurut Syamsiah, kenakalan siswa tidak bersifat permanen. Ia meyakini setiap anak memiliki peluang untuk berubah menjadi lebih baik, selama diberikan bimbingan dan kesempatan.

"Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses," ujarnya.

Terkait peristiwa di kelas, Syamsiah menjelaskan bahwa dirinya hanya berupaya menegakkan aturan dan menjaga kenyamanan siswa lain saat proses pembelajaran berlangsung. 

Ia juga berusaha tetap adil dengan menghargai hak seluruh siswa.

Ia menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu, yang menurutnya harus menjadi dasar utama bagi setiap siswa.

"Adab itu hal utama. Saya selalu tanamkan pendidikan karakter, tapi mungkin belum sepenuhnya sampai. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing," katanya.

Syamsiah berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, sekaligus momentum untuk memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

"Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak," ujarnya.

Baca juga: Nama Guru Honorer di Kuningan Dicatut untuk Beli Mobil Ferrari Rp4,2M, Korban Syok: Sangat Merugikan

SOAL PPA UMUM 2 - Ilustrasi guru. Soal dan Kunci Jawaban Post Test Modul 1 PPA Umum 2 PPG 2025, Pembelajaran Mendalam dan Asesmen.
 Ilustrasi guru.

Sanksi Sosial 3 Bulan

Sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat, mendapat sanksi sosial selama tiga bulan.

Kepala SMAN 1 Purwakarta, Sidik Tamsil, menyebut para siswa sudah mulai menjalani sanksi sosial tersebut sejak Senin (20/04/2026).

Mereka tetap diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar dan memperoleh hak sebagai pelajar.

"Setelah kejadian, kami langsung memanggil orang tua pada Sabtu lalu. Atas arahan Disdik Jabar dan Gubernur, disepakati sanksi pembinaan selama tiga bulan," katanya  kepada wartawan di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026).

Para siswa itu diminta membersihkan lingkungan sekolah, termasuk ruang kelas hingga fasilitas toilet.

"(Sanksi) ini akan dievaluasi berdasarkan perubahan sikap para siswa," ujar Sidik Tamsil.

Menurutnya, sanksi sosial ini rancang untuk membentuk karakter. 

"Mereka tetap belajar, tapi juga diberi tanggung jawab melalui kegiatan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari," ucapnya.

Di sisi lain, SMAN 1 Purwakarta pun berupaya meredam dampak sosial yang berpotensi muncul setelah kasus itu. 

Pasca video insiden tersebut viral, sembilan siswa itu menjadi sorotan publik dan rentan mengalami perundungan. 

Karena itu, sekolah mengedukasi siswa lain agar tetap menjaga sikap dan tidak memperkeruh suasana.

"Kami sudah melakukan pembinaan setelah apel pagi. Guru dan wali kelas diminta menenangkan siswa lain, agar tidak panik dan tetap menjaga lingkungan sekolah yang kondusif," kata Sidik Tamsil.

Sebagai langkah perlindungan, kesembilan siswa itu menjalani pembelajaran secara terpisah di ruang khusus. 

Kebijakan ini diambil untuk menjaga kondisi psikologis mereka sekaligus memastikan proses pendidikan tetap berjalan.

Sekolah, ucapnya, juga menggandeng psikolog untuk memberikan pendampingan. 

Selain itu, penggunaan gadget di lingkungan sekolah akan diperketat guna mencegah kejadian serupa terulang.

"Kami ingin memastikan mereka bisa melewati masa ini dengan baik. Pendampingan psikolog dan pembatasan penggunaan gadget menjadi bagian dari upaya pembinaan ke depan," ucap Sidik Tamsil.

(TribunNewsmaker.com/Tribunnews/  TribunJabar)

Baca Lebih Lanjut
Sosok Bu Atun Guru SMA Negeri 1 Purwakarta, 23 Tahun Mengajar Baru Pertama Kali Diledek Murid
Ardhi Sanjaya
Sosok Atun, Guru SMAN 1 Purwakarta yang Diacungi Jari Tengah Para Siswa, Kerap Menyantuni Murid
Talitha Daren
SOSOK Guru yang Diejek dengan Jari Tengah oleh Siswa SMAN 1 Purwakarta, Ternyata Baik dan Penyayang
Ahmadshalsamalkhaponda
REAKSI GURU Diledek Siswa dari Belakang di SMA Purwakarta, Sebut Murid Belum Terapkan Ilmu
Latif Ghufron Aula
Sosok Bu Atun Guru yang Viral Dibully Muridnya, 9 Anak Kena Skors, Dedi Mulyadi Sampai Ikut Bicara
Muslimah
Sosok Guru yang Viral Dihina Siswa SMAN 1 Purwakarta, Dikenal Tegas namun Penyayang, Alumni Geram
Seli Andina Miranti
Diacungi Jari Tengah, Guru Atun Sedih tapi Tetap Sayang ke Para Siswa, Dedi Mulyadi Usul Sanksi
Latif Ghufron Aula
Alasan Haru Bu Atun Maafkan Siswa SMA yang Mengolok-oloknya: Saya Ingin Mereka Selamat Dunia Akhirat
Jonisetiawan
Sosok Syamsiah, Guru di Purwakarta Maafkan dan Doakan Siswa yang Mengolok-oloknya
Rheina Sukmawati
Dipicu Perubahan Giliran Presentasi, Siswa SMAN 1 Purwakarta Olok-olok Guru Bu Atun 
Taryono